Tepatnya 12 Desember 1975 lahirlah suatu lembaga penelitian kesehatan nasional yang berada di bawah Depkes RI dengan nama Badan Litbang Kesehatan berdasarkan Keppres Nomor 44 dan 45 tahun 1974 dan di tindak lanjuti dengan keluarnya Keputusan Menteri Kesehatan RI No 114/1975 mulailah Badan Litbang Kesehatan berkiprah dalam pembangunan kesehatan nasional di bidang penelitian dan pengembangan iptek kesehatan.

Proses berdirinya Badan Litbang Kesehatan ini sebenarnya tidak hanya oleh adanya aspek legal yang ditetapkan Pemerintah, namun mempunyai perjalanan panjang sejalan dengan proses pembangunan kesehatan setelah Indonesia merdeka. Secara historis, di tahun 1950-an telah dibentuk Lembaga Makanan Rakyat dan Lembaga Pusat Penyelidikan Pemberantasan Penyakit Kelamin (LP4K). Lembaga penelitian yang sudah berkiprah sejak zaman kolonial, Lembaga Eijkman, juga sudah di perhitungkan posisinya. Namun karena huru-hara politik di dekade 1960-an, lembaga ini gulung tikar, dan tahun 1990 Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dihidupkan kembali.

Di Surabaya, sudah berdiri Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin (LP4K). Empat Belas tahun kemudian, Lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Kesehatan Nasional dengan tugas utama melakukan semua penelitian yang di perlukan Depkes.

Di dekade 60-an, juga terdapat Lembaga Farmasi Nasional dan Lembaga Kanker Nasional, sebuah unit dibawa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kemudian di serahkan ke Depkes. Kini, Lembaga Kanker menjadi bagian dari Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo, Jakarta.

Setelah keberhasilan menaklukan pes di Boyolali, ide tentang pentingnya lembaga penelitian yang kuat untuk menunjang pembangunan kesehatan nasional semakin santer dibicarakan.

Adalah Julie Sulianti Saroso, guru besar Univeritas Airlangga, motor dari peneliti kesehatan di negeri ini, dan di tangannya lahir sebuah “pusat pikir” kesehatan Indonesia, dengan nama Lembaga Riset Kesehatan Nasional (LRKN). Sebelumnya, Direktur Jendral Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian Penyakit Menular (P4M) menjadi ketua Dewan Riset Kedokteran dengan Sekretaris, Soemarlan.

Laboratorium Kesehatan Pusat, cikal bakal dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, dan Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan juga terlahir menunjang kebutuhan penelitian kesehatan yang makin meningkat.

Desakan semakin besar untuk hadirnya sebuah lembaga riset kuat dan sentral. Dewan Riset Kedokteran mengubah nama menjadi Lembaga Riset Kesehatan Nasional (LRKN) dan kemudian pada tahun 1975 menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan ( Badan Litbangkes).

Lihat Buku Profil Virtual

 

Visi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) adalah sebagai Lokomotif Penelitian, Pengawal Kebijakan dan Legitimator Program Pembangunan Kesehatan berbasis bukti. Visi ini memberikan gamabaran bahwa Badan Litbangkes sebagai unit utama Kementerian Kesehatan yang bertugas untuk melaksanakan litbang kesehatan dan sekaligus salah satu institusi nasional iptek, memiliki peran dan tanggung jawab dalam menata arah, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan kesehatan.

Dalam menjalankan peran sesuai visi, Badan Litbangkes memiliki misi berupa :

  1. Mengembangkan sumber daya litbangkes
  2. Mengembangkan kerjasama strategis litbang dan iptek kesehatan
  3. Menghasilkan rekomendasi untuk pembangunan kesehatan
  4. menghasilkan iptek kesehatan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 64 Tahun 2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Badan Litbangkes mempunyai fungsi:

  • Penyusunan kebijakan teknis penelitian dan pengembangan dibidang biomedik dan epidemiologi klinik, upaya kesehatan masyrakat, pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat kesehatan, sumber daya manusia, dan humaniora kesehatan;
  • Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kesehatan dibidang biomedik dan epidemiologi klinik, upaya kesehatan masyrakat, pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat kesehatan, sumber daya manusia, dan humaniora kesehatan ;
  • Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian dan pengembangan kesehatan dibidang biomedik dan epidemiologi klinik, upaya kesehatan masyrakat, pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat kesehatan, sumber daya manusia, dan humaniora kesehatan;
  • Pelaksanaan administrasi Badan; dan
  • Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan merupakan suatu unit setingkat Direktorat Jenderal yang menjadi bagian dari struktur Kementerian Kesehatan dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kesehatan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 64/2015. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan terdiri dari Sekretariat Badan dan 4 (empat) Pusat yang bekerja dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Di bawah itu terdapat beberapa Satuan Kerja (Satker) yaitu Balai Besar, Balai dan Loka.

