“MODERNISASI” APOTEK DALAM MOMENTUM PANDEMI COVID-19

1324

Jakarta, Pada masa Pandemi Covid -19 ini, layanan apotek di tanah air menghadapi berbagai tantangan. Hal itu terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Sumberdaya dan Pelayanan Kesehatan pada acara Dialog Rekomendasi Kebijakan Badan Litbangkes, 19 November 2020. Turut bergabung dalam acara ini Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), perwakilan Apotek Kimia Farma dan Apotek perseorangan.

Dari data-data hasil penelitian yang dilakukan selama bulan pertengahan September hingga Oktober 2020 tersebut muncul beberapa isu penting terkait pelayanan apotek. Diantaranya, tantangan yang harus dihadapi apotek untuk menjalankan layanan telefarmasi.

Tantangan apotek untuk berinovasi menyediakan layanan telefarmasi masih minim dilakukan. Layanan seperti konseling obat, pengkajian resep, pelayanan informasi obat, pemantauan terapi obat, serta homecare farmasi, sebagian besar masih dilakukan secara offline/manual.

“Layanan telefarmasi dengan pemanfaatan teknologi informasi ini mau tidak mau harus dilakukan sekarang bukannya di masa yang akan datang, tetapi sekarang terlebih di masa pandemi seperti ini”, ujar Kepala Puslitbang dr. Irmansyah dalam paparannya.

Di sisi lain, data penelitian mengungkapkan peningkatan penjualan obat bebas seperti vitamin, suplemen dan bahan medis habis pakai (masker, hand sanitizer, thermometer, thermo gun, disinfektan) tidak didukung kelancaran pasokan obat dan alkes tersebut dari distributor resmi.

Sementara itu banyaknya sales-sales tidak resmi (black market) menjual produk obat dan alkes tersebut secara online, berpengaruh terhadap turunnya omset apotek yang merupakan salah satu mata rantai jalur resmi penjualan obat dan alkes. Hal ini tentunya menimbulkan risiko keamanan terhadap konsumen dan harus dapat diawasi dan dicegah.

Badan POM dalam operasi penindakannya selama Maret – September 2020 di 29 provinsi, menemukan barang bukti senilai 46.7 miliar rupiah. Bahkan, selama masa pandemi, melalui tim cyber patrol yang baru dibentuk, BPOM menyarankan kepada Kominfo untuk men”takedown” sebanyak hampir 25 ribu akun tautan penjualan obat yang di klaim sebagai obat Covid-19.

Dari dialog ini, rekomendasi yang muncul yakni belum adanya regulasi mengatur terkait pelayanan telefarmasi. Tantangan apotek untuk “memodernkan” diri memang penting untuk dilakukan. Era pandemi Covid-19 menjadi momentum penting untuk memulai upaya tersebut. Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan dapat berjalan dengan baik agar layanan apotek dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. (Ahdiyat Firmana)