Cegah Stunting Itu Penting

1274

Jakarta – Saat ini Indonesia sedang berjuang menanggulangi masalah stunting. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 30,8%, masih diatas target yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting sebesar 19% pada tahun 2024. 

“Secara sederhana stunting adalah pertumbuhan tinggi badan yang melambat. Balita dikatakan stunting apabila tingginya lebih pendek daripada teman sebayanya.”, terang Kepala Badan Litbangkes, Siswanto dalam program News Line Plus Metro TV yang disiarkan secara langsung pada Kamis (17/10). 

Lebih lanjut Siswanto menjelaskan bahwa ada standar tinggi badan menurut umur yang dikeluarkan WHO yang disebut dengan satuan standar deviasi. Jika tinggi badan anak dibawah minus tiga dibanding standar deviasi dinyatakan sangat pendek, antara minus tiga sampai dengan minus dua dinyatakan pendek atau stunting. 

Stunting adalah masalah kronis yang terjadi sejak masa kehamilan sampai anak berusia dibawah dua tahun. Banyak hal yang mempengaruhi stunting, diantaranya tingkat pendidikan ibu, stimulasi dan pola asuh pada anak. Faktor lainnya adalah spesifik kesehatan seperti imunisasi, program tambahan ibu hamil, dan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu. Ada juga faktor lainnya yang termasuk intervensi sensitif yang dilakukan melalui penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi, dan kegiatan penanggulangan kemiskinan. 

Elan juga menuturkan pentingnya pencegahan stunting dimulai pada masa remaja. “Menangani remaja penting sekali, yaitu dengan memberi pengetahuan dan pemahaman mengenai diet, gaya hidup atau kesehatan reproduksi. Supaya ketika mereka menikah dan hamil sudah siap. 

Pada kesempatan ini Koordinator Pokja Kebijakan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Elan Satriawan mengatakan pentingnya periode 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk percepatan penurunan stunting. Periode ini adalah periode emas yang menentukan anak akan stunting atau tidak. Yang harus dipastikan adalah kecukupan asupan ibu hamil yang akan diterima janin. Kecukupan asupan ini perlu dipastikan juga diterima oleh anak yang baru lahir sampai dengan usia dua tahun. 

Menutup perbincangan Siswanto menyatakan stunting harus segera ditangani agar tidak berdampak buruk,baik bagi anak yang mengalami stunting maupun bagi negara. Stunting akan berdampak bagi anak berupa gangguan kognitif dan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Sementara bagi negara, stunting dapat menyebabkan kerugian ekonomi sebesar dua persen dari Gross Domestic Product (GDP) atau sebesar  300 sampai dengan 400 triliun per tahun.(DW)