Hasil Kajian Agar Tepat Waktu dan Sasaran

505

Jakarta– —Salah satu akun media sosial Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yakni twitter, telah yang banyak mendapat respon dan tanda suka (likes) dari netizen. Akun ini yang menampilkan gambar enam langkah mencuci tangan dengan air mengalir serta video yang menyajikan budayakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), diantaranya adalah salah satunya himbauan untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Demikian hasil Kajian Komunikasi Publik Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan (Puslitbang HMK) yang disampaikan Tety Rachmawati melalui Rapat Virtual dengan topik Diseminasi Hasil Kajian Kepatuhan Masyarakat Terhadap Himbauan Jaga Jarak dan PHBS selama Pandemi Covid-19 di Jakarta (Jumat, 22 Mei 2020).

Ditambahkan lagi, postingan di akun sosmed Kemenkes lain yakni Menyusul menurut Tety Rachmawati akun Instagram yang banyak mendapat respon dan likes yang menampilkan video yang memperlihatkan cara CTPS dan anjuran CTPS disertai slide testimonial dari Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sembuh. Sementara itu posting yang menjadi favorit netizen di Aakun facebook Kemenkes adalah tampilan yang menampilkan infografis yang tentang menampilkan informasi jaga diri, jaga sesama dengan salah satunya menyajikan CTPS dengan benar. juga memperoleh respon dan likes banyak dari netizen.

Pengumpulan data untuk kajian ini dilakukan mulai 31 Maret 2020 hingga 5 April 2020 menggunakan angket elektronik yang dilakukan secara snowball melalui di media sosial kepada masyarakat. Terjaring 19.654 responden yang tersebar di 34 Provinsi.

Secara umum kajian ini menyimpulkan terkait kepatuhan jaga jarak dan PHBS sudah baik namun masih adanya tingkat kepatuhan dengan kategori rendah. Kategori rendah merupakan hasil pembobotan terhadap indikator pengetahuan, pemahaman instruksi, dan lingkungan sosial untuk variabel Jaga Jarak serta keyakinan, sikap dan perilaku untuk variabel PHBS. Kelompok kategori rendah terhadap kepatuhan jaga jarak lebih banyak berada pada kelompok laki-laki umur 17-35 tahun serta bekerja sebagai buruh, nelayan serta petani.

Salah satu rekomendasi yang perlu dilakukan oleh pemerintah pusat hingga kelurahan dan desa seperti disampaikan Tety Rachmawati yaitu secara terus menerus melakukan edukasi melalui berbagai saluran yang ada (media sosial, media elektronik, leaflet, dan kelompok masyarakat khususnya terkait praktik higienes perorangan (CTPS), perilaku menyentuh barang ketika keluar, benda yang dihindari disentuh, perilaku membersihkan diri setelah keluar rumah, dan upaya higienes lainnya.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbangkes Prof. Abdul Kadir berharap kajian ini bermanfaat dan sedapat mungkin semua kajian yang dilakukan harus tepat waktu dan sasaran. Selain tidak berakhir dalam bentuk dokumen, tetapi dapat dieksekusi di lapangan dan diterima masyarakat.

Prof Abdul Kadir menyatakan Peranan media sosial saat ini luar biasa. “Kita harus masuk ke dalam diseminasi melalui media sosial, misalnya mengisi fitur edukasi di IG, twitter, youtube yang menyentuh masyarakat”, ungkapnya lebih lanjut. Ini digunakan untuk melawan persepsi negatif tentang pemerintah
Di akhir acara Kapuslitbang HMK Soegianto menyampaikan untuk mentransfer hasil penelitian ini menjadi kebijakan bukan hal yang mudah karena butuh proses yang panjang. “Advokasi yang dimulai dari diseminasi adalah tahapan awal”, kata Soegianto. Sebuah penelitian untuk menjadi kebijakan tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab Badan litbangkes saja, namun semua lini Kemenkes harus saling membantu. Upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat sudah sesuai target tetapi perlu dukungan satuan kerja atau unit utama yang lain.
(Fachrudin Ali Ahmad/Ripsidasiona)