Tasikmalaya Sebagai Pilot Project Pencegahan Dan Penanggulangan Stunting

817

Tasikmalaya. Dihadiri oleh seluruh Kepala UPTD Kabupaten Tasikmalaya, Camat, MUI dan Lintas
Sektor lainnya dalam kegiatan Workshop Pencegahan Dan Penanggulangan Stunting di Kabupaten Tasikmalaya. Kepala
Bidang Kesehatan Masyarakat menyampaikan tingginya kasus stunting di Tasikmalaya tentunya memerlukan penanganan
yang serius di lintas sektor. Tujuannya untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian stunting di Tasikmalaya di
tingkat kabupaten, Kecamatan, hingga sampai di tingkat keluarga.

Asisten I Kab Tasikmalaya menyampaikan gambaran capaiaan pelayanan kesehatan sampai saat ini bergerak kearah yang
lebih baik, hal ini tercermin dari angka kematian ibu dan bayi semakin berkurang, namun capaian belum
menggembirakan pada data stunting atau pendek pada balita yang bergerak turun sangat lambat. Perhatian peran dan
dukungan pengambil kebijakan di setiap SKPD sangat diperlukan dan sangat dibutuhkan agar penurunan prevalensi
stunting dapat bergerak dengan cepat.

Dilanjutkan dalam sampaiannya bahwa banyak hal yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam rangka
penurunan stunting seperti : Gebyar pemberian tablet tambah darah pada remaja putri yang dilakukan sejak 2013 ,
Pembentukan kampung gizi di kampung karajo dan kampung bojong gambir sejak 2013, Konseling dan pemberian tablet
tambah darah pada calon pengantin sejak 2015 , PMT Ibu hamil kurang energi kronik dan anemia serta balita kurus
melalui program daerah dan bantuan dari Kemenkes, Gerakan inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
pada balita, pengembangan desa bebas buang air besar sembarangan (PHBS). Pemberian obat cacing, program gigi anak
sekolah bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan. Program baru yang saat ini akan dijalankan oleh
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya adalah pemberian PMT ibu hamil menggunakan pangan lokal dan keterlibatan
pemberdayaan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyadari bahwa melalui program yang telah dilakukan belumlah cukup mampu
menurunkan stunting secara cepat. Ucapan terima kasih adanya perhatian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan
dalam hal ini Badan Litbang Kesehatan melalui suatu riset implementatif tentang kampung gizi yang berupaya
menggerakkan seluruh sektor dan lembaga mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan sampai tingkat desa dan
masyarakat dalam upaya penurunan stunting di kabupaten Tasikmalaya. Gerakan kampung gizi yang dilakukan beberapa
waktu cukup memberikan perubahan positif tentang apa itu stunting dan bagaimana peran dari masing – masing sektor
dalam upaya mempercepat penurunan stunting. Dalam upaya peningkatan integrisasi dan koordinasi lintas sektora,
maka Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sudah berupaya membuat rancangan Perbup tentang Tim Koordinasi Upaya
Pencegahan Dan Penanggulangan Stunting yang mengatur tentang peranan dari masing – masing sektor dan lembaga.

Harapan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui gerakan kampung gizi tidak hanya dilakukan di tiga kecamatan
saja, tetapi di seluruh wilayah kecamatan dan desa se kabupaten tasikmalaya. Mudah – mudahan gerakan kampung gizi
ini akan mempercepat tercapai nya tujuan kita bersama.

Kementerian Kesehatan dalam hal ini Badan Litbang Kesehatan dan Direktorat Gizi Masyarakat turun gunung
memastikan bahwa gerakan pencegahan dan penanganan stunting yang ditetapkan pada 100 kabupaten kota dimana salah
satunya adalah kabupaten Tasikmalaya bisa berjalan dengan baik. Siswanto selaku Kepala Badan Litbang Kesehatan
menyampaikan 3 point penting yang harus diperhatikan adalah yang pertama adalah penyamaan persepsi terhadap
pengertian stunting, kedua apa penyebabnya, dan yang ketiga bagaimana melakukan sebuah gerakan melalui kampung
gizi.

Siswanto menjelaskan jika bicara stunting maka sebenarnya adalah kurangnya gizi kronik artinya tumbuh secara
lamban, seorang ibu yang memiliki bayi saja tidak tahu apakah anaknya mengalami stunting atau tidak karena tiap
hari bersama anaknya, pembanding baru terlihat ketika ada anak lain yang seumuran. Stunting bukan penyakit hanya
saja faktor pertumbuhan yang melambat.

