Perbaiki Program Kesehatan

80

Jakarta– Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Siswanto menutup acara Diseminasi Hasil Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) Tahun 2019 di Jakarta, 30 Januari 2020. Kepala Balitbangkes mengharapkan hasil diseminasi Rifaskes 2019 ditindaklanjuti agar menjadi perbaikan di program sehingga pembangunan kesehatan akan menjadi efektif dan efisien.

Salah satu kesimpulan yang disampaikan Kepala Balitbangkes saat sesi penutupan yakni pembahasan hasil Rifaskes 2019 pada dasarnya membahas gap atau masalah. Seperti terkait pembahasan angka kematian ibu, bagaimana kesiapan Puskesmas dalam memberikan pelayanan. Hal ini terkait dengan pemenuhan tenaga di Puskesmas. Ternyata berdasarkan hasil Rifaskes 2019 tidak semua tenaga kesehatannya bagus. Kemudian tidak semua Puskesmas PONED serta tidak semua Puskesmas bekerjasama dengan unit teknis di daerah (UTD).

Secara umum bahwa Puskesmas di Indonesia Timur katakanlah lebih bermasalah dibandingkan Puskesmas di wilayah Indonesia Barat. “Jadi sudah betul banyak anggaran DAK (Dana Alokasi Khusus) lebih diarahkan ke Indonesia Timur”, jelas Siswanto. Walaupun tetap perlu penajaman DAK ungkapnya lebih lanjut.

Berbicara hasil Rifaskes di RS terkait penurunan angka kematian ibu bagaimana RS secara fasilitas juga sudah siap melayani seperti menyediakan kebutuhan tenaga obsgyn untuk di RS Tipe C maupun penyediaan fasilitas pelayanan PICU dan NICU.

Secara umum rumah sakit yang paling ekonomis dan efisien adalah rumah sakit tipe C. Bila dilihat efisiensi per kelas, maka rumah sakit klas C paling efisien. Kemudian Kepala Balitbangkes menyampaikan jika RS ingin produktifitasnya naik ada dua yaitu meningkatkan efisiensi di proses bisnis dan meningkatkan volume pelayanan.

Cashflow penting karena dapat meningkatkan volume pelayanan. Untuk meningkatkan cashflow bisa dilakukan dengan mengkonversi aset (seperti gedung dan sdm) menjadi uang. Caranya dengan memperbaiki peran manajemen internal seperti dokter dan manajemen pelanggan. Keduanya harus dikombinasikan sehingga akan meningkatkan produktifitas RS.

Rifaskes 2019 dilakukan sebagai upaya memotret hasil dan kemajuan pembangunan di bidang kesehatan, khususnya fasilitas pelayanan kesehatan tahun 2011–2019. Hasil Rifaskes tahun 2011 secara umum menunjukkan kondisi fasilitas Pelayanan kesehatan, khususnya Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) Umum Pemerintah, saat sebelum dilaksanakannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tahun 2014. Hasil Rifaskes 2019 dapat digunakan untuk melihat kondisi fasilitas pelayanan kesehatan setelah kurang lebih 5 tahun pelaksanaan JKN atau saat memasuki era Pelayanan kepesertaan JKN Semesta.

Berbeda dengan Rifaskes 2011 yang melakukan pengumpulan data di seluruh puskesmas dan RS Pemerintah di Indonesia, pada Rifaskes 2019 pengumpulan data dilakukan di seluruh puskesmas (9831 puskesmas dengan respons rate 99,2%), dilakukan di seluruh 144 RS Rujukan mengacu Peraturan Menteri Kesehatan (HK. 02.02/Menkes/390/2014 dan HK 02.02/Menkes/391/2014), 388 RS di luar daftar RS Rujukan Permenkes, 416 apotek, 399 laboratorium klinik mandiri, 401 praktek mandiri bidan, 405 praktek mandiri dokter, serta 416 klinik.  Rifaskes 2019 diselenggarakan di akhir pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2015–2019. Ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran keberadaan fasilitas kesehatan di Indonesia sebagai hasil dari pembangunan periode tersebut, sekaligus menjadi dasar (baseline) bagi pelaksanaan pembangunan pada RPJMN dan Renstra Kemenkes 2020-2024. (Fachrudin Ali Ahmad/Happy Chandraleka)