Kesepakatan Riset Jamu Fitofarmaka

164

Jakarta. Pandemi COVID-19 belum usai.   Pemerintah telah berupaya menangani pandemi COVID-19 dengan melibatkan berbagai pihak, salah satunya industri farmasi. Hal ini dibuktikan dari penandatanganan kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, khususnya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu dengan PT Industri Jamu Borobudur terkait kerjasama riset jamu.

Penandatanganan kerjasama berlangsung di kantor Industri Jamu Borobudur, Semarang. Hadir secara virtual pada acara penandatanganan ini Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nana Mulyana. Kesepakatan kerjasama dilakukan Kepala B2P2TOOT Akhmad Saikhu dan Sarwono Direktur PT Industri Jamu Borobudur. Acara ini dilaksanakan secara daring, sehubungan masih dalam situasi PPKM pandemi COVID-19.

Kerjasama ini diperlukan sebagai bagian riset jamu fitofarmaka. Pelaksanaan riset ini bekerjasama dengan akademisi dan industri. Saikhu berharap kerjasama ini sukses dan masih bisa berlanjut di Tahun 2022.

Dalam kesempatan itu, Sarwono menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang mendukung pabrik seperti industri jamu Borobudur. Sarwono berharap pemerintah mendukung petani untuk menanam produk-produk yang laku, ada sekitar 50 produk. Hanya saja produk-produk jamu yang laku di lokal, kontennya kecil. Sambiloto, kijibeling atau yang lainnya yang bener-bener asli Indonesia, didukung atau dikembangkan supaya menjadi produk Indonesia andalan, ujar Sarwono. Produk Borobudur yang terkenal di Rusia adalah untuk kencing batu, bahkan permintaannya luar biasa.

Pada sambutannya, Nana Mulyana mengatakan Badan Litbang menambah mitra kerja yang strategis dan potensial yaitu PT Borobudur yang berpengalaman dalam memproduksi jamu untuk kesehatan dan kebugaran untuk peningkatan kesehatan. “Bagaimana masyarakat bisa meningkatkan aktifitas, salah satunya adalah bagaimana meningkatkan imunitas mereka”, ungkap Nana Mulyana.

Nana Mulyana lebih lanjut mengatakan banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan, apalagi terkait dengan covid-19. Kerjasama ini bisa dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Agar hasil uji klinis formula jamu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat perlu diambil langkah strategis mengingat pandemi Covid-19 belum tahu kapan berakhir. “Setelah MOU, segera melakukan langkah-langkah konkrit dengan timeline yang cepat. Kalau bisa akhir tahun 2021 sudah ada informasi hasil yang dapat dilaporkan”, harap Nana Mulyana. (EM)