Integrasi Sistem Laboratorium Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Patogen Baru

80

Jakarta, Webinar Internasional HKN ke 57 yang diadakan Badan Litbangkes secara daring dengan mengambil tema Pentingnya Surveilans berbasis Laboratorium dalam mendukung Sistem Ketahanan Kesehatan Nasional resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin (17/11).

Menkes menekankan pentingnya kewaspadaan dini dan respon cepat atas ancaman krisis kesehatan. “Dukungan laboratorium pemeriksaan spesimen dan kegiatan WGS Covid-19 yang dikoordinasi dengan baik dari pusat hingga daerah merupakan bentuk kewaspadaan dan deteksi dini serta menjadi cikal bakal  kewaspadaan epidemi atau pandemi untuk patogen berikutnya yang tentunya kita harapkan tidak terjadi tapi kita harus bersiap dan waspada” ujar Menkes.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono yang turut hadir, memberikan pesan kunci mengingatkan peringkat Indonesia dalam Indeks Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Security Index) masih berada di tingkat bawah dibandingkan negara lain. Hal ini disebabkan sistem laboratorium surveillans yang tidak terintegrasi.

“Sistem organisasi laboratorium masih terlalu rumit. Influenza, TB, Polio dan pemeriksaan lainnya masih dilakukan di laboratorium tertentu, secara ideal jejaring laboratorium harus tidak terfragmentasi, dari pelayanan kesehatan tingkat primer ke tingkat nasional mengerucut seperti segitiga piramid, itu menjadi tantangan kita bersama” ungkap Dante.

Webinar Internasional HKN 57 ini menghadirkan beberapa pembicara dari luar negeri diantaranya Dr. Raymond Lin dari Kementerian Kesehatan Singapura pada sesi pertama menceritakan pengalaman negaranya dalam pelacakan kasus dengan WGS. Hingga November Singapura telah melakukan pemeriksaan sekuens terhadap 3 (tiga) ribu spesimen.

Pembicara kedua Dr. Dirk Eggink dari Kementerian Kesehatan, Kesejahteraan dan Olah Raga Belanda menekankan pentingnya kapasitas pemeriksaan sampel. Belanda melakukan sekuens terhadap 200 sampel atau 1500 sampel perminggu. Selain itu penyimpanan sampel (biorepository) juga sangat penting dilakukan.

Dr. Adam P. Roberts pada pembicara ketiga dari Inggris memberikan materi tentang pentingnya Whole Genome Sequencing (WGS) dalam mendeteksi kejadian resistensi anti mirkoba (AMR). Resistensi antimikroba adalah berubahnya sensitifitas bakteri atau mikrobakteri terhadap zat pembunuh nya (anti mikroba). Perubahan ini dapat terjadi akibat mutasi mikroba.  Dengan kolaborasi dan jejaring sekuensing serta penyimpanan sampel di biorepository kita akan bisa melakukan intervensi yang tepat  dalam pengobatan suatu kejadian penyakit.

Pada sesi kedua, bertindak sebagai pembicara keempat adalah Dr. Ristiyanto peneliti Badan Litbangkes di bidang zoonosis di Balai Besar Vektor dan Reservoir Penyakit mengingatkan kembali bahaya leptospirosis. Di Indonesia, penyebaran sudah ada di 29 provinsi sehingga faktor risiko leptospirosis ada di sekitar masyarakat kita. KLB (kejadian luar biasa) sering terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan yang menyebabkan ratusan orang terinfeksi dan 10% meninggal dunia. Penyakit cukup meresahkan, karena dapat mengakibatkan kematian dan mengganggu sektor ekonomi. Prof. Tjandra Yoga Aditama sebagai pembicara pamungkas memberikan gambaran tentang Tuberculosis (TB) di Indonesia melihat ada kemungkinan WGS dipakai untuk TB yaitu untuk penelitian dan analisis epidemilologi menggantikan testing surveilans yang selama ini dilakukan. Pada kesempatan ini pula, Prof. Tjandra mengusulkan kepemimpinan Indonesia dalam G20 harus dapat dimanfaatkan untuk memimpin penanggulangan dan diplomasi TB di tingkat global. (AF)