Capaian Kinerja dan Inovasi Balitbangkes

Telah banyak capaian kinerja Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbang Kesehatan) Kementerian Kesehatan RI dalam mendukung reformasi birokrasi (RB). Salah satunya penyediaan data penelitian di bidang kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh stakeholders untuk bahan kebijakan pembangunan kesehatan maupun pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat.

Capaian kinerja Badan Litbang Kesehatan mulai tahun 2015 hingga 2018 yaitu:

1. Riset Skala Nasional (Riskesnas)
Pada tahun 2015 Badan Litbang Kesehatan Riset Analisis Cemaran Kimia pada Makanan (ACKM). Riset ini bertujuan untuk mendapatkan data paparan kimia berbahaya dari makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Sampel riset ini adalah food list 95% dari total diet masyarakat di Indonesia yang diambil sampelnya di 15 propinsi (Aceh, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, NTT, Maluku dan Papua Barat). Kelompok analit yang diperiksa pada Riset ACKM adalah pestisida, logam berat, mikotoksin, mineral dan Bahan Tambahan Pangan.

Selain itu ada juga Ristoja (Riset Tanaman Obat dan Jamu) yang dilaksanakan sejak tahun 2012. Ristoja menghasilkan data jenis tumbuhan obat, ramuan obat tradisional yang digunakan serta pengetahuan lokal etnomedisin di seluruh etnis Indonesia.

Sementara itu, terkait dengan budaya kesehatan di berbagai suku di Indonesia, Badan Litbangkes juga telah menyelenggarakan Riset Etnografi Kesehatan sejak tahun 2012. Riset Etnografi Kesehatan digunakan sebagai pintu masuk untuk mengubah perilaku masyarakat, khususnya yang terkait dengan kesehatan.

Riset Kesehatan Nasional yang dilakukan pada tahun 2016 adalah Survey Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas), Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Riset Khusus Vektor dan Reservoir (Rikhus Vektora). Riset Kesehatan Nasional yang dilakukan pada tahun 2017 adalah Riset Ketenagaan di bidang Kesehatan (Risnakes) dan lanjutan Riset Khusus Vektor dan Reservoar (Rikhus Vektora) di 7 provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Riau, Jambi, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Bali, Sulawesi Selatan, Papua Barat.

Pada tahun 2018 Badan Litbang Kesehatan mengadakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan penelitian berbasis komunitas yang diselenggarakan oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI setiap 5 (lima) tahun sekali yang bertujuan memberikan informasi kesehatan yang dapat menggambarkan capaian pelaksanaan program. Riskesdas Tahun 2018 merupakan Riskesdas yang ke-4 setelah Riskesdas tahun 2007, Riskesdas tahun 2010, dan Riskesdas tahun 2013. Riskesdas tahun 2018 dilaksanakan terintegrasi dengan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2018.

Riset kesehatan nasional dilakukan bekerja sama dengan Lembaga internasional seperti WHO, UNICEF, USAID, AUSAID, TB Alliance, JICA, US-CDC, Global Fund, dan stakeholder terkait seperti BPS (Badan Pusat Statistik), Bappenas, Kantor Staf Presiden, TNP2K, Kemenkeu, KLHK, KemenPAN-RB, Kemenhan, Kemenristekdikti, LIPI, Kementan, Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan, Poltekkes, Balitbangda, Perguruan Tinggi, RUmah Sakit, Lembaga Penelitian, dunia usaha dan Jejaring Riset seperti Jejaring Farmasi, Jejaring Laboratorium, Jejaring Riset Klinis mulai dari perencanaan sampai ke pemanfaatan hasil.

