Pelaku Perjalanan Lebih Baik Periksa PCR

176

Jakarta, Kepala Pusat Litbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan, Sugianto, menerima kunjungan kerja Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan pada Jumat, 12 November 2021. Dalam sambutannya Sugianto mengatakan kunjungan kerja ini merupakan upaya mengintegrasikan dan menyinergikan pembangunan kesehatan di tingkat pusat dan daerah.

Kunjungan kerja yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, M. Lutfi Saifuddin ini membahas tentang kebijakan pemeriksaan PCR dan karantina mandiri bagi pelaku perjalanan. Menurut Lutfi pelaku perjalanan dengan tujuan Kalimantan Selatan diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan PCR dan karantina selama 5 hari. Ia berharap kebijakan ini dapat ditinjau kembali.

Selain topik tersebut, Lutfi juga menyampaikan, Provinsi Kalimantan Selatan masih dalam zona merah salah satunya disebabkan oleh cakupan vaksinasi. Lebih lanjut Lutfi mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi Covid-19 terkendala oleh ketersediaan vaksin. Ia pun menyampaikan harapannya untuk mendapatkan vaksin tambahan bagi Provinsi Kalimantan Selatan.

Menanggapi pernyataan Lutfi, perwakilan dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Yosi menerangkan bahwa pelaku perjalanan dalam negeri tidak diberlakukan karantina. Yosi mengatakan akan menindaklanjuti perihal kebijakan yang diberlakukan ini kepada pihak terkait.

Pada kesempatan ini Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Vivi Setiawaty memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan PCR untuk deteksi Covid-19. Vivi menerangkan bahwa jejaring laboratorium Covid-19 sudah ada di seluruh Indonesia. Menurut Vivi, Kalimantan Selatan saat ini telah memiliki 22 laboratorium yang telah melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Dari hasil pemeriksaan WGS, di Kalimantan Selatan sebanyak 17 varian Delta dan 1 varian Beta. Lebih lanjut Vivi menekankan bahwa pemeriksaan PCR akan lebih baik dilakukan karena tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan cepat antigen. “Pemeriksaan PCR juga dilakukan untuk mengantisipasi adanya mutasi agar tidak lolos masuk ke Indonesia,” terang Vivi. (Dian Widiati)