Selisih Satu Senti Saja Beda Makna

445

Surabaya – Kepala Badan Litbang Kesehatan, Siswanto menekankan pentingnya proses pengukuran yang benar pada saat pengumpulan data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI). Pesan ini disampaikan Siswanto dalam workshop enumerator Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di Jawa Timur (30/3).

“Terutama pada balita yang belum bisa berdiri, selisih satu centimeter saja boleh jadi merubah dari yang tidak stunting menjadi stunting atau kebalikannya. Akibatnya intervensi menjadi berbeda”, tuturnya.

Lebih lanjut Siswanto mengatakan pemerintah telah menetapkan bahwa akselerasi penurunan stunting menjadi prioritas terkait dengan peningkatan sumberdaya manusia (SDM). Kerugian akibat stunting setelah dihitung oleh Bank Dunia dengan pendapatan domestik bruto Indonesia, diperkirakan sebesar 300 trliun rupiah per tahun.  Angka ini sama dengan 15% dari total APBN.

Pemerintah sejak tahun 2017 telah melakukan proritas terhadap penurunan stunting yang  diterapkan di 160 kota, harapannya untuk mendapatkan status gizi yang tinggi dan baik. Sistem konvergensi ditujukan supaya sumber daya yang ada pada semua elemen misalnya Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah/Lembaga/Organisasi bisa difokuskan. Itulah yang akan dievaluasi dalam studi ini, apakah program ini berhasil atau tidak.

Survei Status Gizi Balita ini merupakan cita-cita kita semua untuk menciptakan one data, sehingga survei ini diintegrasikan Susenas Maret 2019 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).  Siswanto mengamanatkan agar jangan sampai data yang sudah dikumpulkan oleh BPS menjadi dropout, artinya tidak dapat diambil untuk memperoleh data stunting.

“Koordinasi dengan teman-teman lapangan harus baik. Jangan sampai kegiatan ini dikaitkan dengan isu-isu kampanye. Perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa kegiatan SSGBI ini adalah program percepatan penurunan stunting.”, ujarnya.

Pada kesempatan ini Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso menyampaikan bahwa yang paling penting adalah objektivitas data yang dikumpulkan karena berkaitan dengan tindakan intervensi yang harus dilakukan. Ia juga menyatakan dukungan penuh atas pelaksanaan SSGBI ini.

“Jika enumerator mendapatkan kesulitan dalam proses kegiatan pengumpulan data, agar dapat melaporkan kepada kami agar kegiatan ini dapat berlangsung sesuai harapan kita bersama”, ungkapnya.

Di akhir pertemuan ini dilakukan penyematan tanda pengenal para enumerator yang akan bertugas dan turun lapangan dalam rangka pengumpulan data SSGBI oleh Kepala Badan Litbangkes. (ms)