Dampingi Kalsel “Bergerak” Wujudkan Masyarakat Sehat

424

Banjarmasin – Badan Litbangkes mendampingi Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyusun rencana operasional kegiatan 2019 dan rencana aksi 2020 dalam acara Pra Rakerkesda (Rapat Kerja Kesehatan Daerah). Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Rakerkesda di Banjarmasin (3-7/3). Rakerkesda Tahun 2019 ini mengusung tema: “Kolaborasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah Bergerak untuk Mewujudkan Kalimantan Selatan Sehat”.

Dalam proses pendampingan, Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan Balitbangkes yang merupakan penanggung jawab binaan wilayah (binwil) Provinsi Kalimantan Selatan ini, memberikan banyak masukan, diantaranya terkait percepatan pencegahan stunting. Beberapa masukan tersebut disampakan saat sesi diskusi penyusunan rencana operasional kegiatan dan rencana aksi daerah (RAD) 13 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota saat Pra Rakerkesda (4/3). Rombongan diketuai Kepala Puslitbang, Sugianto. Sugianto dan tim mengawal penyusunan RAD agar tidak bersifat normatif dan melakukan pendekatan masalah berdasarkan kondisi wilayah setempat (local spesific).

Profesor bidang perilaku kesehatan, Niniek Lely Pratiwi, memberi masukan agar pemerintah daerah memberikan susu sebagai pemberian makanan tambahan (PMT) dan MP-ASI untuk penderita stunting serta sinergitas antar upaya satu dengan lainnya dengan kendaraan PIS-PK (Pendekatan Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga). Doktor bidang stunting, Ni Ketut Aryastami, mendorong seluruh kabupaten/kota untuk membuat program inovasi dalam pencegahan stunting dengan dampak yang berkelanjutan (sustainable). “Buat inovasi terkait stunting dengan dampak yang sustain, contoh dari CSR (Corporate Social Responsible), minta agar perusahaan membiayai bumil KEK (Kurang Energi Kronis) sampai anaknya lahir”, ujarnya.

Rakerkesda memang fokus pada 5 isu strategis yang merupakan mandat dari pusat yakni peningkatan cakupan dan mutu imunisasi, percepatan eliminasi TB, percepatan penurunan stunting, peningkatan pencegahan dan pengendalian PTM (penyakit tidak menular), serta percepatan penurunan AKI dan AKN. Secara mendalam, terungkap hal terkait lain diantaranya vaksin halal, kekurangan tenaga bidan desa dan promosi kesehatan, serta defisit BPJS.

Dalam arahannya Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, menyampaikan data beban penyakit yang ditunjukkan dengan Tahun Hidup Yang Hilang akibat Kematian Dini dan Disabilitas (DALY lost). Selaras dengan angka nasional, Prov. Kalsel pun mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular selama 2 dasawarsa (1990-2017) yakni stroke, peyakit jantung iskemik dan DM (diabetes mellitus). Selain itu, permasalahan penyakit menular dan cedera di Prov. Kalsel ternyata lebih tinggi daripada angka nasional.

Terkait vaksin halal, Bupati Hulu Sungai Selatan, Abdul Wahid, menyelipkan harapan di akhir paparannya kepada Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, yang turut hadir. “Mohon masalah (vaksin) halal diselesaikan masalahnya”, tuturnya. Beberapa wilayah di Bumi Lambung Mangkurat memang masih menghadapi kendala akibat isu vaksin halal, yakni Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Banjar. Hal ini menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi di 2 kabupaten tersebut, khususnya imunisasi yang baru digalakkan yakni imunisasi campak dan rubella atau Measles and Rubella (MR). Banyak upaya telah dilakukan antara lain terus mendekati para tokoh agama di wilayah sekitar.

Kepala Badan Litbangkes, Siswanto, pun memberikan masukan terkait stunting saat sesi dialog interaktif Rakerkesda bersama Menkes Nila dan Kepala Dinas Kesehatan Prov. Kalsel, Muhamad Muslim. Siswanto meluruskan pendapat salah satu peserta yang menganggap prioritas pembangunan gizi sekarang hanya pada stunting, tidak lagi pada gizi buruk/kurang. “Menurut hemat kami nggak juga …kan ada 3 parameter gizi jadi kan ada berat badan menurut umur gitu ya, dalam bahasa indonesianya gizi buruk gizi kurang, ada tinggi badan menurut umur ini yang disebut stunting atau pendek…satu lagi adalah berat badan menurut tinggi badan yang kita sebut kurus atau bahasa inggrisnya wasting…jadi tiga-tiganya tetep dikerjakan tapi fokus pada stunting”, tegas Siswanto. (novi)