Dampak Perubahan Iklim bagi Sektor Kesehatan

888

Jakarta, Plt. Kepala Badan Litbangkes, Dr. Nana Mulyana meluncurkan buku Data dan Informasi Dampak Perubahan Iklim Sektor Kesehatan Berbasis Bukti di Indonesia pada Selasa, 21 Desember 2021 di Jakarta. Dalam sambutannya Nana menyampaikan bahwa perubahan iklim adalah isu yang penting baik di tingkat nasional, regional, maupun global. Nana berharap buku hasil kajian perubahan iklim ini dapat bermanfaat untuk pembuat kebijakan.

Pada kesempatan ini, Kepala Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Ir. Doddy Izwardy, M.A. menuturkan bahwa ada beban ganda di sektor kesehatan akibat dampak langsung dan tidak langsung yang dipengaruhi determinan lingkungan, sosial, dan kesehatan masyarakat. Menurut Doddy buku ini membahas pengaruh faktor iklim terhadap enam penyakit yang menjadi prioritas kajian, yaitu malaria, dengue, pneumonia, ISPA, tuberculosis, diare, dan gizi balita.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak antara dua benua Asia dan Autralia serta dua samudera yaitu Pasifik dan Atlantik. Iklim di wilayah Indonesia mempunyai karakteristik sendiri, sehingga tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan, temperatur dan kelembaban yang sama. Perubahan iklim ini cenderung menimbulkan bencana dan penyakit khas tropis.

Beberapa penyakit terkait perubahan iklim semakin meningkat. Pemerintah telah berupaya mengintegrasikan perubahan iklim kedalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan, akan tetapi belum memberikan hasil yang optimal. Untuk menentukan strategi dan arah kebijakan adaptasi dampak perubahan iklim bidang kesehatan, diperlukan data dan informasi berbasis bukti.

Buku yang berisi data dan informasi hasil analisis berbagai penyakit terkait dampak perubahan iklim dalam kurun waktu 10 tahun. Data dan informasi dapat digunakan sebagai data dasar/basedline para pengambil keputusan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam menetapkan adaptasi perubahan iklim bidang kesehatan. Buku ini merupakan hasil kolaborasi anatar Badan Litbang Kesehatan dengan UNICEF.

Perubahan iklim dapat berdampak pada sosial, ekonomi, kesehatan yaitu pola epidemi, penyakit tular vektor dan zoonozis, Demam Berdarah, Malaria, Leptospirosis dan penyakit lain.  Dengan adanya buku yang diluncurkan ini, akan menjadi bahan penting dalam membuat kebijakan dalam mengoptimalkan, meminimalisir dampak dari perubahan ini. Menjadi salah satu upaya mempercepat penca[aian SDGs dalam sektor kesehatan dan yang lain. Diharapkan buku ini dapat dimanfaatkan, khusunya untuk para pembuat kebijakan, bahan kajian lebih lanjut dan menghasilkan kajian yang sangat bermanfaat untuk membuat kebijakan dalam sektor kesehatan dan sektor lain.

Hadir pula Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dan Direktur Pencegahan dan Direktur Kesehatan Lingkungan, drg. R. Vensya Sitohang, M. Epid.  Nadia menanggapi bahwa hubungan antara penyakit dan lingkungan belum banyak digali. Apakah ada dampak yang berisiko dan membutuhkan intervensi khusus, terkait data iklim dan kasus Demam Berdarah. Daerah mana yang perlu diatasi agar kasus tidak meningkat. Perubahan iklim menguntungkan bagi suatu negara tetapi di negara yang lain lebih banyak menimbulkan bencana dan masalah kesehatan. Perubahan iklim tidak bisa diatasi oleh perorangan atau per sektor, tetapi harus dilaksanakan secara terpadu melalui sistem informasi yang berkesinambungan dan akurat. Buku yang diluncurkan mengingatkan bahwa data empiris yang dimiliki Kementerian Kesehatan atau lintas sektor, seperti BMKG, bisa memberikan informasi yang akurat untuk melakukan intervensi, mengendalikan, menangani penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan dan iklim. (EM)