Dukung Percepatan Penurunan Stunting, Badan Litbangkes Lakukan 2 Survei Ini

1255

Bekasi – “Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) yang dilakukan Badan Litbangkes merupakan salah satu upaya dalam percepatan penurunan stunting”, tegas Siswanto saat pembukaan acara Workshop Penanggung Jawab Teknis (PJT) Provinsi dan Kabupaten/Kota SSGI di Bekasi, Jawa Barat (Senin, 24 Februari 2020). Hasil kedua survey ini akan digunakan sebagai bahan monitoring dan evaluasi berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam penurunan stunting.

Pemerintah Indonesia di era RPJMN 2020-2024 ini memang menempatkan peningkatan kualitas manusia Indonesia sebagai misi utama. Untuk meningkatkan kualitas daya saing sumber daya manusianya, maka pemerintah Indonesia membuat percepatan penurunan stunting sebagai salah satu major project.

Siswanto pun sangat menekankan pentingnya validitas dan kualitas data. “Setiap PJT harus menjadi penjamin kualitas data. Artinya bahwa PJT kabupaten/kota bertanggung jawab pada kualitas data yang dikumpulkan”, kata Siswanto. “Pelatihan ini menjadi sangat penting..kalau ngga datanya akan tidak valid”, ujarnya lagi.

Untuk menjaga validitas eksternal survei dan menyikapi permintaan Kantor Staf Presiden (KSP) agar data SSGI mewakili kabupaten/kota, maka sampel Susenas BPS yang juga menjadi sampel SSGI telah ditingkatkan menjadi 345.000 ruta (rumah tangga) dari sebelumnya yang hanya 320.000 ruta. “Kalau bisa jangan sampai ada yang drop out”, tambah Siswanto. 

Adapun indikator pengukuran validitas internal survei adalah mengukur apa yang seharusnya terukur. Untuk itu diadakan workshop mulai dari Master of Trainer (MoT), Training of Trainer (ToT) hingga pelatihan surveyor dengan tujuan penyeragaman materi dan instrumen SSGI tahun 2020. Workshop ini berada di bawah tanggung jawab Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat sebagai koordinator wilayah (korwil) II yang membawahi 7 provinsi yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat dan Maluku. 

Salah satu upaya untuk menjamin validitas internal ini, tim manajemen membuat aplikasi registrasi dengan pindai kode batang (barcode) setiap mereka masuk atau keluar ruang kelas. Sehingga berapa lama jam pelajaran yang ditempuh peserta dalam mendapatkan materi dapat lebih terpantau.

Selama dua belas hari, peserta mendapatkan banyak materi dari para pengajar di bawah koordinasi ketua tim teknis DR. Agus Tri Winarto. Beberapa materi tersebut diantaranya adalah tentang pedoman buku foto makanan, resep dan cara penimbangan makanan, serta pengisian kuesioner konsumsi individu. Selain itu peserta melakukan praktek wawancara, pengukuran antropometri balita dan praktek lapangan di posyandu dan rumah tangga.

Selain materi di atas, workshop pun diisi oleh 3 narasumber penting yakni Gantjang Amanullah dari BPS, Siti Sundari dari Komisi Etik Penelitian Badan Litbangkes dan Dodi Izwardi dari Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes. (NB)