Curcumin, Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Covid-19

9289

Oleh Yuli Widiyastuti, dkk*

Sejak akhir tahun 2019 dunia diguncang dengan munculnya penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari jenis Corona. Belakangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan nama virus itu dengan SARS-Cov-2 dan Covid-19 untuk penyakitnya. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini kemudian menyebar ke berbagai negara, dan oleh WHO telah ditetapkan sebagai pandemi.

Diumumkannya Covid-19 masuk di Indonesia pada 2 Maret 2020, masyarakat mulai mencari upaya kesehatan dengan memanfaatkan ramuan tradisional. Masyarakat menggunakan jamu, khususnya empon-empon untuk meningkatkan daya tahan tubuh, khususnya kunyit, temulawak dan jahe. Bahan tersebut kemudian menjadi langka serta mendorong kenaikan harga akibat minimnya suplai.

Namun pada pertengahan Maret lalu, melalui akun media sosial Instagram, seorang ilmuwan dari Fakultas Biologi Intitut Teknologi Bandung menyatakan bahwa berdasarkan kajian dari artikel yang terbit di sebuah jurnal ilmiah, konsumsi kunyit dan temulawak akan meningkatkan suseptibilitas tubuh terhadap Covid-19. Curcumin dalam rimpang kunyit dan temulawak disebutkan mampu meningkatkan ekspresi enzim ACE2 (Angiotensin-converting-enzyme2) yang merupakan reseptor dari Covid-19.

Curcumin adalah senyawa tunggal termasuk golongan polifenol yang merupakan hasil isolasi dari rimpang empon-empon. Sebagai senyawa tunggal tentu tidak bisa disetarakan dengan minum rebusan kunyit dan temulawak. Pada rebusan kunyit dan temulawak masih mengandung puluhan bahkan ratusan senyawa kimia dengan efek yang sangat beragam, tak hanya polifenol dan polisakarida, ada juga flavonoida dan alkaloida. Sejak ditemukan lebih dari 200 tahun yang lalu, curcumin juga telah diteliti di seluruh dunia. Berbagai penelitian menunjukkan curcumin memiliki bermacam khasiat mulai dari antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, antikanker, penurun gula darah dan juga sebagai immunomodulator.

Dalam sistem enzim renin-angiotensin, ACE2 berperan sebagai regulator negatif sehingga mampu menjaga fungsi kardiovaskular, ginjal, paru, fertilitas, dan usus. Penelitian menunjukkan enzim ACE2 merupakan reseptor atau pintu masuk SARS-Cov-2. Hal ini sempat membuat khawatir pengguna obat kardiovaskular yang termasuk dalam golongan penghambat enzim ACE (ACE inhibitors, ACEis) dan penghambat reseptor (angiotensin reseptor blockers, ARBs). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kedua jenis obat tersebut akan menyebabkan peningkatan kadar enzim ACE2. Asosiasi profesional di berbagai negara memberikan respon bahwa bukti klinis yang mendukung kaitan peningkatan ACE2 dengan pandemi COVID-19 belum cukup kuat, sehingga pasien covid-19 yang juga mendapatkan pengobatan dengan obat-obat golongan ACEis dan ARBs tidak perlu menghentikan penggunaan obatnya.

Hal yang mirip terjadi, dengan kekhawatiran penggunaan kunyit dan temulawak yang mengandung senyawa aktif curcumin. Hasil penelitian Pang dkk., 2015, menunjukkan curcumin menjaga fungsi hati dengan menghambat fibrosis miokardial melalui modulasi sistem enzim renin-angiotensin dan meningkatkan ekspresi ACE2 pada hewan coba Tikus dan disimpulkan bahwa curcumin berpotensi sebagai senyawa terapi yang dapat mengobati pasien gagal jantung akibat fibrosis yang tidak toleran terhadap terapi obat ACEis. Seperti halnya kasus penggunaan obat ACEis dan ARBS pada pasien yang terpapar Covid-19, belum ada bukti klinis yang cukup kuat yang menyatakan bahwa curcumin juga dapat meningkatkan resiko infeksi Covid-19. Berdasarkan hasil penelitian Hoffmann dkk., 2020, infeksi virus SARS-CoV-2 tidak hanya bergantung pada pengikatan protein S virus dengan ACE2 tetapi juga pada protein S priming oleh protease sel inang yaitu serine protease TMPRSS2. Penelitian tersebut juga mengungkapkan kesamaan penting antara infeksi SARS-CoV-2 dan SARS-CoV, serta mengidentifikasi target potensial untuk intervensi antivirus. Pernyataan curcumin menyebabkan peningkatan reseptor Covid-19 kontradiktif dengan banyak riset terkait manfaat klinis kunyit dan temulawak sebagai bahan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Di sisi lain, hasil riset Bioinformatika yang dirilis Maret 2020 menggunakan metode pemodelan bioinformatika (moleculer docking), curcumin mampu berikatan dengan reseptor protein SARS-CoV 2 yaitu melalui ikatan dengan domain protease (6Lu7) dan spike glikoprotein. Ikatan ini berpotensi untuk menghambat aktivitas Covid-19. Selain itu curcumin diketahui menghambat pelepasan senyawa tubuh penyebab peradangan atau sitokin proinflamasi seperti interleukin-1, interleukin-6 dan tumor necrosis factor-α. Pelepasan sitokin dalam jumlah banyak, disebut badai sitokin yang dapat menumpuk pada organ paru-paru kemudian menimbulkan sesak. Dengan terhambatnya pengeluaran sitokin, maka tidak akan terjadi badai sitokin yang berdampak pada gangguan pernafasan. Mekanisme ini menjelaskan peran curcumin dalam mencegah terjadinya badai sitokin pada infeksi virus (Sordillo and Helson, 2015). Curcumin juga memiliki efek menghambat proses pertumbuhan virus, baik secara langsung dengan cara merusak fisik virus maupun melalui penekanan jalur pensinyalan seluler yang penting dalam proses replikasi virus. (Mathieu and Hsu, 2018).

