Donggala Bangkit Pascabencana, Kawal Eradikasi Schistosomiasis 2025

9

Palu – Balai Litbangkes Donggala harus bangkit pascabencana, melanjutkan tugas fungsi utamanya di daerah dan
mengawal eradikasi schistosomiasis di Indonesia tahun 2025. Hal ini disampaikan Kepala Badan Litbangkes,
Siswanto, dalam arahan dan pembukaan Diseminasi Hasil Penelitian Balai Litbangkes Donggala (6/12). “Tugas utama
Balai Litbangkes Donggala harus melakukan penanganan masalah kesehatan utama di daerah. Masalah kesehatan utama
di Sulteng adalah schisto (schistosomiasis), maka Balai Donggala harus mengawal eradikasi schisto ini”, ujarnya.

Siswanto memaparkan pula bahwa peran litbangkes dalam pengendalian schistosomiasis ditekankan pada 5 hal yakni
mengukur besar masalah, mencari penyebab masalah, mengembangkan solusi, implementasi solusi dan evaluasi.
Tercatat 22 kegiatan litbangkes dalam rangka pengendalian schistosomiasis yang telah dilakukan oleh Balai
Litbangkes Donggala dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, 2 diantaranya ada studi evaluasi.

Salah satu studi evaluasi yang dipaparkan dalam kegiatan diseminasi ini adalah “Studi Akselerasi Pencapaian
Eliminasi Pengendalian Schistosomiasis di Daerah Endemis Tahun 2020”. Studi ini penting dilakukan mengingat
bahwa eliminasi merupakan tahapan sebelum eradikasi. Eradikasi schistosomiasis telah menjadi komitmen nasional
yang digaungkan oleh Kementerian Kesehatan dan Bappenas akhir tahun 2015. Peta jalannya pun telah disusun pada
tahun 2017. Namun pada kenyataannya masih ditemukan beberapa tantangan, diantaranya adalah keterbatasan anggaran
daerah dan pola pikir masyarakat terkait penyakit schistosomiasis. Demikian disampaikan Hayani Anastasia salah
seorang peneliti Balai Litbangkes Donggala, yang juga merupakan peneliti utama riset ini.

Berdasarkan hasil riset, 53,6% program lintas sektor yang direncanakan dalam roadmap tidak terlaksana di tahun
2018. Kendala ini timbul karena pemberantasan schistosomiasis bukan program prioritas di kementerian/lembaga
pusat terkait sehingga sulit memunculkan anggaran khusus terkait hal tersebut. Adapun kegiatan-kegiatan lintas
sektor yang telah diupayakan di tingkat provinsi dan kabupaten (Poso dan Sigi) diantaranya adalah pembangunan
saluran air (Dinas Pekerjaan Umum), pembukaan lahan dan penyediaan bibit (Dinas Pertanian), pemeriksaan tinja
hewan (Dinas Peternakan) dan sebagainya.

Selain evaluasi program, riset ini pun melakukan intervensi di 6 desa percontohan. Beberapa desa telah berhasil
menurunkan prevalensi schistosomiasis, meski di awal tidak sedikit golongan masyarakat yang melakukan
perlawanan. Desa Dodolo berhasil mebuat peraturan desa tentang schistosomiasis yang didalamnya memuat aturan
tentang pengobatan, pengumpulan tinja, dan gotong royong pembersihan daerah fokus (daerah positif
schistosomiasis). Bahkan Desa Tomihipi dengan Gerakan Masyarakat Mandiri Berantas Keong Schistosomiasis (Gema
Beraksi), telah berhasil menihilkan prevalensi schistosomiasis. “Gema Beraksi” ini merupakan gerakan pembersihan
lingkungan secara teratur oleh masyarakat secara gotong royong.

Hal tersebut sejalan dengan arahan Siswanto bahwa dibutuhkan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian
schistosomiasis. “(Upaya) yang ketiga adalah pemberdayaan masyarakat. Masyarakat harus memiliki sense of
belonging terhadap masalah ini, sehingga ini menjadi perhatian bersama”, pungkasnya.

Acara diseminasi ini diselingi dengan acara penyerahan bantuan untuk para pegawai Balai Litbangkes Donggala dan
keluarganya yang tertimpa musibah. Bantuan berupa donasi diserahkan secara simbolis oleh Kepala Badan Litbangkes
kepada Kepala Balai Litbangkes Donggala, Mohamad Faozan. Selain itu dilakukan penandatanganan perpanjangan
perjanjian kerja sama antara Balai Litbangkes Donggala dengan STIFA (Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi) Pelita Mas
dan Poltekkes Palu. (NB)