Riskesdas 2018: Proporsi Stunting Balita Menurun

1578

Serpong- Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K) menyampaikan
proporsi stunting pada balita menurun 7% dibandingkan tahun 2013. Ini diketahui berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018. Namun Menkes mengemukakan masih ada tugas menurunkan angka stunting
hingga mencapai target yang ditetapkan World Health Organization (WHO) sebesar dua puluh persen.

Menkes membuka acara pertemuan Penggerakan Penurunan Stunting di 100 kabupaten/kota yang diadakan Direktorat
Jenderal Kesehatan Masyarakat di Serpong (13/11/2018). Dalam pertemuan yang dihadiri jajaran eselon satu di
Kementerian Kesehatan dan diikuti ratusan peserta dari dinas kesehatan kabupaten/kota, Puskesmas, dan
Balitbangda khususnya yang menjadi lokus program serta perwakilan unit utama Kemenkes. Menkes Nila Moelok
menekankan stunting memberikan dampak kepada anak-anak menjadi mudah sakit dan seringkali menjadi obesitas dan
ini berkorelasi dengan penyakit tidak menular.

“Peningkatan derajat kesehatan bukan hanya ditentukan oleh Kemenkes, ada faktor lingkungan”, ujar Menkes Nila
Moeloek. Oleh karena itu harus ada intervensi sensitif seperti penyediaan akses air bersih dan juga perilaku
sanitasi. Faktor perilaku mempunyai peranan yang cukup dominan yaitu 30% dalam meningkatkan derajat kesehatan
seseorang.

Tentunya termasuk dalam pencegahan stunting, misalnya pola makan melalui program Isi Piringku, pola hidup bersih
dengan gerakan PHBS yang harus ditingkatkan terus. Tak kalah penting juga adalah pola asuh. Menkes berharap
pencegahan malnutrisi atau stunting ini sampai juga dengan perubahan perilaku.

Kemenkes saat ini mulai mencoba menggeser pencegahan stunting pada masa remaja. Juga intervensi spesifik dimulai
dengan pemberian zat besi pada anak-anak remaja. Untuk itu Menkes menghimbau untuk mengedukasi dan memberikan
informasi serta meng-create program kesehatan remaja. Sehingga betul-betul dari lingkup pendidikan bisa
ditingkatkan usaha kesehatan sekolah (UKS). Anak Remaja juga diajak untuk mengimplementasikan Germas.

Kepala Badan Litbang Kesehatan dr. Siswanto, MHP, DTM mengutip data Riskesdas 2013 menyampaikan 4 dari 10 balita
adalah stunting sedangkan berdasarkan data Riskesdas 2018 sebesar 30,8 persen. “Artinya tiga dari balita kita
adalah stunting”, jelas Siswanto.

Kalau dihitung terjadi penurunan angka stunting pertahun sebesar 1,25 persen. Melihat kasus negara Brasil yang
berhasil menurunkan angka stunting diperlukan upaya konvergensi antara intervensi spesifik berkenaan dengan
intervensi kesehatan seperti pemberian tablet darah dengan intervensi sensitif. Selain itu agar program
penurunan stunting berhasil, maka surveilans gizi di Posyandu agar berjalan. Untuk itu, Kepala Balitbangkes
memohon bantuan dari petugas gizi.

Stunting merupakan sesuatu yang kronis dan jika itu sudah mencapai dua tahun itu sudah merupakan dampak. Karena
kronis, biasanya ibunya tidak tahu, karena anak memang tidak sakit dan dianggap sehat. Untuk itu karena ibunya
tidak tahu, maka surveilans gizi menjadi penting.

Siswanto sangat bersepakat dengan program Intervensi 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dalam menurunkan
stunting. Intervensi dapat dilakukan sejak remaja, ibu hamil, hingga bayi mencapai dua tahun. Hasil studi
longitudinal (kohor) yang dilakukan Badan Litbangkes menghasilkan temuan begitu bayi lahir dengan berat dibawah
2,5 kg (BBLR) dan panjangnya kurang dari 48 cm, nantinya akan kesulitan mencapai panjang bayi yang normal. Bayi
ini akan berpotensi menjadi stunting (ali/evi)