Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi, Badan Litbangkes Hadirkan “Sabu Saka”

153

Banjarnegara – Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) melalui Balai Litbangkes Banjarnegara mengembangkan program Satu Biyung Satu Kader (Sabu Saka) dalam pendampingan ibu hamil. Sabu Saka dilakukan sebagai langkah intervensi untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Banjarnegara.

Hasil penelitian ini disampaikan kepada para pemangku kepentingan di wilayah Kabupaten Banjarnegara dalam pertemuan “Advokasi Hasil Penelitian Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak Melalui Pendekatan Satu Biyung Satu Kader (Sabu Saka) di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020” pada Rabu (13/10/2021).

Penelitian dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan yang dihadapi Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan Riskesdas 2018, dari 35 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah diperoleh Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Kabupaten Banjarnegara menduduki posisi terendah.

“Berdasarkan Riskesdas 2018 Index Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Banjarnegara relatif masih perlu ditingkatkan terutama AKI dan AKB,” ungkap Nana Mulyana, Sekretaris Badan Litbangkes secara virtual.

Lebih lanjut Nana mengatakan bahwa tugas Badan Litbangkes termasuk UPT di Banjarnegara harus memberikan solusi alternatif dalam menyelesaikan masalah kesehatan termasuk di wilayah dimana UPT berada. Pengembangan model intervensi khususnya masalah AKI/AKB terus ditingkatkan.

“Penelitian ini memiliki daya ungkit yang cukup bagus. Adanya intervensi yang dilakukan dapat memberikan daya ungkit kepada ibu hamil yang didampingi para kader sehingga tidak ada kematian sama sekali,” tutur Nana.

Pendampingan Sabu Saka merupakan kegiatan pendampingan ibu hamil oleh kader mulai ibu dinyatakan hamil sampai melahirkan. Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil sehingga status kesehatan meningkat dan kematian ibu serta bayi dapat dicegah.

Menurut Nana model yang dikembangkan Balai Litbangkes Banjarnegara dapat menjadi sesuatu yang menggerakkan peningkatan kesehatan di Kabupaten Banjarnegara. Program Sabu Saka ini dapat menjadi solusi alternatif yang dapat direplikasi di semua wilayah puskesmas di Kabupaten Banjarnegara. Terlebih dengan adanya sumber daya yang tersedia di tingkat desa yang dapat dilibatkan. Nana pun mengapresiasi kepada Bupati Banjarnegara; Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana; serta Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara yang telah bersinergi bersama Badan Litbangkes dalam penelitian. Nana juga berharap Balai Litbangkes Banjarnegara dapat dioptimalkan dalam mengawal berbagai kebijakan yang terkait kesehatan, termasuk dalam pendekatan intervensi yang spesifik lokal. (Ripsidasiona)