Kesiapan Balitbangkes Menjadi Rujukan Ilmiah Dan Berperan Dalam Perumusan Kebijakan

444

Ada tantangan yang harus dihadapi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangkes) Tantangan itu mencakup adanya mandatory atau regulasi yang mengatur peran litbang kesehatan seperti adanya Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit yang mengatur fungsi pelayanan, pendidikan dan riset. Kemudian Peraturan Presiden tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan litbang sebagai salah satu sub sistem.  Lainnya, telah ada Peraturan Presiden Nomor 35 tahun 2017 mengenai daerah harus menghasilkan  Inovasi.

Selain itu, ada pula trend atau kecenderungan penyusunan kebijakan kesehatan dibuat berbasis fakta dan terjadi perubahan struktur kelembagaan UPT Badan Litbangkes sebagai miniatur Litbangkes di daerah. Kesiapan menghadapi tantangan itu, tergantung jajaran Balitbangkes khususnya menjadi rujukan ilmiah dan berperan dalam perumusan kebijakan berbasis fakta. Demikian disampaikan Sekretaris Balitbangkes Dr. Nana Mulyana saat memberikan pengantar dan arahan di acara Pra Rapat Kerja Balitbangkes tahun 2018 dengan tema “Membangun Sinergi Dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Hasil Litbangkes” di Jakarta, Rabu (4/4).

Nana Mulyana menyampaikan berdasarkan hasil diagnosis organisasi yang dilakukan di Sekretariat Balitbangkes, aspek yang paling rendah nilainya adalah Fokus pada stakeholder dan Mitra. Beberapa kausalitas terkait aspek ini yaitu Balitbangkes kurang proaktif berdiskusi dan berdialog dengan stakekolder, terutama Unit Utama Kemenkes, masih adanya rasa kurang percaya atau “trust” terhadap informasi hasil penelitian, apalagi kalau hasilnya berbeda dengan informasi hasil pelaporan program serta penelitian bersama yang melibatkan pihak luar, terutama stakeholder masih terbatas Kemudian potensi jejaring kerja yang ada belum didayagunakan dengan baik antara lain dengan Perguruan Tinggi Bidang Kesehatan dan Balitbangda. Sekretaris Balitbangkes juga menekankan masih terbatasnya kemampuan SDM Litbang dalam memformulasikan rekomendasi kebijakan hasil penelitian.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK, terutama IT dengan mengutip pendapat para pakar, Nana Mulyana menjelaskan kedepan merupakan dimensi digital. Artinya segala sesuatu aktivitas manusia, termasuk organsasi sangat tergantung dengan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Terdapat 5 ciri era digital atau digital question, yang ditandai dengan; (1) terkomputerisasi, (2) terkoneksi, (3) terintegrasi, (4) interaktif, dan (5) real time.

Sekretaris Balitbangkes berharap output dari raker dapat menghasilkan draft Ouput kinerja Balitbangkes tahun 2020-2024 serta norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) litbangkes yang menjadi draft pedoman. Selain itu dibuat rencana tindak lanjut (RTL) hasil raker. (ali/erwin)