Pelatihan Etik Penelitian Kesehatan Badan Litbangkes dan US-NIH

592

“Sebetulnya jika kita bicara etik, itu tidak hanya etik penelitian, tapi ada juga etik kedokteran dan ethics of public health”, ungkap Kepala Badan Litbangkes, dr. Siswanto, MHP, DTM dalam arahan dan pembukaannya di acara Pelatihan Etik Penelitian Kesehatan, Rabu (18/7/2018). Lebih lanjut Siswanto menjelaskan baik etik penelitian, kedokteran dan ethics of public health harus mengikuti 5 (lima) prinsip etik, yaitu beneficence, non maleficence, autonomy dan justice. Dalam tahapan pengembangan obat ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan : kaidah ilmiah, kaidah etik dan kaidah regulatory. Demikian pula dalam tahapan pengembangan obat, peneliti harus melibatkan industri dan Badan POM sejak awal. Hal tersebut harus diikuti agar dapat dihasilkan produk yang memenuhi syarat.

Acara Pelatihan Etik Penelitian Kesehatan yang berlangsung di Hotel JW Marriot, Jakarta diselenggarakan oleh Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan yang bekerja sama dengan NIAID (National Institute of Allergic and Infectious Disease) dalam Jejaring Penelitian Klinis INA-RESPOND). Peserta yang mengikuti pelatihan tersebut berasal dari Jajaran Direksi Rumah Sakit, Dekanat Fakultas Kedokteran universitas, perwakilan Komisi Etik dari dan diluar jejaring INA-RESPOND.

Sementara itu fasilitator pelatihan menghadirkan narasumber dari US-NIH, Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Badan Litbangkes, UGM, UNHAS, dan AIPI.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komisi etik di Indonesia dalam telaah atau kaji etik suatu protokol penelitian. Sementara itu modul pelatihan yang digunakan adalah modul internasional yang telah dikembangkan oleh NIH-US yang telah dilakukan dibeberapa negara dalam rangka peningkatan kapasitas multinasional (Multinational Capacity Building). Rencanananya pelatihan ini akan berlangsung hingga tanggal 19 Juli 2018. (rn)