Tiga Aspek Pelaksanaan SSGI 2021

404

Bekasi – Workshop Pendamping Teknis Provinsi Studi Status GIzi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Litbangkes, Dr. Nana Mulyana di Hotel Horison, Bekasi (27/05). Workshop ini diikuti 61 orang pendamping teknis yang terbagi dalam 5 korwil (koordinator wilayah) dengan metode pelatihan yang terbagi dua sesi yakni sesi luring (luar jaringan) dan sesi daring (dalam jaringan) dan dilaksanakan dari tanggal 27 Mei hingga 3 Juni 2021. 

Pendamping teknis yang berperan dalam penguatan teknis pelaksanaan studi di lapangan ditekankan pada tiga aspek. Sekretaris Badan Litbangkes kemudian menjelaskan bahwa tiga aspek ini, antara lain aspek ilmiah, aspek etik dan aspek protokol kesehatan. “Yang pertama, aspek ilmiah adalah bagaimana peran pendamping teknis ini nantinya sangat menentukan, jangan sampai di lapangan ada perbedaan persepsi dalam pengukuran karena ini sangat menentukan kualitas data” ujar Nana Mulyana.

Aspek kedua adalah aspek etik karena studi ini sendiri pada bulan April yang lalu telah lulus kajian dari Komisi Etik Badan Litbangkes yang artinya sudah secara legal dapat melakukan pengumpulan data lapangan. Sedangkan aspek yang terakhir adalah aspek protokol kesehatan yaitu bagaimana pelaksanaan riset skala nasional ini dapat mengikuti prokes (protokol kesehatan) yang ketat.

Dalam hal prokes, pada pelaksanaan workshop ini, para peserta yang nantinya hadir pula pada sesi luring pada tanggal 30 Mei diwajibkan melakukan tes swab antigen yang disediakan panitia pada saat kedatangan dan saat kepulangan ke daerah masing-masing. Bagi peserta juga disiapkan masker dan hand sanitizer.

Selain pendamping teknis, workshop melibatkan 12 orang tim perumus yang akan menjelaskan penduan teknis pelaksanaan studi dan 24 orang tim manajemen data yang menjelaskan panduan pengisian kuesioner, terlebih tahun ini untuk menjaga prokes, kuesioner yang biasanya berupa lembaran kertas beralih dengan menggunakan instrument android. Tentunya hal itu membutuhkan penguasaan teknis yang lebih mendalam. Pelaksanaan workshop ini merupakan elemen awal dalam implementasi pilar kelima penanganan stunting yakni pemantauan dan evaluasi. Sesuai amanah pemerintah, nantinya studi ini akan diadakan tiap tahun untuk memantau dan mengukur capaian penanganan stunting dari target yang telah ditetapkan dalam RMPJN 2020-2024 yakni prevalensi angka stunting turun menjadi 14 persen. (AF)