Kekayaan Intelektual Melindungi Karya Peneliti

225

Jayapura. Kekayaan Intelektual (KI) memberikan perlindungan hukum sebagai bentuk apresiasi bagi
penemunya. Demikian diungkap oleh Dr. Fitrah Ernawati, M.Sc dalam pertemuan Sosialisasi dan Identifikasi Potensi
Kekayaan Intelektual hasil penelitian dan pengembangan di Balai Litbangkes Papua. Pertemuan yang dilaksanakan di
Balai Litbang Biomedis Papua pada 11 Oktober 2018 tersebut dirasa penting mengingat banyak potensi KI di Badan
Litbangkes termasuk di Balai Litbangkes Papua. Dalam paparannya, Dr. Hanna S. I. Kawulur, S. Pd., M.Si selaku
Kepala Seksi Layanan dan Sarana Penelitian, menjelaskan beberapa potensi KI di Balai Litbangkes Papua yaitu Peta
Anopheles di Tanah Papua; Pedoman Deteksi Dini Alergi Dapson; dan Keragaman Virus HIV-1 di Tanah Papua.

Masih dalam pertemuan yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani, Jayapura, lebih lanjut Dr. Fitrah Ernawati, M. Sc
menjelaskan pentingnya KI yang merupakan isu yang sangat penting dan mendapat perhatian baik di tingkat nasional
maupun internasional. Dengan KI diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan perdagangan. Selain itu dengan KI
dapat mendorong pengembangan kreatifitas yang inovatif yang merupakan kekayaan masa depan bagi sebuah bangsa.

Hadir dalam pertemuan tersebut Dr. Ir. Dewi Permaesih, M.Kes. Paten sebagai salah satu ruang lingkup KI menurut
Dr. Ir. Dewi Permaesih, M.Kes bukanlah sesuatu yang sulit untuk diraih. Meski pun dari sesuatu yang sederhana
atau sedikit modifikasi, paten dapat diraih. Dewi Permaesih mendorong para peneliti di Badan Litbangkes untuk
bersemangat dalam mengajukan KI. (Chan)

Bimbingan Teknis: Peneliti Eksis di Jaman Now
Oct 16, 2018

Jayapura, Oktober 2018. Di era globalisasi informasi, seorang peneliti harus mampu membuat jejak di dunia maya.
Sadar dengan hal ini, para peneliti di Balai Litbangkes Papua antusias melakukan registrasi pada aplikasi Science
and Technology Index (Sinta). Happy Chandraleka, ST yang merupakan staf Sekretariat Badan Litbangkes memaparkan
perlunya aplikasi Sinta yang merupakan aplikasi untuk pengukuran jurnal dan peneliti pada 12 Oktober 2018.

Dalam kegiatan yang diadakan di Balai Litbangkes Papua, Happy Chandraleka, ST juga menjelaskan kondisi terkini
terkait akreditasi jurnal nasional. Saat ini pengajuan akreditasi dilakukan melalui aplikasi Akreditasi Jurnal
Nasional (Arjuna) yang dikelola oleh Kementerian Riset dan Teknologi Tinggi. Selain itu pengajuan akreditasi
tidak lagi dilakukan dalam dua periode dalam setahun, tetapi dapat dilakukan setiap waktu. Dua hal ini merupakan
imbas dari pemberlakuan Peraturan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Dikti no 9 tahun 2018.

Dalam kesempatan yang sama Nowo Setiyo Raharjo, S.Sn, yang juga staf Sekretariat Badan Litbangkes memberikan
pelatihan singkat membuat infografis untuk penelitian. Hal ini dikarenakan kebutuhan infografis sebagai sarana
diseminasi hasil litbangkes semakin meningkat, baik untuk poster penelitian maupun diseminasi melalui media
sosial di Internet. Nowo Setiyo Raharjo memberikan konsep 3/30/300 untuk membuat sebuah infografis yang eye
catching. Semua hal ini diharapkan menjadikan para peneliti Badan Litbangkes semakin eksis di dunia maya. (Chan).