 

Daftar Pejabat Badan Litbangkes

No.JabatanNamaFotoNo. Telepon/HPProfil
1Kepala Badan Litbangkesdr. Siswanto, MPH, DTMDSC_2326a0811335017
2Sekretaris Badan LitbangkesDR. Nana MulyanaIMG_681kjk2
3Kepala Pustlitbang Biomedis dan Teknologi Dasar KesehatanDrg. Agus Suprapto, M.Kes08123195472
4Kepala Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan KesehatanDr. dr. Irmansyah, SpKJ(K)
5Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan MasyarakatDR. dr. Vivi Setiawaty
6Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen KesehatanSugianto, SKM, MSc.PH081312695272
7Kepala Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit SalatigaJoko Waluyo, MSc.PH085257826500
8Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional TawangmanguAkhmad Saikhu, M.Sc.PH
9Kepala Balai Litbangkes MagelangDR. Suryati Kumorowulan
10Kepala Balai Litbangkes DonggalaMuh. Faozan, SKM, MPH
11Kepala Balai Litbangkes BanjarnegaraJastal, SKM, M.Si085241155961
12Kepala Balai Litbangkes Tanahbumbudr. Hijas Nuhung, M.Sc085393151445
13Kepala Balai Litbangkes Papuadr. Antonius Oktavian, M.Kes
14Loka Litbangkes PangandaranRosiana Kali Kulla, SKM081246456456
15Kepala Balai Litbangkes BaturajaYulian Taviv, SKM, M.Si081380110159
16Kepala Loka Litbangkes WaikabubakRoy Nusa R.E.S SKM, M.Si
17Balai Litbangkes AcehDR. Fachmi Ichwansyah, S.Kep, MPH0811688600

 

 

1. Kedokteran (Medical Sciences)
a.Kedokteran Klinik (Clinical Sciences)
b.Biomedik (Biomedical Sciences)
dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH,
Dr.PH; dr. Emiliana Tjitra, M.Sc,Ph.D;
drg.Sekartuti, M.Kes;

2. Farmasi (Pharmacy)
a.Ilmu Kefarmasian (Pharmaceutical Sciences)
b.Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)
c.Kebijakan dan Manajemen Farmasi (Pharmaceutical Policy and Management)
d.Tanaman Obat dan Obat Tradisional (Medicinal Plant and Traditional Medicine)
Dra. Anny Victor Purba, Apt, MSc, Ph.D;
Drs. Sutjipto, Apt; Dra. Yun Astuti, M.Kes;
Dra. Lucie Widowati, M.Kes;
Drs. Sa’roni, M.Kes.

3. Kesehatan Masyarakat (Public Health)
a.Pelayanan Kesehatan (Health Services)
b.Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (Health Policy and Management)
c.Epidemiologi dan Biostatistik (Epidemiology and Biostatistic)
d.Perilaku Kesehatan (Health Behaviour)
e.Kesehatan Reproduksi (Reproductive Health)
dr. Soewarta Kosen, MPH, Dr.PH; Dr. Drs. Wasis Budiarto, MS; drg. Christina M. Kristanti, M.Sc.

4. Kesehatan Lingkungan (Environmental Health)
a.Sanitasi (Sanitation)
b.Biologi Lingkungan (Environmental Biology)
c.Biologi Molekuler Vektor dan Pejamu, Rekayasa Lingkungan (Moleculer Biology of Vector & Reservoir, Environmental Engineering)
Prof. Drs. Supratman Sukowati; Ph.D; dr. Amrul Munif, M.Si

5. Pengobatan Komplementer & Alternatif (Complementary and Alternative Medicine)
a.Pengobatan Tradisional dengan Obat Bahan Alam/Asli Indonesia (Medication Therapy)
b.Pengobatan Tradisional tanpa Obat Bahan Alam/Asli Indonesia (Non Medication Therapy)
Dr. dr. Koesnadi Saputra, Sp.R

6. Gizi dan Makanan (Food and Nutrition)
a.Gizi Masyarakat (Community Nutrition)
b.Gizi Perorangan (Human Nutrition)
c.Ilmu Pangan dan Gizi (Food Sciences and Nutrition)
Prof. Dr. Herman Sudiman, SKM; Prof. Komari, M.Sc, Ph.D; Dr. dr. Dwi Susilowati, M.Sc.