Penting Balitbangkes Melakukan Riset Penajaman Kebijakan dan Produk

286

Jakarta – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dr. Siswanto, MHP.,DTM menekankan keberadaan Balitbangkes sebagai lembaga penelitian dan pengembangan yang berada dibawah Kementerian Kesehatan sekaligus dibawah pembinaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membuatnya harus mengerjakan dua lingkup penelitian yang penting dilakukan yaitu riset yang membantu penajaman atau memperbaiki kebijakan/program seperti model riset operasional dan riset kebijakan. Contoh riset yang tengah dilakukan adalah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).

Ruang lingkup kedua adalah riset terkait dengan produk. Satuan kerja Balitbangkes yang dapat berperan banyak adalah Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, serta Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga.  Hal itu disampaikan Kepala Balitbangkes dalam pengarahan di acara Rapat Kerja (Raker) Badan Litbangkes di Jakarta Kamis (5/4/2018).

“Karena Balitbangkes mengerjakan 2 lingkup penelitian yaitu kebijakan dan produk, maka dua-duanya harus dikerjakan serius dan betul”, tegas Siswanto. Hanya saja menurut Siswanto, untuk mengerjakan kedua lingkup riset tersebut jika dihubungkan dengan sumber daya yang ada seperti sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta laboratorium maka Balitbangkes tidak mungkin mengerjakannya sendiri dan harus menggandeng pihak lain. Untuk itulah perlu diadakan kerjasama dengan lembaga lain. Sebagai contoh untuk mengerjakan riset produk harus menggandeng industri dan lembaga otoritas seperti Direktorat Jenderal Farmalkes Kemenkes dan Badan POM.

Menurut Siswanto, metodologi penelitian itu sangat luas dan tergantung ruang lingkup penelitian yang dilakukan. Tidak hanya diartikan sebagaimana berfikir seperti penelitian disertasi yang harus ada  dependen dan independen variabel, atau dibingkai persyaratan seperti memenuhi form 100.

Siswanto menjelaskan inti pengembangan produk dapat dilakukan secara dua arah. Pertama boleh secara awal dari penelitian kemudian setelah melihat pasar, ternyata produk tersebut belum ada. Maka bisa dikatakan peneliti mempengaruhi pasar (created demand). Tapi biasanya cara seperti itu membutuhkan perjuangan yang luar biasa.

Cara yang lebih mudah menurut Kepala Balitbangkes adalah dibalik, yaitu dengan cara melihat produk yang laku dipasaran seperti apa, selanjutnya peneliti tinggal membuat atau melakukan modifikasi.

Sehubungan perubahan beberapa UPT Balitbangkes menjadi generik atau Balitbangkes mini, maka Siswanto menjelaskan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) menjadi lebih luas dan mesti memiliki wilayah kerja untuk menghindari tabrakan antar lembaga. Selain itu harus mampu melakukan riset operasional di wilayah kerjanya agar keberadaan UPT dirasakan kehadirannya dan memberikan manfaat bagi klien di sekitarnya.

Untuk mendukung penelitian, perlu manajemen sumber daya. Kepala Balitbangkes mempersilahkan dilakukan capacity building atau yang hendak melanjutkan sekolah dan mengikuti kursus. Siswanto menjelaskan melakukan penelitian juga bagian dari capacity building. “Sambi meneliti sambil belajar juga”, ungkap Siswanto.

Kepala Balitbangkes menekankan  utilisasi penelitian hal yang penting juga dilakukan. Terkait hal itu, Kepala Balitbangkes menyambut baik rencana yang digagas Sekretaris Badan Dr. Nana Mulyana  membuat poros kebijakan antara Balitbangkes beserta Pusat Analisis Determinan Kebijakan dan Health Policy Unit untuk menjadikan ketiga lembaga ini sebagai suatu kesatuan. (ali/erwin)