Kolaborasi Dan Kerja Sama Global Harus Dilakukan Dengan Cermat

139

Jakarta– Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbang Kesehatan (Plt. Kepala Badan Litbangkes) membuka acara “Workshop Kerja Sama Penelitian Di Masa Pandemi Covid-19” di Jakarta pada tanggal 4 Agustus 2020 yang lalu. Pada kesempatan ini dr. Slamet, MHP mengemukakan pandemi Covid-19 berdampak luas dalam kehidupan masyarakat. Berbagai upaya pencegahan dan penyebaran harus terus dilakukan, aksi multilateral dalam mengatasinya menjadi tantangan yang harus dihadapi. Diplomasi sains menjadi salah satu cara untuk mendorong kolaborasi internasional antara komunitas ilmiah, pemerintah, dan sektor swasta. Hal tersebut dilakukan untuk merespon krisis kesehatan global dengan basis ilmu pengetahuan.

Kolaborasi internasional dalam bidang sains dinilai dapat membuka kesempatan berbagi pengalaman dari negara yang telah berhasil dalam mengatasi pandemi kepada negara yang membutuhkan masukan teknis maupun kebijakan. Kolaborasi dan kerja sama global antar negara di dunia menjadi semakin penting baik dalam penyediaan sarana kesehatan hingga riset bersama untuk menemukan vaksin Covid-19.

Menurut Slamet kolaborasi dan kerja sama global perlu mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Pusat, khususnya dalam hal koordinasi antar Kementerian dan supervisi dari Kementerian Kesehatan atas implementasi, monitoring dan evaluasi setiap kerja sama UPT Kemenkes dengan pihak Asing. Kebijakan Kementerian Kesehatan yang mendukung penanggulanan Covid-19 melalui riset sangat diperlukan, agar terjadi kerja sama penelitian–khususnya dengan mitra asing baik sektor pemerintah maupun swasta –yang saling menguntungkan.

Dalam pelaksanaannya, Plt. Kepala Badan Litbang Kesehatan menyatakan kolaborasi dan kerja sama global harus dilakukan dengan cermat. Secara umum, penyusunan perjanjian internasional meliputi dua tahap, yaitu tahap perundingan (negosiasi) dan tahap penandatanganan. Tahap negosiasi sangat ditentukan oleh kapabilitas seorang negosiator dan strategi dalam bernegosiasi, serta pemahamannya akan konsep diplomasi. Hal merupakan tahapan awal yang sangat penting menjadi kunci agar benefit sharing masing-masing pihak dapat difasilitasi dan tidak memberikan dampak kerugian bagi Indonesia.

Selain strategi dalam bernegosiasi, konsep diplomasi atas inisiasi kerja sama penelitian dengan mitra asing dan kebijakan Kementerian Kesehatan dalam mengawal kerja sama penelitian luar negeri, merupakan aspek yang harus kita pahami dan kuasai. Hal ini menjadi penting dalam rangka pelaksanaan kolaborasi dan kerja sama global untuk peningkatan pengetahuan dan kapasitas sebagai aparatur sipil negara. (paragraph ini saya hilangkan karena konsep diplomasi itu adalah seni bernegosiasi, dan pentingnya bernegosiasi sudah dijelaskan diatas)

Sekretaris Badan Litbangkes Dr. Nana Mulyana dalam laporannya  menyampaikan bahwa Workshop ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya tawaran kolaborasi dan kerja sama global dalam penanggulangan COVID-19. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan pemahaman aspek-aspek apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan kolaborasi dan kerja sama global, agar ¬benefit sharing masing-masing pihak dapat difasilitasi dan tidak memberikan dampak kerugian bagi Indonesia.

Workshop yang digelar secara virtual dihadiri Pejabat Tinggi dan Administrasi di lingkungan Kementerian Kesehatan, Para Analis Kebijakan Utama di Kementerian Kesehatan, Para Peneliti Utama di Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan, Para Anggota Komisi/Tim/Sentra di Badan Litbangkes, dan perwakilan unsur unit utama di lingkungan Kementerian Kesehatan. (Penulis: Fachrudin Ali, Penyunting: Ully Adhie)