Protokol Kesehatan Tetap Harus Dipatuhi Walau Telah Divaksin

159

Jakarta, Temu media yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, 19 Oktober 2020 di gedung Prof. Dr. Sujudi, membahas tentang update perkembangan vaksin covid-19. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Achmad Yurianto sebagai narasumber, didampingi Ir. Muti Arintawati, M.Si dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Makanan, dengan drg. Widyawati, MKM sebagai moderator.

Diawali dengan penjelasan Widyawati tentang upaya pemerintah menanggulangi covid-19. Mulai dari upaya peguatan 3T (Tracing, Testing, dan Treatment), 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), penguatan pelayanan kesehatan, SDM kesehatan, hingga pengembangan dan pengadaan vaksin. Lebih lanjut dijelaskan tentang update pengembangan vaksin Covid -19:  kesiapan vaksin, kesiapan vaksinasi, hingga sertifikasi vaksin covid-19.

Achmad Yurianto menjelaskan, perkembangan vaksin saat ini bervariasi. Vaksin yang akan digunakan adalah produk telah selesai uji klinis fase ketiga, yaitu ujicoba di masyarakat. Sinovac telah menyelesaikan uji klinis fase ketiga di beberapa tempat, Cina, Brazil dan Indonesia diperikrakan  selesai pada akhir bulan Desember 2020. Indonesia diberi kesempatan membeli vaksin dengan dua kali pengiriman yakni pada November dan Desember 2020 masing-masing  sebanyak 1,5 juta vaksin. Hal ini sesuai posologi vaksin Sinovac , dual use. Cara pemberian nya satu orang disuntik 2 kali, pertama vaksin dasar, 14 hari kemudian disuntik lagi dengan vaksin booster. Berbeda dengan dengan vaksin Kenzino menggunakan single use, cukup sekali suntik dan telah diujicoba di Cina, Kanada, dan Arab Saudi.

Total vaksin yang tersedia dibulan November dan Desember, untuk digunakan sebanyak 9.1 juta orang. Kepastian ketersediaan masih sangat bergantung pada emergency used authorization yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan rekomendasi kehalalan dari Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sekarang melakukan kajian sharing data. Kajian ini akan selesai kira-kira akhir bulan Oktober. Maka awal bulan November diharapkan mendapatkan keamanan dalam terminologi aman dan halal, baik dalam aspek manfaat dan akibat yang dikeluarkan Badan POM; serta Kementerian Agama.

Muti menambahkan, halal merupakan sesuatu yang sangat sensitif bagi umat Islam. MUI sudah sejak awal terlibat dalam persiapan penggunaan vaksin di Indonesia. Sertifikasi halal ada dibawah dua lembaga. Lembaga pengkajian pangan, obat-obatan dan kosmetika (LPPOM-MUI) dan Komisi Fatwa. LPPOM bertugas memeriksa bahan, proses, fasilitas dan jaminan kehalalan suatu produk. Kemudian hasilnya disampaikan kepada komisi fatwa untuk ditetapkan kehalalannya.

Kategori pemberian vaksin adalah kelompok umur 18 – 59 tahun dan tidak ada penyakit komorbid berat. Prioritas pertama yang mendapat vaksin adalah tenaga kesehatan yang melayani pasien Covid-19. Petugas kesehatan yang ada di laboratorium rujukan dimana tempat pemeriksaan spesimen karena berhubungan langsung dengan virus covid-19. Tenaga kesehatan yang berhadapan dengan contact tracing untuk mencari kasus yang baru. Jumlah ini diperkirakan sekitar 2 juta dan data tersebut akan terus update terkait pegawai kontrak yang harus dikonfirmasi. Kemudian kelompok public services yaitu yang melaksanakan tugas operasi yustisi kepatuhan pelaksanaan protokol kesehatan. Pegawai pelayanan pengguna jasa bandara, stasiun, pelabuhan, termasuk beberapa profesi lain yang berisiko menghadapi covid-19. Selain yang telah disebutkan diatas, diberikan juga untuk peserta jaminan kesehatan nasional yang menjadi tanggung jawab negara, yaitu yang menerima bantuan iur PBI karena pendanaannya akan menggunakan biaya APBN. Diakhir paparan Yuri menambahkan, bahwa pemahaman dasar yang harus dipahami masyarakat adalah pergerakan manusia sebagai faktor satu-satunya pembawa penyakit. Virus menyebar karena pergerakan manusia, kemudian terjadi kontak dekat yang tidak terlindungi mengakibatkan manusia lain yang rentan akan tertular. Kalau diperhatikan, akibat desakan pergerakan ekonomi akan mendorong pergerakan manusia menjadi lebih intensif. Maka,  penting untuk tetap adaptasi pada kebiasaan baru, yang semula 3M menjadi 3W (Wajib memakai masker, Wajib menjaga jarak, Wajib Mencuci tangan) karena inilah yang melindungi kita dari kemungkinan terpapar.(EM, edit UAM)