Tantangan Mengubah Perilaku Masyarakat untuk Hidup Sehat di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

148

Jakarta – Badan Litbangkes kembali menggelar Roundtable Discussion Pembahasan Rekomendasi Hasil Litbangkes pada Kamis, 3 September 2020. Pertemuan yang diselenggarakan di kantor Badan Litbangkes ini membahas topik Peran Media bagi Masyarakat untuk Berperilaku Sehat dalam Menjalani Adaptasi Kebiasaan Baru.

Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Doddy Izwardy mengemukakan hasil penelitian pada 1.807 responden mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia. “Sekitar 70 persen responden memiliki pengetahuan yang benar, sikap yang baik, dan perilaku yang tepat dalam mencuci tangan. Artinya masih ada sekitar 30 persen yang memerlukan intervensi agar mau mengubah perilakunya.”, ujarnya.

Lebih lanjut Doddy menuturkan bahwa 87 persen responden sudah memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik dalam pemakaian masker. Masih terdapat 13 persen responden yang belum memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang tepat.

Menurut Doddy, penelitian ini juga mengungkap perilaku masyarakat dalam mengakses media informasi. Media sosial banyak diakses oleh kelompok umur antara 15 sampai dengan 54 tahun. Semakin usia beranjak tua, semakin jarang akses terhadap media sosial dan beralih ke media elektronik.

Doddy juga menyampaikan rekomendasi dari Tim Peneliti bahwa pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan evaluasi media komunikasi, informasi, dan edukasi yang telah disebarkan di masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan informasi di masyarakat melalui media sosial maupun media elektronik baik pada remaja, dewasa, dan lanjut usia. Selain itu juga penting untuk mengetahui pesan kunci yang perlu disesuaikan.

Para pemangku kepentingan menyambut baik hasil penelitian ini. Marlina, Kepala Sub Direktorat Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, mengatakan bahwa sebagian masyarakat kita tidak memiliki akses terhadap media komunikasi, informasi, dan edukasi. “Peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku ini perlu didukung pendampingan.”, katanya.

Disisi lain, Ina Agustina, Kepala Bidang Pencegahan, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menyoroti pada peran influencer, yang tidak hanya menyampaikan pesan-pesan edukasi. Namun harus dapat menunjukkan perilaku patuh pada protokol kesehatan dalam kesehariannya. (Dian Widiati)