Curcumin merupakan senyawa golongan polifenol yang merupakan senyawa utama rimpang kunyit dan temulawak. Curcumin juga terkandung dalam rimpang beberapa spesies Curcuma dari family Zingiberaceae. Kunyit dan temulawak merupakan tanaman obat yang sangat umum dikenal masyarakat Indonesia dan menjadi bahan minuman kesehatan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2012, 2015 dan 2017, kunyit dan temulawak masuk dalam 10 jenis tanaman obat yang paling banyak digunakan oleh pengobat tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Kunyit dan temulawak secara ilmiah sudah diteliti baik secara in vitro maupun in vivo pada tahap pra klinik serta riset klinik dan terbukti memiliki banyak manfaat terhadap kesehatan (Cundell and Wilkinson, 2014).

Di Amerika Serikat, kunyit telah diakui aman (Generally Recognized as Safe) sebagai aditif makanan oleh FDA (US FDA, 2013). Efek samping yang serius pada manusia yang menggunakan curcumin dosis tinggi belum pernah dilaporkan. Percobaan peningkatan dosis oral tunggal curcumin hingga 12 g/hari yang diberikan pada 24 orang dewasa dinyatakan aman, terjadinya efek samping, termasuk diare, sakit kepala, ruam, tinja kuning, tidak terkait dengan dosis (Lao et al., 2006). Dalam uji klinik fase I di Taiwan, suplementasi curcumin hingga 8 g/ hari selama tiga bulan dilaporkan dapat ditoleransi dengan baik pada pasien dengan kondisi prakanker atau kanker noninvasif (Cheng et al., 2001).

Percobaan klinis lain di Inggris menemukan bahwa suplementasi curcumin mulai dari 0,45 hingga 3,6 g/hari selama empat bulan umumnya ditoleransi dengan baik oleh orang-orang dengan kanker kolorektal lanjut, walaupun dilaporkan ada dua partisipan mengalami diare dan mual (Sharma et al., 2004).

Penggunaan curcumin sebagai senyawa tunggal tentu berbeda dengan penelitian penggunaan kunyit atau temulawak sebagai bahan herbal atau jamu. Dalam saintifikasi jamu dan di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, temulawak, kunyit, dan meniran merupakan tanaman obat yang mampu meningkatkan kebugaran.

Pada uji klinik pre post pada tahun 2017 dengan formula jamu temulawak, kunyit, dan meniran terbukti dapat membantu meningkatkan kebugaran kadiovaskuler, dapat meningkatkan kualitas hidup subyek terutama untuk dimensi peranan fisik dan nyeri. Formula jamu temulawak, kunyit, dan meniran aman terhadap profil darah, hati dan ginjal.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kunyit dan temulawak akan meningkatkan suseptibilitas terhadap Covid-19 sama sekali belum berdasarkan kajian ilmiah yang menyeluruh. Penggunaan kunyit dan temulawak dalam ranah preventif untuk mencegah terjangkitnya covid-19 justru sangat relevan berdasarkan pada beberapa penelitian pra klinik dan klinik dari curcumin yang terbukti memiliki efek immunomodulator. Untuk itu masyarakat dapat melanjutkan konsumsi rebusan kunyit dan temulawak untuk menjaga kesehatan, seperti yang telah dicontohkan oleh pimpinan Negara Bapak Joko Widodo yang kesehariannya sangat akrab dengan minuman ini.

*Yuli Widyastuti adalah Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu.
Referensi ada pada penulis.