GAKI dan Stunting Masih Menjadi Masalah Penelitian di Magelang

1398

Magelang–Balai Litbangkes Magelang menyelenggarakan diseminasi hasil-hasil penelitian tahun 2018 sebagai wujud pertanggungjawaban kepada wilayah penelitian dan negara. Demikian arahan Kepala Balai Litbangkes Magelang, Dr.dr.Suryati Kumorowulan,M.Biotech dalam pembukaan acara di Hotel Oxalis Regency Kota Magelang (13/9). Hal tersebut diungkapkan Suryati di hadapan para stakeholder yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, Balitbangda, rumah sakit dan perguruan tinggi sekitar wilayah Jawa Tengah, DIY serta Bukit Tinggi. GAKI dan stunting masih menjadi topik masalah penelitian yang diangkat dalam diseminasi kali ini.

Mengawali acara, Iwan Khawlani, SKM,M.Si Kepala Seksi Surveilans Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes, memaparkan arah kebijakan dan percepatan penurunan stunting yang terintegrasi Iwan mengulas pentingnya integrasi program penanganan stunting di daerah oleh Dinas Kesehatan dan lintas sektor lainnya. Sudah banyak program dilakukan namun belum terintegrasi menurutnya. Selain itu, Iwan berharap agar Balai Litbangkes Magelang mendukung Direktorat Gizi Masyarakat dalam uji coba produk kebijakannya.“Kami berharap Balai Litbangkes Magelang bisa membantu kami Direktorat Gizi Masyarakat untuk menguji coba kebijakan yang kami buat. Karena semenjak Pusitbang Gizi Bogor bubar, kami tidak bisa mengujicobakan produk kebijakan kami”, jelasnya.

Acara berlanjut ke sesi paparan hasil-hasil penelitian para peneliti Balai Litbangkes Magelang. Sesi diawali oleh Slamet Riyanto,S.Gz yang menjelaskan temuannya bahwa fungsi kognitif  (IQ) dan prestasi belajar anak usia sekolah yang tinggal di daerah replete GAKI lebih rendah dibandingkan dengan anak usia sekolah yang tinggal di daerah non replete. Daerah replete GAKI adalah daerah yang memiliki riwayat endemik GAKI namun telah mengalami perbaikan seiring dengan adanya program pemerintah.

Selanjutnya dr.Suryati memperkenalkan kit/alat yang dikembangkan sebagai alat ukur kadar iodium garam secara kuantitatif dan aplikatif di lapangan. Alat ini telah diujicobakan pada wanita usia subur di daerah produsen garam dan daerah dengan berbagai tingkat kecukupan iodium (Bukit tinggi, Yogyakarta dan Purworejo).

Penelitian berikutnya adalah penelitian klinis tentang Pengaruh Pemberian Ekstrak Kedelai Yang Mengandung Isoflavone Genistein Terhadap Fungsi Kelenjar Tiroid Pada Tikus Hipertiroid, yang disampaikan oleh Ismi Setianingshi, S.Gz. Dilanjutkan paparan hasil penelitian dr. Wayan Dani tentang Karakteristik Biokimia, Klinis Dan Pola Makan Pasien Goiter di Klinik Litbang GAKI Magelang. Simpulannya cukup menarik karena ternyata pasien goitre/gondok yang berkunjung ke klinik lebih banyak penderita kelebihan iodium (hipertiroid) dibandingkan penderita hipotiroid. Saran dari penelitian ini berpotensi untuk dijadikan rekomendasi kebijakan setempat yakni perlunya control rutin untuk program fortifikasi iodium sehingga dapat mencegah terjadinya kelebihan iodium di masyarakat. Kelebihan iodium ini dapat berakibat buruk untuk kesehatan jantung. (novi)