Peran Negara dalam Mencapai Kemandirian Vaksin

330

Jakarta – Saat ini wabah virus mampu mengubah peradaban manusia. Pandemi Covid-19 diprediksi menjadi endemik. Negara yang tangguh akan dapat mengatasi, namun Covid-19 akan tetap ada di negara yang tidak tangguh. Hal ini disampaikan oleh Imam Prasodjo dalam pertemuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan Nasional (KEPPKN) pada Rabu, 4 Agustus 2021.

Imam mengingatkan sejarah pandemi influenza yang terjadi pada tahun 1918 dengan kematian yang sangat tinggi. Menurut Imam ada tiga pilar yang terkait dengan ketangguhan bangsa menghadapi pandemi yaitu protokol kesehatan, vaksin, dan ketangguhan tubuh.

Pada kesempatan ini Bambang Parmanto, anggota KEPPKN yang juga Ahli Manajemen Informasi Kesehatan Pittsburg University Amerika mengatakan bahwa peran wabah dalam sejarah sangat besar, bahkan lebih besar daripada senjata dan teknologi. Bambang menuturkan bahwa saat ini benua Amerika dan Australia sekarang banyak didiami oleh bangsa pendatang karena penduduk aslinya banyak yang meninggal karena wabah.

Mengenai vaksin sebagai salah satu solusi menghadapi wabah, Bambang menjelaskan vaksin Covid-19 berhasil ditemukan dalam waktu kurang dari satu tahun. Padahal biasanya vaksin biasanya memerlukan waktu hingga puluhan tahun. Bambang mengungkap bahwa produksi vaksin tidak menjadi prioritas produksi pabrik farmasi karena tidak menguntungkan. “Jadi kalau ada missinformasi bahwa pandemi ini dibuat oleh industri obat supaya mereka jualan vaksin, ini tidak benar,” ujarnya.

Menurut Bambang missinformasi atau kebohongan akan lebih cepat menyebar daripada kebenaran. Kebohongan menyebar enam kali lebih cepat, bahkan bisa seratus kali lebih cepat dengan media sosial. Seperti terjadi di Amerika bahwa banyak orang yang menyesal karena tidak mau divaksin setelah terpapar Covid-19 varian delta.
Untuk dapat mencapai kemandirian vaksin, peran negara sangat besar. Perlu dibangun infrastruktur untuk dapat mandiri. Ia mencontohkan Amerika sebagai negara maju peran negara sangat besar. “Penting untuk membangun infrastruktur riset dan infrastruktur industri.”, ucapnya.

Bambang juga menyampaikan bahwa peran Komisi Etik sangat penting. Semua proses dalam riset memerlukan dukungan Komisi Etik. Bambang juga berbagi informasi independensi Komisi Etik di Amerika. “Komisi Etik di Amerika sangat independen dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun, baik oleh kekuasaan maupun bisnis. Tidak ada yang berani menekan Komisi Etik,”pungkasnya. (Dian Widiati)