Implementasikan Peran Multi Aktor dan Multi Sektor dalam Permasalahan Stunting dan TBC

675

Jakarta. Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, Sp.M (K) berharap dalam mencegah stunting
dan menurunkan tuberkulosis (menemukan dan mengobatinya sampai sembuh), bukan hanya tanggungjawab Kementerian
Kesehatan (Kemenkes). “Saya memerlukan profesi, akademisi, media massa, ataupun lembaga kemasyarakatan’,
katanya lebih lanjut.

Peran multi aktor dan multi sektor ini sangat diperlukan. Namun hal ini harus diimplementasikan dan dikerjakan.
Bukan sekedar pajangan. “Tidak ada perbedaan, siapapun dalam hal ini untuk menuju paradigma sehat, kita galang
kemitraan, lakukan advokasi, dan sosialisasi”, ujar Menkes. Menkes juga mendorong, mengingatkan, serta
memotivasi untuk bekerja bersama dan tidak bekerja sendiri-sendiri karena tidak akan mencapai hasil yang baik.

Arahan disampaikan Menteri Kesehatan dalam acara Simposium Nasional dengan topik Sinergitas Multi Aktor dalam
Pencegahan Stunting dan Eliminasi TBC di Jakarta (Kamis 22/11). Acara ini merupakan rangkaian Peringatan Hari
Kesehatan Nasional ke-54 bidang ilmiah. Acara dihadiri jajaran eselon satu dan dua Kemenkes serta narasumber dan
undangan dari berbagai lintas sektor dan multi aktor antara lain dari perwakilan organisasi profesi, lembaga
swadaya masyarakat dan industri makanan.

Menkes menyebutkan ada tugas dari Wakil Presiden untuk pencegahan dan penurunan stunting di 100 kabupaten/kota.
Untuk tahun depan (2019) akan dilakukan di 160 kabupaten/kota. Untuk itu perlu dikerjakan bersama-sama untuk
daerah yang stuntingnya tinggi atau kekurangan gizi. Tentunya masing-masing ada perbedaan dalam hal melakukan
intervensi. Mudah-mudahan ini bisa berjalan. Hingga akhirnya angka stunting kita makin menurun dan mendekati
angka yang diminta WHO yaitu 20 persen.

Selanjutnya manajemen program dan penelitian harus saling mengisi gap yang terjadi. Harus dianalisa dan dinilai
ada apa. Kemudian lakukan penelitian. Program diharapkan mau bekerjasama untuk mengisi atau mengatasi semua
permasalahan ini.

Dengan adanya data Riskesdas tahun 2013 mengenai stunting sebesar 37,2% berarti ada 4 anak diantara 10 anak di
Indonesia stunting. Menkes menggarisbawahi dengan stunting berdampak pada tidak optimalnya daya pikir anak.

TBC merupakan penyakit menular. Walaupun saat ini sudah terjadi pergeseran kearah penyakit tidak menular, tetapi
TBC ini masih merupakan masalah yang luar biasa bagi Indonesia karena masih menjadi catatan di global. Indonesia
adalah negara dengan beban TBC tertinggi ketiga di dunia, setelah India dan China.

TBC juga sudah menjadi kesepakatan global. Karena dengan menularnya penyakit ini secara mudah, maka harus
betul-betul mengatasinya secara kongkrit dalam implementasi dan strategi nasional untuk dapat mendeteksi,
mengobati, dan mencegah resistensi dari pemakaian antibiotika. Disamping layanan kesehatan yang berkualitas yang
diperlukan.

Stunting adalah masalah gizi kronis yaitu kegagalan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Terkait juga dengan pengetahuan, khususnya tentang gizi dan nutrisi yang sebenar-benarnya. 2 tahun masa
pertumbuhan anak luar biasa penting. Selama menuju masa itu, anak harus diberi ASI, diberi makanan tambahan
pendamping yang tepat sehingga anak tidak mengalami penurunan IQ dan pola pikir.

Menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai dampak stunting itu penting. Hal ini diperlukan untuk mengubah
perilaku. Damapak dari stunting pada anak usia dini akan berpengaruh pada kelangsungan hidup, mudah sakit, dan
fungsi tubuh yang tidak seimbang dan akan mempengaruhi produktifitas dari masyarakat. Ada kerugian ekonomi juga
yang timbul. Data World Bank, PDB negara kita Rp.13.000 triliun (2017), maka kerugian akibat stunting
diperkirakan sebesar 260 sampai 390 triliun.

Sebelum arahan Menkes, Kepala Badan Litbang Kesehatan dr. Siswanto.,MHP,DTM menyampaikan laporan kegiatan.
Kepala Balitbangkes melaporkan latar belakang pentingnya seminar ini, karena Pemerintah telah menjadikan
penurunan stunting dan eliminasi TB sebagai fokus penyelesaian masalah kesehatan yang harus segera diselesaikan,
walaupun dari hasil Riskesdas 2018 telah mengalami penurunan secara signifikan. Namun hal ini masih perlu
penajaman dalam mempercepat pencapaiannya. Oleh sebab itu dari seminar ini diharapkan mendapatkan masukan dari
semua pihak yang terlibat untuk melakukan terobosan-terobosan baru dari berbagai pandangan.

Siswanto menyebutkan peserta yang hadir pada acara ini sekitar 200 orang terdiri dari kementerian/lembaga
negara terkait, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha dan jajaran kementerian kesehatan. Narasumber
berasal dari berbagai komponen seperti Tim Penggerak PKK Pusat yang anggotanya merupakan ujung tombak sebagai
mitra Kementerian Kesehatan, dunia usaha dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, akademisi, serta
praktisi. Sebanyak 22 poster ditampilkan dalam acara tersebut. (teks: ali/foto: nowo/amang)