Beban Ganda Penyakit Mengancam Indonesia

393
Badan Litbangkes mengadakan Riset Kohor Penyakit Tidak Menular (PTM) untuk memantau perkembangan dan kejadian PTM pada subjek penelitian di Kota Bogor

Saat ini Indonesia tengah menghadapi transisi demografi dan epidemiologi. Transisi demografi yang terjadi menjadikan penduduk Asia Tenggara termasuk Indonesia di kelompok usia produktif akan mencapai 70 persen lebih besar dibandingkan penduduk usia lanjut. Hal itu diperkirakan terjadi pada tahun 2020-2030.

Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan memproyeksikan pada periode 2010-2035 Indonesia berada dalam periode bonus demografi. Kondisi saat jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dibanding penduduk usia non produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun).

Transisi demografi tentunya memberikan keuntungan dalam persaingan global bagi Indonesia. Namun disisi lain, Indonesia juga tengah menghadapi transisi epidemiologi yang mengakibatkan pergeseran beban penyakit dari penyakit menular (PM) ke penyakit tidak menular (PTM). Perubahan ini menjadikan PTM meningkat signifikan dan menjadi faktor penyebab utama kematian di Indonesia. Padahal PM belum sepenuhnya bisa diatasi dan diselesaikan. Bahkan masih menjadi momok yang menakutkan, khususnya penyakit HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Hal ini menjadikan Indonesia alami ancaman beban ganda penyakit.

Hasil riset Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia Tahun 2017 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) bekerjasama dengan Institute For Health Metrics and Evaluation (IHME) mencatat telah terjadi transisi epidemiologi PM ke PTM dari tahun 1990 menuju tahun 2017. Pada tahun 1990 penyakit terbesar adalah penyakit menular/kia/gizi sebesar 51.30%, diikuti penyakit tidak menular (39.8%) dan cedera (8.9%). Namun di tahun 2017 penyakit terbesar adalah penyakit tidak menular sebesar 69.9% diikuti penyakit menular/kia/gizi (23.6%) dan cedera (6.5%).

Selain itu terjadi perubahan peringkat beban penyakit dari tahun 1990 ke tahun 2017. Pada tahun 2017, hampir seluruh penyakit tidak menular mengalami peningkatan peringkat apabila dibandingkan dengan tahun 1990. Yang perlu diwaspadai tentunya adanya DALY Lost (DALYs) atau disability adjusted life year. DALYs  merupakan jumlah tahun yang hilang untuk hidup sehat karena kematian dini, penyakit atau disabilitas. Kewaspadaan ini diperlukan agar harapannya terjadi peningkatan healthy life expectancy (HALE) bagi penduduk Indonesia yaitu harapan seseorang untuk hidup dalam kondisi sehat sepenuhnya.

Hasil riset ini juga mencatat penyebab utama tahun yang hilang akibat beban penyakit pada tahun 1990 adalah neonatal disorders, lower respiratory infection, diarrheal disease, tuberculosis dan stroke. Pada tahun 2017, lima penyebab utama beban penyakit disebabkan stroke, ischemic hearth disease, diabetes, neonatal disorders dan tuberkulosis.

Stroke mengalami peningkatan dari peringkat kelima pada tahun 1990 menjadi peringkat pertama pada tahun 2017, dengan peningkatan sebesar 93,4%. Perlu diwaspadai tahun yang hilang akibat beban penyakit yang meningkat cukup tajam dari tahun 1990 ke tahun 2017 akibat diabetes (157,1%), ischemic heart disease/IHD (113,9%) dan lung cancer (113,1%).

Proporsi penyakit berdasarkan kelompok umur menunjukkan perbedaan. Pada kelompok umur 0-5 hari sampai dengan balita proporsi terbesar beban penyakit disebabkan oleh kelompok penyakit menular, KIA dan gizi. Sedangkan pada kelompok usia lebih dari 5 tahun proporsi terbesar beban penyakit disebabkan oleh kelompok penyakit tidak menular, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia 55-59 tahun. Proporsi kelompok injuries terbesar pada kelompok umur 15-19 tahun dan 20 – 24 tahun.

Terdapat 5 penyebab penyakit yang menunjukkan peningkatan beban penyakit yaitu stroke, IHD, diabetes, low back pain dan COPD dengan peningkatan antara 15%-25%, kecuali diabetes peningkatan lebih dari 50%. Tetapi terdapat 5 penyebab penyakit yang menunjukkan penurunan beban penyakit antara 25%- 35% yaitu neonatal disorders, tuberkulosis dan diarrheal diseases, kecuali cirrhosis menunjukkan penurunan sekitar 2%.

Beban penyakit menular di Indonesia berdasarkan riset ini mengalami penurunan di periode 1990 sampai 2017. Berdasarkan jenis kelamin, beban laki- laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan penyebab utama karena tuberkulosis, diare dan penyakit infeksi saluran nafas bawah. Provinsi dengan beban tertinggi penyakit akibat tuberkulosis di Indonesia tahun 2017 adalah Provinsi Maluku dan beban terendah di provinsi Kalimantan Utara.

Beban penyakit akibat diare di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2017 tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan terendah di provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan beban akibat malaria di Indonesia terdapat di Provinsi Gorontalo dan beban terendah di provinsi Kalimantan Utara. Diantara kelompok penyakit menular, beban penyakit akibat HIV merupakan yang paling tinggi kenaikannya dari tahun 1990 sampai 2017 yaitu sebesar 21.15%.

Untuk peringkat teratas beban penyakit/DALYs di 34 provinsi di Indonesia tahun 2017 sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular seperti stroke, ischemic heart disease, dan diabetes. Kemudian beban pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Tiga peringkat tertinggi beban penyakit stroke ada di provinsi Yogjakarta, Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan dengan peringkat beban penyakit stroke terendah di Kalimantan Utara. Kemudian tahun yang hilang karena beban penyakit akibat ischemic heart disease (IHD) di Indonesia berdasarkan provinsi pada tahun 2017 tertinggi di Provinsi Yogjakarta dan beban terendah di provinsi Kalimantan Utara. Beban penyakit atau DALYs  akibat Diabetes Mellitus (DM) berdasarkan provinsi di Indonesia tahun 2017 tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara dan beban terendah terdapat di provinsi NTT.  

Beban untuk faktor resiko di 34 provinsi di Indonesia tahun 2017 tertinggi disebabkan oleh dietary risk, kadar gula darah puasa yang tinggi, tekanan darah tinggi, malnutrisi dan tobacco.

Pada kelompok laki-laki peringkat teratas untuk DALYs faktor resiko adalah tobacco, kemudian diikuti oleh dietary risk, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah puasa yang tinggi. Sedangkan pada perempuan peringkat teratas DALYs faktor resiko adalah kadar gula darah puasa yang tinggi, kemudian diikuti oleh tekanan darah tinggi, dietary risk dan paling rendah tobacco. (ed/ali)

Sumber: Tety Rachmawaty dkk, Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Tahun 2017