Pemerintah Kabupaten Banjar Siap Dukung RIK

436

Banjar – Pemerintah Kabupaten Banjar menyatakan siap mendukung pelaksanaan RIK untuk mengatasi masalah kesehatan di Desa Podok, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Hal ini diungkapkan oleh Nasrunsyah, Sekretaris Derah Kabupaten Banjar pada Pertemuan Audiensi dan Advokasi Riset Intervensi Kesehatan (RIK) oleh Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan (24/09).

“Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2013 menunjukkan bahwa Kabupaten Banjar berada di peringkat 13 (peringkat akhir) dari seluruh Kabupaten/Kota di seluruh Kalimantan Selatan. Kita perlu berusaha agar peringkat IPKM dapat meningkat”, ujarnya.

Pada kesempatan ini Sugianto, Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan menuturkan RIK akan menghasilkan suatu model intervensi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan melalui pendekatan budaya. “Penelitian yang akan kita lakukan tidak terlepas dari aspek budaya, karena budaya atau perilaku menjadikan pengaruh yang luar biasa terhadap keberhasilan program kesehatan”, ungkapnya.

Pada tahun 2015 Puslitbang Humaniora dan Kebijakan Kesehatan telah melakukan Riset Etnografi Kesehatan (REK) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Dari riset ini diketahui bahwa masyarakat di Desa Podok, Kecamatan Aluh-aluh Kabupaten Banjar masih memiliki masalah terkait kesehatan lingkungan, termasuk perilaku hidup bersih dan sehat.

Dari hasil REK ini, Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan berencana untuk melaksanakan penelitian lanjutan, yaitu Riset Intervensi Kesehatan (RIK). Riset ini mengembangkan model intervensi berbasis budaya yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat serta penggunaan teknologi tepat guna untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesehatan lingkungan di Desa Podok, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar.

Ketua Tim RIK, Dede Anwar Musadad menjelaskan bahwa salah satu latar belakang RIK ini adalah pola hidup bersih dan sehat masyarakat di Desa Podok, Kabupaten Banjar.  Ini ditandai dengan perilaku masyarakat yang masih buang air besar (BAB) langsung di sungai yang airnya dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Perilaku membuang sampah di sungai juga semakin memperburuk kualitas air di sungai, sehingga tidak heran jika masyarakat di Desa Podok sering mengeluh diare, gatal – gatal dan cacingan.

Ada beberapa tahap pelaksanaan RIK yaitu pengumpulan data dasar, pengembangan model intervensi, implementasi model intervensi, monitoring evaluasi, evaluasi hasil intervensi, identifikasi potensi dan hambatan, dan terakhir adalah perbaikan model.

Pelaksanaan RIK juga didukung teknologi tepat guna, yaitu Repeated Processing Septictank (RPS)  yang dikembangkan oleh Fakultas Teknik, Universitas Palangkaraya. “RPS dirancang untuk mengatasi masalah pembuangan kotoran yang ada diaerah spesifik seperti pemukiman di pinggir sungai. Sehingga melalui proses pembusukan berulang-ulang dapat meminimalisir bakteri yang dibuang di sungai”, kata Dwi Anung Nindito, penemu teknologi RPS sekaligus dosen jurusan Teknik Sipil di Universitas Palangkaraya.

Pertemuan ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama tentang kesepakatan dan perumusan intervensi kesehatan lingkungan berbasis budaya dan teknologi tepat guna oleh Bupati, Sekretaris Daerah, dan seluruh jajaran pejabat pemerintah di lingkungan Kabupaten Banjar. (Ry)