Literasi Digital agar ASN Melek Digital

266

Jakarta-Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai diberlakukan pada 3 Juli 2021 untuk kawasan Jawa dan Bali dan berlaku sampai tanggal 16 Agustus 2021. Kegiatan perkantoran dilakukan dari rumah dengan menggunakan Zoom Meeting atau Google Meeting dan pelayanan perkantoran dilakukan melalui digital.

Teknologi digital semakin banyak digunakan untuk mendukung rutinitas perkantoran, kegiatan belajar-mengajar, termasuk juga proses jual-beli dilakukan secara daring. Dampak dari teknologi digital juga tidak sedikit, informasi yang tersebar melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, YouTube banyak yang digunakan untuk penyebaran berita yang bersifat hoax atau tidak benar.

Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menyelenggarakan sharing session kegiatan Literasi Digital ASN Badan Litbangkes. Diselenggarakan selama 2 hari, tanggal 12-13 Agustus 2021. Acara ini mengundang seluruh karyawan Badan Litbangkes dengan tujuan agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarluaskan informasi melalui media sosial.

Diawali dan dibuka oleh Sekretaris Badan Litbangkes, Dr. Nana Mulyana dan diikuti oleh lebih dari 153 peserta melalui Zoom Meeting dan saluran Balitbangkes TV di YouTube. Di era pendemi banyak menggunakan teknologi digital. Dengan penerapan Perpres No. 95 Tahun 2018 tentang sistem pemerintahan berbasis elektronik, diharapkan ASN mampu melaksanakan tugas dan memberi pelayanan terbaik dengan menggunakan teknologi digital. Demikian ujar Nana Mulyana saat membuka dan memberi arahan.

Acara Literasi Digital ini mengedepankan tiga materi yaitu Hoax sebagai Peluang, Penelusuran Sumber Informasi Elektronik, dan Keamanan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) yang melek digital, harus berpartisipasi dalam menyiasati hoax-hoax yang beredar. Hal ini dikarenakan hoax bukan hanya dipandang sebagai hal negatif, tetapi bagaimana ASN melihat sebagai suatu peluang. Demikian penuturan Cahaya Indriaty sebagai narasumber pertama.

Sebagian besar menganggap hoax dari sisi negatif tetapi bagi yang jeli dan bijak, bisa menjadi sebuah peluang yang baik. Banyak orang yang tidak paham/tidak mengerti, mendudukan/memposisikan sebuah hoax, kurang jeli dalam melihat tipe dari hoax itu, Cahaya menambahkan.

Jika menerima informasi, sebaiknya tidak langsung di-share. Cari tahu dulu, apakah informasi tersebut benar atau salah. Telusuri dahulu kebenarannya melalui penelusuran elektronik. Selanjutnya Leny, sebagai narasumber kedua,  menginfokan apa yang dimiliki oleh perpustakaan Badan Litbang Kesehatan. Beberapa sumber informasi elektronik perpustakaan yang dapat diakses, antara lain e-journal, repositori Badan Litbang kesehatan, layanan ProQuest dan Taylor&Francis. Apabila ada yang membutuhkan atau ingin mencari informasi selain yang dimiliki Badan Litbangkes, akan dibantu untuk mencari melalui jejaring perpustakaan, jelas Leny.

Keamanan teknologi informasi sama pentingnya dengan kedua materi sebelumnya. Hasil survei informasi dan kebiasaan berisiko di medsos, 52,6% dari seluruh responden tidak pernah menggunakan password yang berbeda, di setiap akun media sosial. Beberapa saran dari Febri, sebagai narasumber ketiga, adalah

  • Memperhatikan password. Buat dengan minimal delapan karakter, terdiri dari alfa numerik (angka, karakter, tambahkan spesial karakter (tanda seru, tanda tanya, dsb).
  • Pastikan update. Jangan kudet (kurang update). Password diganti dalam beberapa periode pada sistem komputer. Kalau ada fasilitas enkripsi, gunakan.
  • Jadwalkan backup data. Jangan sampe data  jadi hilang karena tempat penyimpanan sudah penuh.
  • Waspada jangan asal klik. Baca, cermati dan pikir baik-baik sebelum klik.

Acara literasi digital diakhiri dengan rencana tindak lanjut dari Koordinator Substansi Jejaring, Informasi, dan Dokumentasi, Cahaya Indriaty, SKM., M.Kes. Informasi atau data merupakan dokumen negara. Tidak semua orang harus mengetahuinya. Bagaimana kita mengamankan informasi, dokumen, data yang ada di media digital, agar terjamin dan tidak jatuh ke pihak yang tidak berkepentingan. Ada 3 point yang harus ditindaklanjuti, yaitu audit literasi digital, Hoax Buster, dan forum di mana ASN Badan Litbangkes dengan mudah, bila ingin tahu atau ingin mengimplementasikannya, punya wadah, kemana harus minta bantuan atau pertolongan, ujar Cahaya. (EM)