Laboratorium Indonesia Harus Siap Hadapi Novel Coronavirus 2019 (nCoV-2019)

1376
Aktifitas Peneliti Badan Litbangkes di Laboratorium

Awal tahun 2020 ini, dunia dikejutkan dengan kejadian pneumonia di Wuhan, China. Pada tanggal 5 Januari, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization (WHO)) memberikan pernyataan pertamanya mengenai kejadian ini. Saat itu, Badan Kesehatan Dunia menerangkan bahwa ada 44 orang terinfeksi pneumonia yang belum diketahui penyebabnya.

Hingga pada 12 Januari, WHO menyatakan bahwa pneumonia yang menginfeksi puluhan pasien di Wuhan disebabkan oleh Coronavirus, yaitu keluarga besar virus yang beberapa diantaranya menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah seperti flu biasa. Namun ada juga yang menyebabkan penyakit yang parah seperti Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

WHO terus memberikan informasi terkini perkembangan kejadian pneumonia ini. Pada tanggal 16 Januari WHO mendapatkan konfirmasi dari Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang bahwa ditemukan kasus novel coronavirus pada seseorang yang bepergian ke Wuhan, China. Dalam pernyataannya, WHO menyebutkan bahwa ini adalah kasus kedua setelah kasus yang dikonfirmasi di Thailand pada 13 Januari. Kemungkinan masih akan ditemukan kasus lainnya, mengingat tingginya mobilitas lintas negara.

Bagaimana potensi penularannya di Indonesia? Kemungkinan penularan di Indonesia dapat terjadi mengingat adanya penerbangan langsung dari Wuhan, China ke Denpasar. Apakah Indonesia siap menghadapinya?

Menanggapi kejadian ini Kepala Badan Litbangkes, Siswanto mengajak masyarakat untuk menanggapi hal ini secara proporsional. “Jangan takut yang berlebihan.”, ujarnya. Menurut Siswanto ada tiga pilar yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi yaitu to prevent, to detect dan to respond.

“Termasuk dalam to prevent adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, misalnya hati-hati jika akan bepergian ke Wuhan ataupun memakai masker jika batuk. Kemudian to detect yaitu kewaspadaan di pintu masuk wilayah, seperti di Kantor Kesehatan Pelabuhan, termasuk meningkatkan kemampuan rumah sakit dan klinik serta laboratorium. Adapun to respond terkait dengan rumah sakit, yaitu perawatan pasien yang terinfeksi dengan standar yang telah ditetapkan.”, tutur Siswanto.

Kesiapan Laboratorium Indonesia

Pada tahun 2005, WHO menerbitkan International Health Regulations (IHR) untuk mencegah, melindungi, mengendalikan, dan memberikan respon terhadap penyebaran penyakit tanpa mengganggu lalu lintas dan perdagangan dunia.

Bersama tujuh aspek lain yang diatur dalam IHR, laboratorium memainkan peran penting dalam pendeteksian, penilaian, respons, pemberitahuan, dan pemantauan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Laboratorium adalah bagian mendasar untuk mendukung kegiatan program kesehatan mulai dari pengawasan, diagnosis, pencegahan, pengobatan, penelitian dan promosi kesehatan.

Melalui Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes berperan sebagai pusat rujukan nasional dan pusat kerjasama laboratorium penyakit infeksi new-emerging dan re-emerging dengan dunia internasional.

Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Vivi Setiawaty mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berisiko tinggi terhadap penyakit infeksi. Memiliki ribuan pulau dan lebih dari 260 juta penduduk, Indonesia memiliki tingkat migrasi yang tinggi baik antarkota, antarpulau maupun antarnegara. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak pintu masuk, terutama di daerah tujuan wisata.

Menurut Vivi kesiapan laboratorium mendeteksi penyebaran novel coronavirus didukung oleh jejaring influenza yang telah ada. Saat ini ada lokasi sentinel surveilans influenza tersebar di 26 provinsi siap melakukan pengambilan sampel. Selain itu ada juga sentinel Severe Acute Respiratory Infection pada 6 rumah sakit di 6 provinsi.

Untuk mendeteksi penyebaran novel coronavirus hanya bisa dilakukan oleh laboratorium dengan kemampuan molekular. Fasilitas pemeriksaan molekular dimiliki oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan, Balai dan Balai BesarTeknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit, dan Badan Litbangkes.

Selain fasilitas laboratorium, kemampuan sumber daya manusia juga sangat penting. Pada tahun 2019 telah dilakukan kegiatan pelatihan dan peningkatan kapasitas antara lain Sertifikasi Tenaga Manajemen Biorisiko, Tatalaksana Pengiriman Spesimen Laboratorium, Pemeriksaan Laboratorium secara Molekuler, Pemeliharaan Biosafety Cabinet, dan Pemeriksaan Laboratorium secara Serologi.

Sebagai rujukan nasional penyakit infeksi, laboratorium Badan Litbangkes memiliki fasilitas Bio Safety Level 2, Bio Safety Level 3, dan Biorepository. Laboratorium Badan Litbangkes mampu melakukan pemeriksaan dengan kultur, serologis, molecular (Polimerase Chain Reaction (PCR), Sekuensing Sanger, Sekuensing Next Generation), GC/MS, flowcitometri, dan mikroskop fluorenscens. (dw)