Studi untuk Evaluasi Penanggulangan Stunting

200

Jakarta– Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Slamet memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tingkat Pusat Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2020 Rabu (4/11/2020) di Jakarta. Acara dihadiri Direktur Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei Badan Pusat Statistik (BPS), Pimpinan Satuan Kerja di lingkungan Balitbangkes, Ketua Manajemen dan Tim Teknis SSGI, Tim Manajemen Korwil, Penanggung Jawab Teknis (PJT) Provinsi dan Kabupaten/kota. 

Slamet selaku Kepala Balitbangkes mengungkap SSGI tahun 2020 merupakan bentuk dukungan untuk proyek prioritas penanggulangan stunting. Ada tujuh kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan di tahun 2021 yang akan dilakukan yakni  penguatan jaminan kesehatan nasional, peningkatan kesehatan ibu anak yang difokuskan pada penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), percepatan perbaikan gizi masyarakat termasuk pencegahan stunting, peningkatan pengendalian penyakit termasuk  TB dan Covid-19 serta penguiatan health security dalam penanganan pandemik. Lainnya, penguatan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), peningkatan sistem kesehatan nasional termasuk akses pelayanan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan serta obat dan alat kesehatan, kemudian penanganan dan pengurangan risiko krisis kesehatan

Slamet juga menekankan pentingnya lima pilar untuk percepatan penurunan stunting yaitu  komitmen pimpinan tinggi dari presiden, gubernur, bupati/walikota, camat, hingga kepala desa/lurah. Adanya strategi perubahan perilaku, baik perilaku pejabat pemerintah maupun perilaku masyarakat. Konvergensi kementerian dan lembaga serta program penguatan ketahanan pangan dan gizi, khususnya penyediaan pangan dan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Penguatan monitoring melalui kegiatan surveilans dan evaluasi melalui kegiatan riset atau survei.

Kepala Balitbangkes berharap pada Rakornis ini, semua pihak dapat memahami pelaksanaan SSGI 2020 sesuai peran masing-masing. Khususnya PJT Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat memahami mengenai updating rumah tangga. Nantinya diharapkan mengajarkan kepada petugas di lapangan. 

Slamet menekankan akan komitmen untuk mensukseskan pelaksanaan SSGI 2020 dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan khususnya kegiatan di lapangan. Patuhi setiap pedoman dan protokol kesehatan yang telah disusun oleh tim teknis, tim mandat dan tim manajemen. Koordinasi dan perijinan di lapangan harus jelas, baik dengan dinas kesehatan, Gugus Tugas Covid-19 dan RT/RW. Lakukan pengawasan terhadap kedisplinan enumerator  menggunakan alat perlindungan diri (APD) dan menjalankan protokol kesehatan. “Jaga kualitas data”, ungkap Slamet lebih lanjut. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat Doddy Izwardy mengemukakan tujuan dilaksanakan SSGI di tahun 2020 untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita dan determinan status gizi pada masa pandemi covid-19. Studi ini secara khusus diadakan untuk mendapatkan informasi tentang perilaku pemantauan pertumbuhan penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan/tinggi badan, dan lingkar lengan atas (LILA) pada masa pandemi covid-19 sekaligus memperoleh informasi mengenai determinan status gizi balita yaitu pola konsumsi pangan, pola penyakit infeksi, perilaku imunisasi, akses ke pelayanan kesehatan, kondisi ekonomi keluarga, dan kondisi sanitasi dan lingkungan pada masa pandemi covid-19.

“Pengumpulan data dilakukan di 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota di seluruh Indonesia”, jelas Doddy Izwardy.  Studi ini melibatkan 2500 blok sampel atau 2500 rumah tangga Balita. Data yang dikumpulkan akan menghasilkan data atau angka nasional. (Fachrudin Ali Ahmad)