Perkuat Kinerja, Badan Litbangkes Gelar Workshop Rekomendasi Kebijakan

66

Jakarta – Badan Litbangkes menyelenggarakan Workshop Penyusunan Rekomendasi Kebijakan Kesehatan selama 3 hari, Selasa – Kamis, 13 – 15 Oktober 2020. Workshop ini diikuti oleh para peneliti dan analis kebijakan di lingkungan Badan Litbangkes yang diselenggarakan secara daring dan luring. Kegiatan luring dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. 

Dalam sambutannya, Sekretaris Badan Litbangkes, Nana Mulyana mengatakan pertemuan ini sangat strategis untuk memperkuat Badan Litbangkes. “Rekomendasi Kebijakan adalah salah satu Indikator Kinerja Program Badan Litbangkes. Sebagai unit utama pendukung, Badan Litbangkes memberikan masukan agar kebijakan dibuat bisa lebih akurat dan komprehensif.”, tuturnya. 

Yogi Suwarno, salah satu narasumber dari STIA LAN mengatakan bahwa secara metodologi terdapat kesamaan antara penelitian kebijakan dan penelitian sosial. Namun ada nilai tambah yang harus dibuat oleh analis kebijakan, karena penelitian akan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan. 

Di sesi lainnya, Prof. Eko Prasodjo, Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia memberikan materi tentang Prinsip dan Praktik Pemilihan Opsi/Alternatif Kebijakan. Dituturkannya, didalam kebijakan membutuhkan argumentasi yang rasional. Menurut Prof. Eko policy paper dibuat berdasarkan policy study yang disarikan melalui policy analysis dan disajikan dalam bentuk memoranda.  

“Ada beberapa kriteria pemilihan opsi-opsi kebijakan. Seperti penggunaan policy option 1, policy option 2, policy option 3, evidence data, dan collection data method.”, ujar Prof. Eko. 

Lebih lanjut Prof. Eko menuturkan ada 4 metode yang bisa dilakukan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan. Metode yang pertama adalah systematic review yang dapat dilakukan dengan melakukan tinjauan literatur dan analisis data sekunder. Yang kedua adalah qualitative comparative analysis (QCA), yaitu metode meninjau dan mengembangkan bukti. Hal ini dapat membantu pembuat kebijakan membuat keputusan yang lebih baik.   Metode ketiga adalah narative and story telling, yaitu penggunaan metode dengan melihat sejarah untuk menyusun kebijakan berikutnya. Story telling bisa sebagai pengetahuan atau sebagai media ekspresi. Sementara  serta narasi sebagai metafora, yaitu struktur yang lebih dalam dan menyediakan cara untuk mempelajari efek sebuah kebijakan secara mendalam. Metode yang ke empat adalah Randomised Controled Trials (RCTs). (Dian Widiati)