Isu Baru, Balitbangkes Kaji Dampak Mikroplastik Pada Manusia

152

Jakarta. Berawal dari pemberitaan beberapa media tentang kandungan mikroplastik yang ditemukan dalam air minum dalam kemasan (AMDK) dan air ledeng (tap water) di awal tahun 2018 lalu, Badan Litbangkes mendapat mandat dari Menteri Kesehatan untuk membuat kajian dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Hasil kajian ini nantinya diharapkan bisa menjadi dasar untuk membuat rekomendasi kebijakan terkait pajanan mikroplastik. Namun data dan informasi mengenai kandungan mikroplastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes mengadakan seminar sehari (11/4) bertajuk “Dampak Pajanan Mikroplastik terhadap Kesehatan”. Seminar yang diselenggarakan bekerja sama dengan Institut Kesehatan Indonesia (IKI) ini, menghadirkan para pakar dan peneliti terkait mikroplastik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), LIPI, ITB, dan UI.

Dalam arahan dan pembukaan Seminar Sehari Dampak Pajanan Mikroplastik terhadap Kesehatan, Kepala Badan Litbangkes Siswanto menyinggung bahwa isu mikroplastik ini menjadi salah satu pelajaran bagaimana agar suatu hasil riset bisa masuk ke siklus kebijakan nasional. “Jadi salah satu cara supaya hasil riset itu tidak berhenti di meja yaitu menggunakan media massa sebagai alat penekan, alat penekan namanya ya, nah kemudian begitu masuk di media massa, tentunya akan masuk ke perhatian publik. Begitu masuk ke perhatian publik akhirnya lah masuk ke dalam perhatian decision maker, penentu kebijakan. Nah dalam siklus itu namanya masuk dalam agenda setting, masuk dalam penetapan agenda. Buktinya apa masuk dalam penetapan agenda, kan ada perintah dari Ibu Menteri, tolong Badan Litbang mengkaji ini”, jelas Siswanto.

Di tingkat global, ternyata WHO juga belum menentukan allowable intake atau batas maksimal yang diperbolehkan untuk mikroplastik. “Setiap bahan kimia berbahaya itu ada namanya allowable intake, ternyata ini belum ada di WHO juga kan gitu ya. Artinya ngga ada allowable intake-nya mikroplastik kaya apa. Artinya ini adalah sesuatu yang baru. Oleh karena itu, kita harus berkolaborasi untuk menentukan tingkat bahayanya seperti apa”, terangnya lagi.

Masih banyak hal yang harus dijawab oleh riset terkait pengaruh pajanan mikroplastik bagi kesehatan manusia. Riset mengenai dampak mikroplastik terhadap makhluk hidup baru dilakukan pada biota laut. “Mikroplastik masuk melalui oral dan insang (pada ikan)”, papar Muhammad Reza Cordova, peneliti LIPI.

Siswanto pun menekankan pentingnya meneliti bagaimana dampak mikroplastik ini di tubuh manusia.  Tidak menutup kemungkinan bahwa pajanan mikroplastik berhubungan dengan meningkatnya jumlah penyakit tidak menular akhir-akhir ini. “Barangkali..ini harus diteliti juga kalau di manusia seperti apa sebenarnya? Apakah benar dia bisa masuk di…apa namanya di hepar misalnya, di liver kemudian masuk di ginjal dan menyebabkan penyakit tidak menular semakin naik. Jangan-jangan begitu ya, NCD (Non Communicable Disease/penyakit tidak menular) kan semakin naik, jangan-jangan karena ini. Ini harus diteliti, dibahas, dan dielaborasi”, ujarnya.

Seminar ini diharapkan dapat menjadi awal kolaborasi antar instansi untuk menjawab banyak pertanyaan tentang isu mikroplastik yang masih minim informasi. ”Harapan saya jika ini dikaitkan dengan suatu riset operasional maka harus diketahui seberapa besar masalahnya? Penyebabnya dari mana saja? Solusinya seperti apa ini yang menjadi penting”, ungkap Siswanto lagi. Hal ini diperkuat juga oleh penjelasan Eva Laelasari, peneliti Puslitbang Ukesmas, bahwa data masih terbatas. ”Kemenkes belum punya banyak data terkait dampak pajanan mikroplastik terhadap kesehatan (manusia) yang bisa dijadikan sebagai landasan untuk meramu rekomendasi kebijakan”, terangnya.

Selain paparan dari para pakar, para peneliti Bidang Kesehatan Komunitas Puslitbang Ukesmas pun menyajikan hasil scoping review terkait mikroplastik, pengelolaan sampah plastik di rumah tangga, dan pencemaran plastik berdasarkan sumber. (NB)