Tak Hanya Pencatatan, ApDet Stunting Hadirkan Pemecahan Masalah

666

Bekasi, Badan Litbangkes mengembangkan sistem cerdas bernama ApDet Stunting, yaitu aplikasi determinan stunting. ApDet stunting dikembangkan oleh tim peneliti Badan Litbangkes dengan ketua pelaksana Mohammad Safrizal, Pranata Komputer Ahli Pertama Sekretariat Badan Litbangkes. Bersama timnya, Safrizal mengembangkan aplikasi ini dengan mempertimbangkan banyak aspek yang mempengaruhi stunting.

ApDet Stunting adalah aplikasi yang lahir dari Riset Iptekkes Badan Litbangkes, yaitu sebuah riset kompetitif yang diberikan kepada peneliti kesehatan untuk melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan kesehatan.

Pada pertemuan Sosialisasi dan Simulasi ApDet Stunting yang digelar di Bekasi, Safrizal mengungkap bahwa aplikasi yang dikembangkannya ini bukan hanya melakukan pencatatan dan pelaporan. “ApDet Stunting berbeda jika dibandingkan aplikasi lainnya. Aplikasi yang kami bangun ini mengolah, menganalisis, serta memberikan pemecahan masalah,” ujar Safrizal.

Lebih lanjut Safrizal menuturkan bahwa ApDet Stunting setidaknya memiliki 6 kekuatan. Pertama,  ApDet Stunting memiliki fleksibilitas terhadap pengguna, penggunaan data, dan analisisnya. Selain itu aplikasi ini dapat diterapkan diseluruh wilayah dalam berbagai level, baik level nasional maupun level yang lebih kecil, bahkan sampai lokus.

Kekuatan yang ketiga, aplikasi ini juga menyediakan indikator acuan umum yang bersumber dari berbagai peraturan, mulai dari Keputusan Presiden hingga peraturan daerah. Ke empat aplikasi ini menghasilkan output berupa indikator berpengaruh. Kelima, dapat dijadikan rujukan arah kebijakan dalam mengatasi permasalahan stunting. Dan yang ke enam adalah sebagai bentuk evaluasi terhadap kebijakan yang telah dilakukan.

Lahirnya aplikasi ini disambut baik oleh Plt. Kepala Badan Litbangkes, Dr. Nana Mulyana. Dalam sambutannya, Nana mengatakan bahwa lahirnya ApDet Stunting sejalan dengan transformasi kesehatan yang saat ini sedang bergulir di Kementerian Kesehatan, yaitu transformasi teknologi kesehatan. Nana berharap ApDet Stunting ini dapat dimanfaaatkan untuk mendeteksi determinan stunting.

Selaku reviewer penelitian ini, Prof. Dede Anwar Musadad mengatakan bahwa ApDet Stunting bersifat dinamis yang dapat digunakan sebagai corong riset-riset yang berkaitan dengan gizi. “Aplikasi ini bisa benar-benar meng-update kondisi stunting dengan berbagai faktor risikonya,” ujar Prof. Anwar.

Pemanfaatan ApDet Stunting disambut baik oleh pemangku kebijakan yang hadir dalam pertemuan ini, Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Depok menyampaikan bahwa untuk dapat diimplementasikan, aplikasi ApDet Stunting harus disosialisasikan dahulu di lingkungan Pemerintah Kota Depok. “Dapat diujicobakan dibeberapa lokus. Kita lihat pemanfaatannya seperti apa. Jika bermanfaat dapat diterapkan di lokus lainnya,” ujarnya. (DW)