Risbinkesda dan Riset Iptekkes, Riset Baru Badan Litbang Kesehatan

1053

Denpasar – Badan Litbang Kesehatan sosialisasikan Riset Pembinaan Kesehatan Daerah (Risbinkesda) dan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan (Riset Iptekkes)untuk wilayah timur Indonesia di Denpasar, Kamis (02/08). Riset yang akan digelar tahun 2019 ini disosialisasikan dihadapan perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi, Para Dekan Fakultas, Direktur Poltekkes, Direktur RS dan Pejabat Sruktural maupun Fungsional di Lingkungan Badan Litbangkes.

Pada kesempatan ini Kepala Badan Litbang Kesehatan, Siswanto mengatakan Risbinkesda sebagai riset yang telah dilakukan secara rutin, sebelumnya disebut Riset Pembinaan Kesehatan (Risbinkes). Sasaran Risbinkes adalah calon peneliti dan peneliti pertama di Badan Litbang Kesehatan. Kedepan Risbinkesda dapat diikuti oleh peneliti-peneliti diluar Badan Litbang Kesehatan.

Lebih lanjut Siswanto menerangkan Riset Iptekkes sebelumnya dikenal dengan sebutan Riset Pembinaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (Risbin Iptekdok). Riset ini telah berlangsung setiap tahun dengan sasaran khusus pada ilmu pengetahuan dan tekonologi kedokteran.  Atas arahan Menteri Kesehatan, riset tersebut diubah dengan sasaran yang lebih kompetitif dan memberikan output pada inovasi dan terapan kesehatan.

“Riset ini diimplementasikan dengan melibatkan daerah sebagai subjek untuk saling bekerja sama dalam mencari isu kesehatan, mencari penyebab masalah, mengambil keputusan, menyusun rekomendasi kepada pemangku kepentingan terhadap solusi yang dihasilkan.”, jelasnya.

Siswanto menekankan bahwa Riset Iptekkes diharapkan mampu melembagakan pendekatan riset-riset operasional (riset terapan dan inovasi teknologi) untuk perbaikan kebijakan dan program kesehatan, mendapatkan ide-ide kreatif riset operasional di bidang pelayanan kesehatan perorangan (klinis) maupun pelayanan kesehatan masyarakat (public health), mendapatkan solusi inovatif  sebagai alternatif pemecahan masalah kesehatan, menguatkan jejaring kerjasama peneliti dan institusi riset, meningkatkan jumlah publikasi nasional terakreditasi dan internasional terindeks dari hasil Riset Iptekkes dan meningkatkan perolehan Kekayaan Intelektual (KI).

Kadinkes Provinsi Bali, Ketut Suarjaya menyambut baik terhadap kedua riset ini. Ia mengatakan bahwa daerah sebagai pelaksana tugas kesehatan tidak lepas dari penggunaan hasil riset yang telah dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan. Hasil riset digunakan sebagai bahan rujukan dalam perencanaan program kesehatan daerah, apalagi sekarang orientasi riset sudah mengarah pada isu kesehatan terbaru.

“Kami berharap kerjasama ini semakin kuat antara daerah dan Badan Litbang Kesehatan dalam menghadapi isu-isu kesehatan yang ada saat ini.”, ujarnya. (Ilal)