Solidarity Trial, Simbol Semangat Kebersamaan dan Kesatuan dalam Melawan Covid- 19

1034

Jakarta Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi meresmikan pelaksanaan riset kegiatan uji klinis yang disebut juga sebagai Solidarity Trial di Indonesia pada Kamis 23 April 2020. Peresmian ini dilakukan melalui video conference yang diikuti oleh para anggota Solidarity Trial Indonesia, perwakilan World Health Organization (WHO) Jakarta, The Indonesian Association for the Study of Medical (IASMED), Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes).

Melalui Solidarity Trial yang merupakan program WHO diharapkan dapat menegakkan kesahihan terhadap uji klinis empat alternatif terapi yang berpotensi menyembuhkan virus corona”, ujar Oscar saat meresmikan dimulainya riset ini.

Oscar berharap dengan adanya Solidarity Trial akan menjadi bagian penting perjalanan pengobatan, ketahanan kesehatan terutama dalam menghadapi pandemik Ccovid -19.

Pada kesempatan ini, Plt. Kepala Badan Litbangkes, Prof. Abdul Kadir mengatakan Solidarity Trial atau uji solidaritas merupakan uji klinis yang dilaksanakan secara internasional terhadap empat jenis obat yang diadaptasi (repurposed) untuk Covid -19. Keempat jenis obat tersebut adalah Remdesivir, Lopinavir/Ritonavir, Interferon (β1a), dan klorokuin/hidroksiklorokuin.

Lebih lanjut Prof. Abdul Kadir menerangkan, Solidarity Trial melibatkan setidaknya lebih dari 100 negara di dunia, dimana Indonesia merupakan negara ke-6 yang telah memulai pelaksanaan risetriset ini. Badan Litbangkes melalui Pusat Litbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan mengoordinasikan riset ini untuk memastikan pelaksanaan Solidarity Trial di Indonesia berjalan sesuai standar.

“ Keterlibatan Badan Litbangkes (cq. Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan) sebagai koordinator karena dianggap mampu melaksanakan uji klinis. Ini dibuktikan dengan banyaknya pengalaman dalam riset-riset klinis yang melibatkan Rumah Sakit melalui Jejaring Penelitian Klinis yang disebut Indonesia Clinical Research Center (INCReaseIndonesia Clinical Research Center)”, tutur Prof. Kadir. .

Kepala Pusat Litbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Irmansyah selaku Ketua Pelaksana riset ini mengaku menerima banyak dukungan dan bantuan terhadap riset ini. Dukungan dan bantuan antara lain diperoleh dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, BPOM, Gugus Tugas Covid-19, Komisi Etik Badan Litbangkes, Kantor Bea dan Cukai, IASMED dan WHO Jakarta.

Hingga kini telah ada sebanyak 22 RS rumah sakit yang terlibat dalam riset uji klinis ini, sebagai berikut :

  1. RSPI Sulianti Saroso, Jakarta
  2. RSUP H. Adam Malik, Medan
  3. RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung
  4. RSUP Dr. Soetomo, Surabaya
  5. RS Univ. Udayana, Bali
  6. RSUP Dr. Kariadi, Semarang
  7. RSUD Ambarawa, Semarang
  8. RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta
  9. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  10. RSUD Dr. Moewardi, Solo
  11. RSUP Persahabatan, Jakarta
  12. RSUP Prof. Dr. Kandou, Manado
  13. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
  14. RSJ Prof. Soerojo, Magelang
  15. RSUP Dr. M. Djamil, Padang
  16. RS Univ. Airlangga, Surabaya
  17. RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru
  18. RSUD Dr. Achmad Mochtar, Bukit Tinggi
  19. RSUD Dr. Saiful Anwar, Malang
  20. RS YARSI, Jakarta
  21. RSPAU Dr. Esnawan Antariksa, Jakarta
  22. RSUP Sanglah, Bali. (Evi Suryani/Ed: Dian W)