Gandeng Dinkes Gorontalo, Pemerintak Ajak Sukseskan Vaksinasi Covid-19

242

Jakarta – “Untuk kelancaran program vaksinasi Covid-19 ini diperlukan edukasi tentang Covid-19 bagi Nakes di Fasyankes sebagaimana kita laksanakan pada malam hari ini”, ungkap Slamet, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dalam webinar “Ayo Kita Divaksinasi Covid-19” pada Selasa (09/02/2021). Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Badan Litbangkes bersama Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Gorontalo.

Menurut Slamet, saat ini masih banyak masyarakat yang memerlukan informasi lebih komprehensif tentang Covid-19. Sebab itu diperlukan upaya aktif dari tenaga kesehatan (Nakes) agar dapat memberikan informasi pentingnya vaksinasi untuk mempercepat penanggulangan pandemi Covid-19.

Lebih lanjut Yana Yanti Suleman, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, menyampaikan capaian target vaksinasi Covid-19 bagi Nakes untuk Provinsi Gorontalo. “Sampai dengan hari ini di Provinsi Gorontalo dari 6 Kabupaten/Kota mencapai 66,48% untuk dosis pertama. Untuk dosis kedua baru mencapai 18,93 % karena baru lingkup 3 Kabupaten”, ujarnya.

Atensi pemerintah saat ini memprioritaskan Nakes sebagai prioritas utama dalam program vaksinasi massal. Hal tersebut dikarenakan tenaga kesehatan merupakan ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan dan menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko tertular Covid-19. Sebagai gambaran, angka kematian tenaga medis di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 600 orang sebagaimana diungkapkan Irianto Dunda, Ketua IDI wilayah Gorontalo.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa vaksinasi Covid-19 bukan hanya program Indonesia, namun sudah menjadi program dunia. Hingga hari ini sudah lebih dari 100 juta orang telah divaksinasi Covid-19.

Tjandra menyebutkan per tanggal 29 januari 2021 ada 63 vaksin di dunia yang sudah melalui tahap uji klinik dan 174 yang melakukan pre-klinik dengan berbagai platform pembuatannya. Menurutnya semua itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan sah-sah saja untuk dipakai dalam pembuatan vaksin. Kendati demikian Ia menjelaskan mutu vaksin yang keluar dari pabrik harus sama dengan yang disuntikkan.

“Prinsipnya adalah vaksin yang dikeluarkan di pabrik, mutu vaksin yang keluar dari pabrik harus sama persis dengan mutu vaksin yang disuntikkan pada teman-teman di Gorontalo”, tegasnya.

Selanjutnya, Juru Bicara Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini pemerintah telah melakukan upaya akselerasi cakupan vaksinasi Covid-19. Caranya adalah dengan menambah jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan, menambah pos vaksin, serta menambah hari dan jam pelayanan. Langkah ini terus dilakukan sehingga rasio antara 1 orang pemberi vaksin dengan jumlah yang divaksinasi itu bisa mencapai 40-60 orang per harinya.

Selain itu dapat dilakukan dengan menambah vaksinator agar semakin banyak yang dapat memberikan pelayanan vaksinasi. Pemerintah juga telah menerapkan langkah vaksinasi massal di beberapa tempat untuk akselerasi. Tentunya akan sangat efektif jika kemudian Nakes ini terkonsentrasi.

Nadia juga mengingatkan bahwa vaksinasi ini tidak dapat pisahkan dari upaya memperkuat 3M dan 3T, baru kemudian ini adalah kunci kita untuk bisa mengendalikan pandemi Covid-19 dan keluar dari situasi ini dan perlahan ekonomi kita bisa kembali bangkit. (Penulis : Ripsidasiona; Editor : Faza Nur)