Peningkatan Kepercayaan Masyarakat sebagai Modal Sosial Cegah Covid-19

108

Jakarta- Modal Sosial sebagai Potensi Strategis dalam Mendukung Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) Menuju Era New Normal, demikian topik Focus Group Discussion yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Pertemuan yang digelar di Jakarta secara daring dan luring (2/9/2020), ini dihadiri oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Wakil Walikota Bogor, Kepala Dinas Kesehatan Bogor dan Depok, serta perwakilan Satuan Tugas Penanganan Covid, serta perwakilan camat, lurah, RT/RW di beberapa wilayah di Jabodetabek.

Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan masyarakat Dodi Izwardi menyampaikan paparan berjudul “Determinan Sosial dan Perilaku masyarakat Terkait PSBB Dalam Upaya Pencegahan Penularan COVID 19 di Jabodetabek”. Survey dilakukan secara online terhadap masyarakat di Jabodetabek yang diambil secara kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui perilaku masyarakat terkait PSBB dan melihat peran modal sosial yakni kepercayaan, kerjasama dan aturan/sanksi juga peran tokoh masyarakat dalam upaya pencegahan penularan COVID 19. Metode yang digunakan survey selama 4 hari (26-29 April 2020) menggunakan google form melalui sosial media (WhatsApp dan Facebook) dan wawancara mendalam menggunakan voice call.

Responden lebih banyak tinggal di Jakarta dengan karakteristik lebih banyak perempuan dengan pendidikan tertinggi perguruan tinggi. Responden lebih banyak patuh pada pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yakni 77,4 persen. Perilaku patuh untuk melakukan kegiatan bekerja/belajar di rumah (65 persen), beribadah di rumah (93,2 persen), jaga jarak di angkutan umum (90,3 persen) serta larangan bepergian ke luar kota (95,4%).

Tiga modal sosial yang diukur yakni kepercayaan, kerjasama, dan adanya aturan/sanksi, kepercayaan sebagai merupakan modal sosial yang ada di masyarakat yang tertinggi (90,7 persen).

Salah satu rekomendasi yang perlu dilakukan pemerintah daerah dan jajarannya menurut Dodi Izwardi perlunya penguatan modal sosial melalui peningkatan pemahaman masyarakat terkait pencegahan COVID-19 melalui pemberian sosialisasi ataupun informasi terkait pencegahan COVID 19 seperti informasi mengenai 3 M (mencuci tangan  dengan sabun, memakai masker dengan benar dan menjaga jarak),  juga informasi lainnnya oleh aparat dan tokoh masyarakat setempat. Adanya pemahaman yang baik akan tumbuh rasa percaya dan kerjasama diantara masyarakat dalam upaya pencegahan  COVID-19 serta terbentuknya kesepakatan bersama terkait aturan/sanksi.

Wakil Walikota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan di kota Bogor sudah dibuat PSBB versi baru yaitu Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL)  berdasarkan Mikro dan Komunitas. Bogor saat ini ditetapkan sebagai zona merah nomor 4 di Jawa Barat dan sedang merebak cluster baru yakni cluster keluarga yang awal datang dari cluster di perkantoran.

Menurut Dedie A. Rachim perlu ada rekomendasi pembentukan satuan tugas di tiap entitas seperti perkantoran dan bandara. “Harus ada 1 orang yang memantau pelaksanaan protokol kesehatan ini, ujarnya lebih lanjut.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Rizkiyana Sukandhi Putra menyampaikan ada tiga kelompok masyarakat yang merespon protokol kesehatan Covod-19. Kelompok ini terdiri dari kelompok pertama yang pro AKB yang hidup berdampingan dengan Covid-19. Ini peluang untuk terjadinya perubahan. Kemudian Kelompok kedua yang melihat masalah sebagai tantangan serta kelompok 3 yang selalu berfikir negasi  dalam memandang masalah Covid-19.

Rizkiyana mengungkap perlu didorong perubahan perilaku masyarakat yang masih setengah atau tidak patuh protokol kesehatan  dengan cara memberikan motivasi dari dalam dan luar. Motivasi dari luar dapat diberikan melalui pemberian insentif, hukuman, nasehat dan dorongan. Motivasi dari dalam diberikan dengan melakukan intervensi akan pemenuhan kebutuhan, kepentingan, kemanfaatan, dan mengajak pihak lain. “Intervensi perilaku berdasarkan target kelompok”, kata Rizkiyana menjelaskan

Ina Agustini Isturini dari Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan mengungkapkan penyampaian informasi pada masyarakat perlu memperhatikan faktor gender, tingkat ekonomi serta lokasi.  Salah satu konten prioritas yaitu untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat karena merupakan salah satu indikator modal sosial yang penting.

Ina juga mengatakan sasaran prioritas awal untuk penyampaian informasi adalah para tokoh masyarakat (TOMA) yang dapat menjadi kader penerus informasi pada masyarakat lainnya.  Strategi pembinaan TOMA dengan salah satu tujuannya optimalisasi peran-peran TOMA lainnya seperti melakukan pengawasan dan  menegur masyarakat yang tidak taat protokol kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pengumpulan donasi dalam rangka mendukung logistik terkait penanganan COVID-19 di wilayahnya.

Pada akhir acara, Sekretaris Badan Litbangkes, Nana Mulyana berharap Tim Puslitbang UKM agar memperkaya masukan dari stakeholders agar bisa diterapkan di daerah masing-masing.  Perlu dilakukan pendalaman atau eksplorasi dari kajian ini dan Balitbangkes siap memfasilitasi dan bersinergis untuk mengembangkan kajian lanjutan di daerah.(Fachrudin Ali Ahmad)