Pengukuhan Empat Profesor Riset Badan Litbangkes, Menkes “Tantang” Hal Ini

575
Pengukuhan Prof. Riset Badan Litbangkes

Jakarta–Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan telah mengukuhkan empat profesor riset di Jakarta (13/6). Setelah mendengarkan orasi keempat profesor riset dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, memberikan tantangan untuk Badan Litbangkes. “Yaitu untuk mendorong pengembangan model dan inovasi terhadap strategi pembangunan kesehatan yang siap diimplementasikan di tingkat pelayanan kesehatan dan masyarakat. Saya berharap profesor riset dapat berperan lebih jauh dalam menjawab tantangan ini”, harap Nila.

Empat putra-putri terbaik Kementerian Kesehatan yang dikukuhkan oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset adalah Dr. dr. Laurentia Konadi Mihardja, MS., Sp. GK. (Kepakaran Bidang Epidemiologi dan Biostatistik); Dr. dr. Julianty Pradono, MS (Kepakaran Bidang Epidemiologi dan Biostatistik); Dr. Astuti Lamid, MCN. (Kepakaran Bidang Makanan dan Gizi); dan Dr. Dede Anwar Musadad, SKM., M.Kes. (Kepakaran Bidang Kesehatan Lingkungan).

Topik orasi Laurentia Konadi adalah Pencegahan Diabetes Melitus melalui Pengendalian Faktor Risiko Sejak Dini. Penelitian yang dilakukan Laurentia mengungkap diabetes melitus (DM) tipe 2 yang biasanya terjadi pada orang dewasa, sekarang sudah terjadi pada anak. “DM tipe 2 biasanya terjadi pada dewasa, tetapi pada saat sekarang terjadi pada anak”, ujarnya. Prevalensi faktor risiko DM seperti stunting, kegemukan, prediabetes dan gaya hidup tidak sehat, cukup tinggi pada anak dan remaja. Perlu usaha meningkatkan kegiatan program yang sudah ada terutama dalam bidang promotif dan preventif untuk mengendalikan DM sejak dini, baik di keluarga, di sekolah dan maupun di masyarakat.

Profesor berikutnya, Julianty Pradono, menyampaikan orasi tentang Pengendalian Hipertensi Melalui Pencegahan Kegemukan. “Hipertensi merupakan faktor risiko utama dalam model prediksi untuk 3 penyakit tidak menular (PTM) utama yaitu penyakit jantung koroner, stroke dan diabetes mellitus setelah disesuaikan dengan faktor risiko lain” ungkapnya. Julianty pun menyatakan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko PTM yang membutuhkan biaya pengobatan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan saat ini. Kunci pengendalian hipertensi adalah melalui perubahan perilaku individu. Pencegahan kegemukan perlu dimulai sejak masa anak-anak dengan memperbaiki perilaku tidak sehat dan pendekatan budaya.

Selanjutnya, dengan bidang kepakaran makanan dan gizi, Astuti Lamid menyampaikan temuannya tentang Pengembangan Formula Ready To Use Theurapetic Food (RUTF) untuk Penanganan Balita Wasting di Puskesmas dengan pemanfaatan bahan lokal seperti kacang hijau, kacang tanah dan tempe. Kandungan gizi RUTF lokal sesuai dengan anjuran Unicef dan terbukti efektif meningkatkan status gizi balita sangat kurus. Temuan Astuti diharapkan dapat dikembangkan dan diadopsi dalam program intervensi gizi balita wasting yang terintegrasi dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

Profesor Dede Anwar Musadad menyampaikan orasi dengan topik Rekayasa Sosial dan Teknologi Tepat Guna Untuk Penyelesaian Masalah Sanitasi. Penelitian Anwar mengungkapkan peningkatan kesadaran dan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan program kesehatan lingkungan. Untuk mewujudkannya perlu dikenalkan dan diterapkan alternatif teknologi tepat guna seperti penjernihan air sederhana, pembuatan ventilasi, jamban pasang surut, dan lain-lain.

Menurut Anwar, disamping kebutuhan sanitasi dasar yang belum terpenuhi, kita dihadapkan pada masalah pemanasan global, masalah sampah plastik dan styrofoam, serta penggunaan bahan kimia yang tidak terkendali. Transformasi program kesehatan lingkungan membutuhkan upaya akselerasi agar dapat mengejar kecepatan perkembangan masalah baru yang timbul.

Profesor riset merupakan gelar tertinggi peneliti yang dikukuhkan setelah mencapai jabatan fungsional peneliti tertinggi yakni peneliti ahli utama. Para profesor riset diharapkan terus berkarya dan terlibat aktif berkontribusi dalam pembangunan kesehatan di Indonesia untuk mencapai sumber daya manusia bangsa Indonesia yang berkualitas. (NB)