Selama ini cara kerja di Posyandu biasanya hanya mengukur bayi pada berat badannya, berat badan terhadap umur
dipetakan di KMS, akan terlihat pada posisi apakah masuk kedalam kategori normal, obesitas, gizi buruk atau gizi
kurang. Sebenarnya itu saja tidak cukup karena yang dimaksud pertumbuhan itu adalah bertambah umur, bertambah
berat badan, tetapi juga panjang badan bertambah. Jika hanya berat badannya yang bertambah maka akan
mengakibatkan obesitas, obesitas salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit tidak menular. Yang benar adalah
berat badan terhadap umur dilihat dan tinggi badan terhadap umur dilihat dan berat badan terhadap tinggi badan.
Ke depan posyandu sebagai tempat pemantauan pertumbuhan bayi, ibu – ibu kader di posyandu akan disegarkan dengan
memberikan penyegaran konsep agar faham, melihat berat badan tinggi badan juga dilihat dan ujungnya adalah berat
badan terhadap tinggi badan.

Penyebab stunting itu mulai dari kandungan sampai usia bayi 2 tahun, ibu sebagai produsen seharusnya telah
disiapkan semenjak remaja, remaja tidak boleh kurang gizi, remaja juga harus diberikan tablet tambah darah
minimal seminggu sekali, berikutnya pada saat hamil, si ibu harus mendapatkan nutrisi yang cukup, oleh karena itu
ibu hamil harus mendapatkan 1,5 jatahnya lebih bayak ketika tidak hamil, karena kebutuhannya ada dua untuk ibu
sendiri dan bayi yang ada didalam kandungannya. Ibu yang pendek bisa saja mendapatkan anak yang tinggi asal saja
kebutuhan pada janin terpenuhi. Setelah ibu melahirkan bayi hingga 2 tahun, interaksi ini harus dijaga tidak
hanya pada bayinya bahkan juga pada ibunya, seberapa sering ibunya memberikan asi, karena ibunya menyusui hingga
hampir 2 tahun, ibunya harus mendapatkan makanan yang bergizi. Jadi interaksi antara ibu dan bayi harus menjadi
satu kesatuan dan terus dipelihara.

Intervensi terhadap stunting tentu berbeda dengan gizi buruk, jika pada gizi buruk diberikan asupan PMT, pada
stunting sangat kompleks sehingga intervensinya tidak bisa berfokus pada satu penyebab tetapi lebih kepada
pemberdayaan keluarga.

Stunting juga berhubungan dengan stimulasi artinya sejak bayi dilahirkan hingga berumur 2 tahun harus dilatih.
Banyak saat ini ibu yang bekerja menjadi seorang TKW dan anak diasuh oleh neneknya juga dapat menjadi penyebab
terjadinya stunting. Semuanya termasuk dalam faktor – faktor spesifik yang menjadi tugas Kementerian Kesehatan.
Tetapi ada faktor lain yang sangat berpengaruh misalnya apakah ketahanan pangan keluarga ada atau tidak atau
disebut makanan bergizi, apakah keluarga termasuk keluarga miskin ini hubungannya pada Kementerian Sosial, dan
lain sebagainya. Intinya adalah permsalahan stunting dapat dicari solusi dengan mengeroyok atau konvergensi dari
semua lintas sektor.

Tasikmalaya menjadi pilot project dengan mengeroyok secara bersama – sama dengan harapan masalah ini mendapatkan
solusi, jika program ini sukses akan menjadi contoh bagi desa – desa lain untuk menerapkan keberhasilannya.
Harapan program kampung gizi ini mendapatkan cantolan berupa Perda atau kebijakan baik di tingkat kecamatan
hingga desa. Inti dari intervensinya ada di tingkat keluarga dan wadahnya ada di posyandu dan melibatkan kader
kesehatan.

Dodi Izwardi, Direktur Gizi Masyarakat mengatakan bahwa konvergensi dilakukan dengan memastikan intervensi-
intervensi yang relevan untuk pencegahan stunting, baik intervensi gizi spesifik maupun gizi sensitif, secara
simultan mensasar wilayah (kabupaten/desa) yang sama. Untuk tahun 2019, wilayah prioritas percepatan pencegahan
stunting mencakup 1.600 desa yang terdapat dalam 160 kabupaten. Konvergensi dilakukan untuk memastikan intervensi
program/kegiatan yang didanai oleh apbn dan apbd dapat secara efektif mencegah stunting.

Konvergensi program intervensi stunting diperlukan karena melihat kontribusi keberhasilan pencegahan stunting
terhadap gizi spesifik hanya 30%, selebihnya pada gizi sensitif 70%, artinya ada kegiatan pembangunan di luar
sektor kesehatan dengan sasaran masyarakat umum dan bersifat jangka panjang. Dalam hal kegiatan, intervensi gizi
sensitif dapat dilakukan dengan menyediakan dan memastikan akses pada air bersih dan sanitasi, melakukan
fortifikasi bahan pangan, mengediakan akse kepada layananan kesehatan dan keluarga berencana, menyediakan jaminan
kesehatan nasional, jaminan persalinan universal, memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua, memberikan
pendidikan anak usia dini universal dan gizi masyarakat, memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi dan
gizi pada remaja, menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin, dan meningkatkan ketahanan pangan
dan gizi. (Ilal)

Semua hal ini diharapkan menjadikan para peneliti Badan Litbangkes semakin eksis di dunia maya. (Chan).