Dalam merencanakan dan merancang sebuah penelitian mengacu pada RIRN (Rencana Induk Riset Nasional) Tahun 2017-2045, RPJMN 2015-2019, Renstra, Agenda Riset dan kebutuhan program (Client Oriented Research Acitivity) yang didistribusikan kepada peneliti melalui penetapan kinerja peneliti. Secara substansi pelaksanaan Riset Nasional dilakukan pemantauan secara rutin oleh tim teknis, korwil, dan validator yang independen, sedangkan monitoring dan evaluasi manajemen dilakukan 3 bulan sekali mencakup kinerja dan anggaran (e-monev).

2. Pemanfaatan Data Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan

Badan Litbang Kesehatan telah menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan yang kemudian diadvokasikan dalam forum atau pertemuan kepada pengelola program dan atau pemangku kepentingan. Dari target indikator yang ditetapkan telah terealisasikan bahkan ada yang melebihi target. Rekomendasi kebijakan disampaikan dalam bentuk policy brief/policy paper.

Setiap tahun Badan Litbangkes menyiapkan 24 Rekomendasi Kebijakan yang diadvokasikan kepada stake holder. Artinya dalam kurun waktu 2015 hingga saat ini telah menghasilkan kurang lebih 117 yang telah diadvokasikan baik kepada Menteri Kesehatan dan penanggung jawab program di Kemenkes, serta lintas sektor.

Badan Litbangkes berperan dalam perencanaan anggaran pembangunan kesehatan dan intervensi program, penyusunan RPJMN 2020-2024, , penanggulangan masalah gizi, penempatan Nusantara Sehat berbasis tim, Monitoring Evaluasi Pelaksanaan Program Nusantara Sehat, penetapan 100 kabupaten/kota lokus penanganan stunting, perbaikan program TB, penyusunan peta jalan eradikasi schistosomiasis, serta konfirmasi surveilans penyakit potensi wabah.

Laboratorium Nasional Badan Litbangkes telah menjadi rujukan nasional dan terakreditasi internasional untuk memeriksa kasus–kasus penyakit infeksi emerging.  Hasil pemeriksaan dan pengembangan materi genetik dimanfaatkan untuk pengembangan vaksin strain Indonesia seperti vaksin flu burung, vaksin dengue. Pengembangan vaksin dengue sudah mendapatkan empat prototipe seed vaksin yang telah diserahkan ke PT. Biofarma.  Hasil karakterisasi virus Indonesia menjadi pertimbangan untuk pemilihan vaksin influenza musiman dunia. Fasilitas Laboratorium Badan Litbangkes menjadi tempat penelitian dari universitas seperti penelitian sel punca dan penelitian yang menggunakan hewan coba. Hasil pengembangan obat malaria dehidroartemisinin (DHA) akan dikembangkan menjadi industri obat oleh PT. Indofarma. Penelitian kemandirian bahan baku ekstrak gambir sebagai obat dislipidemia, sampai dengan saat ini telah dilakukan uji klinik sampai fase 3.

Riset Griya Sehat mengeluarkan masukan kebijakan standar untuk griya sehat tempat praktek tenaga kesehatan tradisional dan telah digunakan di Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional, Telah dihasilkan indicator pelayanan kesehatan primer Puskesmas yang digunakan oleh Direktorat Mutu. Riset Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) untuk perbaikan implementasi Program Indonesia Sehat dengan kegiatan antara lain pelatihan, penetapan indikator dan implementasinya. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, 2013, dan 2018 telah digunakan sebagai Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) sebagai dasar perencanaan pembangunan kesehatan tingkat provinsi/kabupaten/kota, penetapan prioritas pembangunan kesehatan, serta bahan penetapan kriteria penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat ke daerah atau dari provinsi ke kabupaten/kota.

3. Kekayaan Intelektual (KI)
Sejak tahun 2015 hingga tahun 2019 telah dihasilkan sebanyak 40 KI yang telah didaftarkan Sentra KI ke Direktorat Jenderal HKI Kementerian Hukum dan HAM.

Daftar paten dan hak cipta Badan Litbangkes dapat diunduh disini.

