Jalan Panjang Pengembangan Obat Kanker

1941
Bajakah Karamoi, salah satu jenis bajakah di Kalimantan Tengah

Jakarta – Kepala Badan Litbangkes, Siswanto memberikan penjelasan mengenai bajakah, tumbuhan yang menjadi sangat popular beberapa hari terakhir ini. Siswanto yang sedang bertugas asistensi haji di Saudi Arabia, melalui aplikasi pesan instan WhatsApp pada Kamis(15/8) menerangkan bahwa bajakah dalam bahasa Dayak berarti akar-akaran, bukan nama spesies tumbuhan. Bajakah dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan tradisional.

Siswanto menyampaikan bahwa belum diketahui spesies bajakah yang diteliti oleh siswa SMA yang memenangkan medali emas pada ajang World Invention Creativity di Korea Selatan itu. “Riset tiga siswa SMA itu kalau tidak salah dibantu Universitas Lambung Mangkurat dengan uji in vitro cell line kanker payudara dengan ekstrak akar Bajakah. Dalam pengembangan obat kanker ini masih sangat awal”, terangnya.

Lebih lanjut Siswanto menerangkan langkah panjang pengembangan obat kanker yang harus dilakukan secara berurutan. Yang pertama dilakukan adalah mencari bahan aktif kimia yang mampu menghambat sel kanker untuk kemudian diisolasi. Selanjutnya adalah melakukan uji invitro ulang dengan cell line kanker. Jika terbukti menghambat sel kanker dilanjutkan dengan uji hewan coba. Setelah uji hewan coba terbukti baru dilakukan uji klinis pada manusia.

Uji klinis pada manusia dilakukan dengan menggandeng industri farmasi supaya bahan uji diproduksi sesuai Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Uji klinis pada manusia melewati 4 fase. Fase pertama adalah uji farmakokinetik dan farmakodinamik. Setelah terbukti terdistribusi menuju jaringan kanker dan mampu menghambat, pengujian masuk fase 2 untuk pembuktian efikasi pada sampel pasien kanker dengan jumlah terbatas.

Setelah uji fase 2 terbukti, dilakukan uji fase 3 untuk melihat efektivitas pada jumlah pasien yang lebih banyak. Jika fase 3 sudah lolos, baru bisa diproduksi secara ekonomi dengan ijin edar yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Siswanto menegaskan seluruh tahapan tersebut harus dilewati dengan kokoh. “Artinya, masyarakat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi bajakah untuk mengobati kanker. Dan bagi penderita sebaiknya konsultasi pada dokter ahli dibidangnya.”, ujarnya. (Day)