Pengendalian DBD Lewat Jurbastik di Kabupaten Gianyar Bali

484

Gianyar- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Siswanto melakukan kunjungan kerja dan mengadakan pertemuan dengan Wakil Bupati Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Mayun beserta Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gianyar Ida Ayu Cahyani dan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Bali I  Wayan Widia di Aula Bupati Gianyar (11/9/2019). Kepala Balitbangkes di dampingi Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Dodi Izwardi.

Siswanto mengemukakan tujuan ke Gianyar melakukan kunjungan ke lapangan melihat pekerjaan peneliti dalam melakukan inovasi riset yang disebut dengan Participatory Action Research(PAR). Riset aksi yang melibatkan masyarakat dengan melakukan pemberdayaan terkait program 1 Rumah 1 Juru Pemantau jentik (Jumantik). Badan Litbangkes memperbaharui program tersebut dengan menyebutnya 1 Rumah 1 Juru Pembasmi Jentik (Jurbastik).

Kepala Balitbangkes berharap program ini implementasinya bukan hanya 1 rumah 1 Jurbastik tetapi 1 unit bangunan dan 1 Jurbastik. Karena jika hanya menyentuh 1 rumah memiliki kekurangan, yaitu fasilitas umum tidak tertangkap. “Padahal nyamuk lebih banyak ada di situ, seperti di fasilitas sekolah, di masjid dan di pura”, ujar Siswanto lebih lanjut.

Model riset Ini sangat penting, karena sampai sekarang belum ditemukan pencegahan demam berdarah dengue yang definitif. Termasuk upaya ujicoba vaksin yang tengah dilakukan masih belum berhasil. World Health Organizations (WHO) sampai sekarang hanya menyarankan pengendalian vektor terpadu. Untuk Indonesia, program ini diterjemahkan menjadi 1 Rumah 1 Jumantik. Menurut Siswanto, Badan Litbangkes ingin memperkuat itu sekaligus memperbaiki secara nomenklatur menjadi 1 Rumah 1 Juru Pembasmi Jentik (Jurbastik).

Badan Litbangkes telah mendesain 1 aplikasi dalam riset ini yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri. Lewat aplikasi ini, masyarakat dapat melakukan pemantauan kontainer setiap minggunya. Kontainer merupakan semua tempat/wadah yang dapat menampung air dengan air didalamnya tidak dapat mengalir ke tempat lain. Kontainer biasanya tempat bersarangnya nyamuk. Seringkali ditemukan jentik-jentik nyamuk karena biasanya kontainer digunakan nyamuk untuk perindukan telurnya.

Hasilnya nantinya dibahas dan diumpanbalikkan di dalam rapat di desa melibatkan kepala desa. Setelah dibahas berulangkali harapannya kontainer indeks menjadi kecil. Ini juga sesuai dengan saran WHO yang menyebutkan kontainer indeks positif jentik maksimal 5%.

Model riset ini diujicobakan di beberapa daerah lain. Namun tampaknya menurut Kepala Badan Litbangkes, dalam pelaksanaannya yang paling bagus di Kabupaten Gianyar. Jika ini terus berjalan baik dengan dibantu peneliti, model pengendalian DBD akan dibuat menjadi semacam pedoman pemberdayaan masyarakat dalam rangka Jurbastik. Nantinya model ini akan dieskalasikan secara nasional.

Badan Litbangkes telah melakukan riset kesehatan dasar. Tiap 5 tahun hasilnya dibingkai kedalam Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Indeks ini terdiri dari 30 indikator. Dalam kesempatan ini, Kepala Badan Litbangkes mengucapkan selamat kepada Kabupaten Gianyar yang telah 2 kali berturut-turut menempati peringkat tertinggi atau nomor satu untuk tingkat kabupaten/kota di Indonesia.

Menurut Kepala Badan Litbangkes, nantinya akan ada kebijakan dari Kementerian Keuangan bahwa pemberian uang insentif ke daerah dikaitkan dengan pencapaian IPKM.

Siswanto mengemukakan dari 30 indikator yang ada, masih ada indikator yang bermasalah salah satunya permasalahan dengue. Siswanto menyebut ada 3 penyakit menular yang masih bermasalah hingga saat ini. Pertama dengue, kedua HIV, dan Malaria termasuk juga TBC.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinkes Kabupaten Gianyar mengatakan sangat setuju dan senang dengan riset DBD yang tengah dilakukan. Karena nantinya akan bisa melihat bagaimana karakteristik keluarga yang tengah diteliti terhadap jentik sehingga nanti bisa dilakukan intervensi secara lebih fokus karena nantinya dapat dipelajari. Menurut Ida Ayu Cahyani ada kelebihan di Gianyar termasuk Bali dengan adanya sistem Banjar. Banjar setiap bulan mengadakan rapat. Pihak pemegang program kesehatan dapat masuk dalam pertemuan tersebut untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan. (Fachrudin Ali Ahmad)