Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Emerging and Re-emerging Infectious Diseases di Indonesia

2966

Jakarta – Badan Litbang Kesehatan menyelenggarakan Seminar Sehari “Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Emerging and Re-emerging Infectious Diseases” di Auditorium Siwabessy Kementerian Kesehatan (28/2). Secara simbolis pemukulan gong oleh Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek menandai dibukanya seminar ini secara resmi.

Dalam sambutannya Menteri Kesehatan mengatakan munculnya emerging dan re-emerging infectious diseases, tentunya tidak terlepas dari dinamika “segitiga epidemiologi”, yakni manusia sebagai host (penjamu), mikroba sebagai agen penyakit, hewan sebagai perantara penyakit, dan akhirnya lingkungan sebagai wahana untuk berkembangnya penyakit.

“Agar manusia tidak terkena penyakit infeksi, maka kita harus menjalankan lima tahapan pencegahan dengan optimal, yakni peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis dini, pengobatan yang tepat, dan rehabilitasi.”, jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Badan Litbang Kesehatan, Siswanto mengatakan bahwa terdapat pola tertentu pada penyakit yang perlu dikaji lebih mendalam sehingga menjadi lebih siap dalam menghadapinya. Ia menegaskan perlunya meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan penguatan pencegahan (to prevent), mendeteksi (to detect), dan bertindak (to respond).

Siswanto memberikan pemahaman emerging diseases sebagai infeksi baru yang belum dikenal dan menyebabkan masalah kesehatan, dua per tiganya bersumber dari hewan. Sementara re-emerging diseases adalah penyakit yang sudah menurun namun kemudian naik lagi, dan intractable infectious diseases adalah penyakit infeksi lama namun persisten dan sulit dikontrol.

Dari sisi pencegahan dan pengendalian, Asjikin Iman Hidayat Dachlan selaku Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit memaparkan mengenai one health sebagai pendekatan dalam pelayanan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu lintas sektor bersama masyarakat.

“Penerapan one health di tingkat nasional melibatkan sektor terkait antara lain Kemenkes, Kementan, Kemen-LHK, Kemendagri, Kemenko PMK dan BNPB. Sementara penerapan di tingkat global melibatkan organisasi internasional terkait yaitu WHO, FAO dan OIE.”, lanjutnya. (DW/Foto:EM)