4. Jurnal terkreditasi
Tahun 2015, terakreditasinya Jurnal ilmiah Balaba di satker Balai Banjarnegara yang menambah jumlah jurnal terakreditasi di Badan Litbang Kesehatan, serta reakreditasi jurnal ilmiah dan laboratorium di beberapa satker. Kemudian tahun 2018 telah terakreditasi Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan (PGM); “Most Progressive” Kategori Satuan Kerja Kementerian Kesehatan dan akreditasi Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia sesuai Keputusan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek Dikti . Selain itu, diperolehnya sertifikat reakreditasi Jurnal Vektora dari LIPI Tahun 2018 dan sertifikat akreditasi Jurnal Vektora oleh Kemenristekdikti.

5. Satker Predikat Bebas Korupsi
Satker Balai Donggala meraih predikat Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi Balai Litbang P2B2 Donggala berhasil menjadi satu-satunya satker di lingkungan Badan Litbang Kesehatan yang menyandang predikat Wilayah

Bebas Korupsi (WBK) pada tahun 2015 bersama 7 satuan kerja lainnya di lingkungan Kemenkes RI. Kemudian pada tahun 2016 menyusul Balai Litbang P2B2 Banjarnegara berhasil meraih menyandang predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK)

6. Penyebarluasan Hasil Litbang Kesehatan
Penyebarluasan hasil litbangkes tidak hanya disampaikan dalam kalangan terbatas atau dalam ruang diseminasi. Namun dilakukan dalam media dan forum yang lebih luas dan mudah dijangkau masyarakat, seperti pameran. Pameran yang rutin diikuti adalah pameran yang diadakan dalam forum Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) dan Hari Kesehatan Nasional (HKN) serta RITECH EXPO, Sail Komodo (2013) serta Sail Sabang (2017).
Dalam pengelolaan informasi ilmiah hasil Litbangkes menjadi informasi populer, dilakukan bersama dengan humas unit utama, dan unit – unit utama di luar Badan Litbangkes lainnya.

7. Inovasi Pengembangan Aplikasi
Untuk memudahkan akses, proses dan monev terkait dengan manajemen dan penelitian, Badan Litbangkes telah mengembangkan beberapa aplikasi, antara lain :

8. Kerjasama dan Jejaring

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan Pasal 680 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan tata Kerja Kementerian Kesehatan, Subbagian Hukum Sekretariat Badan Litbangkes telah melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum Of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja sama/Agreement dengan berbagai mitra baik dalam maupun  luar negeri.

Capaian kerja sama dalam negeri sejak tahun 2009 hingga tahun 2019 telah dilaksanakan penandatanganan dokumen kerja sama dalam bentuk Nota Kesepahaman/MoU dengan mitra: 62 Universitas, 25 Pemerintah Daerah, 14 Industri baik BUMN maupun swasta, 13 Kementerian/Lembaga, 8 Organisasi Profesi dan 1 Rumah Sakit; sedangkan penandatanganan dokumen kerja sama dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra: 40 Universitas, 15 Pemerintah Daerah, 11 Industri baik BUMN maupun swasta, 23 Kementerian/Lembaga, 13 Organisasi Profesi dan 4 Rumah sakit. Capaian kerja sama luar negeri sampai saat ini telah menghasilkan 5 Dokumen Agreement antara lain dengan United State Agency for International Development Mission to Indonesia (USAID), The National Institutes Of Health Of The Departement Of Health And Human Services Of The United States Of America, The Global Alliance For TB Drug Development, The University of Rhode Island (URI) dan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA). Sedangkan untuk dokumen agreement yang masih dalam proses kesepakatan sebanyak 6 mitra, yaitu : University of Liverpool dan University of Manchester, Leprosy Research Intiative (LRI), The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), The University Of New South Wales Australia dan Genome Institute of Singapore (GIS).

9. Inovasi dan Penghargaan
Badan Litbangkes telah menghasilkan banyak inovasi dan penghargaan. Informasi lengkapnya dapat diunduh disini.