Peluncuran dan Diseminasi Kajian Sektor Kesehatan dan Analisis beban Penyakit Tingkat Provinsi

760

Jakarta – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengadakan acara Peluncuran dan Diseminasi Kajian Sektor Kesehatan dan Analisis beban Penyakit Tingkat Provinsi di Jakarta Kamis (4/4). Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan kementerian Kesehatan RI (Badan Litbangkes) Siswanto memaparkan laporan hasil kajian dan analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia Tahun 2017.

Acara dibuka Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Subandi Sardjoko. Dalam sambutannya Subandi menyampaikan kajian sektor kesehatan 2018 dilakukan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dengan dukungan dari Kementerian/Lembaga terkait, para pakar, organisasi non pemerintah dan mitra pembangunan sebagai salah satu masukan dalam penyusunan background study Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dalam perumusan rencana  pembangunan kedepan dibutuhkan berbagai analisis situasi yang mampu menjawab terutama berbagai tantangan baru yang dihadapi oleh pembangunan kesehatan di Indonesia.

Dalam kajian sektor kesehatan telah dikaji sepuluh topik utama yang selanjutnya dirangkum dalam laporan konsolidasi dengan tema Penguatan Sistem Kesehatan Nasional. Topik itu mencakup transisi demografi dan epidemiologi serta implikasinya perhadap permintaan pelayanan kesehatan, kemudian fungsi kesehatan masyarakat termasuk health security, penguatan kebijakan kesehatan reproduksi, ibu, neonatal, anak dan remaja. Topik lain adalah pembangunan gizi di Indonesia, sumber daya manusia untuk kesehatan, penyediaan obat, vaksin, dan alat kesehatan.

Kemudian dibahas juga topik pengawasan obat dan makanan dan keamanan makanan, pembiayaan kesehatan termasuk efektifitas Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta penguatan sistem pelayanan kesehatan termasuk sistem rujukan dan penguatan tata kelola kesehatan dan sistem infomasi kesehatan.

Kepala Badan Litbangkes dalam paparannya menyampaikan Daly Lost atau Disability Adjusted Life Year adalah hasil penjumlahan dari waktu seseorang hidup dengan sakit dan disabilitas ditambah dengan seseorang mati sebelum waktunya. Atau dengan kata lain jumlah tahun yang hilang untuk hidup sehat karena kematian dini, penyakit atau cedera.

Secara umum hasil dari analisis beban penyakit tren umur harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia telah mengalami peningkatan sejak tahun 1990. Tren UHH menurut jenis kelamin, pada laki-laki di tahun 2017 adalah 69,22 dan perempuan 73,87. Ini menunjukkan pada wanita ketahanan hidupnya lebih luar biasa karena ada selisih 5 tahun antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan perbandingan antar propinsi umur harapan hidup yang paling rendah adalah Provinsin Papua.

Telah terjadi juga pergeseran penyakit atau transisi epidemiologi dari tahun 1990, 2007, dan 2017. Kenaikannya luar biasa pada penyakit tidak menular (PTM). Pada tahun 1990 mencakup sekitar 40 persen. Pada tahun 2017 naik menjadi sekitar 70 persen.  Untuk itu upaya penanggulangan PTM harus terstruktur, sistematis, dan harus dilakukan pengendalian faktor risiko dengan sangat kuat.

PTM meningkat signifikan dan menjadi faktor penyebab utama kematian di Indonesia. Dengan struktur penduduk yang akan memasuki awal penuaan penduduk, risiko PTM masih besar. Ini ditambah dengan pola hidup penduduk yang tidak sehat seperti diet yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik serta merokok.

Disisi lain, upaya signifikan masih diperlukan untuk mengatasi penyakit menular seperti HIV/AIDS, tuberculosis, dan malaria. Dengan meningkatnya PTM dan belum terselesaikannya penyakit menular menyebabkan Indonesia mengalami beban ganda penyakit. Indonesia juga mengalami beban ganda gizi yaitu masih tingginya kekurangan gizi dan peningkatan obesitas.

Analisis Beban Penyakit Tingkat Provinsi dilakukan oleh Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Bappenas didukung Institute For Health Metrics and Evaluation (IHME). Analisis beban penyakit tingkat provinsi menyediakan sumber data baru yang mampu merefleksikan kondisi beban penyakit tingkat provinsi dan mengaitkannya dengan beban (ekonomi dan produktifitas) yang hilang akibat kematian, premature, dan kecacatan. Analisis ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan prioritas pembangunan kesehatan berbasis kewilayahan.

Dalam acara peluncuran tersebut, hadir juga sebagai narasumber dan pembahas Ascobat Gani (Team Leader HSR 2018), Christopher J.L. Murray (Director of IHME The University of Washington), Andi Nafsiah Mboi, Akmal Taher serta Sukri Palutturi.

Diakhir acara dilakukan penyerahan secara simbolik buku Kajian Sektor Kesehatan dan Buku Analisis beban Penyakit Tingkat Provinsi kepada UNICEF Representatif Indonesia, Direktur Utama Tempo Group, Sun Business Network, Pemda DKI, serta kepada Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Penyerahan dilakukan Deputi Bidang Pembangunan Manusia Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas dan Kepala Badan Litbangkes (ali)