Lindungi Subyek Manusia dan Peneliti dengan Etik Penelitian

170

Jakarta, Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) bertugas melakukan kajian aspek etik protokol penelitian kesehatan yang mengikutsertakan manusia sebagai subyek maupun memanfaatkan hewan coba. KEPK juga memberi persetujuan etik, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan penelitian. Beranggotakan  para pakar di bidang Kesehatan, penelitian dan lintas bidang ilmu, untuk melakukan review terhadap protokol penelitian observasional, eksprimental, epidemiologi, sosial budaya, gizi, dan dokumen lain yang yang diperlukan untuk memastikan unsur ilmiah dan etik sudah terpenuhi.

Badan Litbangkes pada tanggal 3 November 2020 telah menyelenggarakan webinar, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke- 56. Dengan tema “Kekhususan perlindungan subyek dalam penelitian kesehatan”. Dibuka oleh Kepala Badan Litbangkes,  dr. Slamet. MHP dengan narasumber Prof. Rianto Setiabudi membahas peran komisi etik penelitian kesehatan dalam melindungi subyek penelitian. Atamarita, MPH., Dr.PH membahas penelitian epidemiologi di masa pandemi. Prof. Dr. Endang L. Achadi, MPH., Dr.PH membahas kekhususan dan perlindungan subyek pada penelitian gizi di masa pandemi. Drs. Setia Pranata, M.Si membahas kekhususan dan perlindungan subyek pada penelitian sosial antropologi kesehatan di masa pandemi. Moderator webinar ini, adalah Prof. M. Sudomo ketua KEPK yang juga merupakan Profesor Riset di Badan Litbangkes.  Webinar ini disiarkan melalui Zoom, dan Youtube channel Balitbangkes TV.

Sekretaris Badan Litbangkes, DR. Nana Mulyana melaporkan, sejak Januari – November 2020 sejumlah 199 protokol yang harus ditelaah oleh KEPK. Banyak aspek yang harus diperhatikan pada masa pandemi covid-19. Ada penelitian yang harus dilaksanakan, namun harus memperhatikan protokol kesehatan. Data kesehatan masyarakat masih sangat dibutuhkan para pengambil kebijakan dan masyarakat. Khususnya yang berhubunngan dengan epidemiologi, gizi, dan sosial budaya. 

Pandemi covid-19 belum diketahui kapan akan berakhir. Pengumpulan data di masyarakat masih sangat diharapkan. Pesan Slamet, penelitian yang dilakukan dimasa pandemi tetap dituntut mengedepankan nilai-nilai ilmiah, etik, demi mendapatkan data yang valid juga tetap mematuhi protokol kesehatan. Oleh karena itu komisi etik penelitian kesehatan bertugas melindungi manusia, sebagai subyek, yang ikut serta dalam suatu penelitian atau uji klinik, serta melakukan monitoring dan evaluasi yang telah diterbitkan persetujuannya oleh komisi etik penelitian kesehatan.

Pada paparannya, Rianto mengatakan, penelitian pada subyek manusia adalah penelitian yang tidak dapat dihindarkan. Sebagus-bagusnya hasil penelitian pada hewan coba, sebelum terbukti pada manusia, maka itu belum menjadi bukti yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Sementara Endang merekomendasikan untuk tidak melaksanakan penelitian sampai pandemi covid-19 teratasi dari aspek responden/keluarga dan dari aspek tim peneliti. Pranata menambahkan bahwa di era pandemi ini, kegiatan penelitian di lapangan akan menghadapi tantangan etika dan logistik kompleks. Maka lembaga hendaknya menunda kegiatan penelitian di lapangan, dan peneliti menyesuaikan metode penelitiannya, sesuai norma dan kebijakan terkait pandemi. Sudomo mengingatkan, penelitian terhadap subyek selama pandemi covid-19, apalagi penelitian gizi, harus sangat hati-hati terhadap anak-anak, bayi dan balita. Disarankan agar pengukuran antropometri, yang dilakukan dengan cara kontak dengan subyek, agar tidak dilakukan selama pandemi.#EM/editor UAM