Air, Sanitasi, dan Higiene yang Layak di Puskesmas Hindarkan Berbagai Penyakit

111

Hingga kini Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan kesehatan. Terlebih saat ini Indonesia tengah berjuang menanggulangi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Tantangan pembangunan kesehatan terus meningkat. Dengan berbagai tantangan tersebut, peran pelayanan kesehatan dasar dan keberadaan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) sangat penting. Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan terdepan dan ujung tombak penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar di tingkat masyarakat.

Fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) seperti Puskesmas memiliki peranan penting untuk masyarakat sebagai pusat pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Namun, tidak dapat dihindari bahwa fasyankes juga memiliki potensi sebagai sumber infeksi dan penyebaran penyakit pada masyarakat jika tidak dilengkapi dengan sarana Air, Sanitasi, dan Higiene yang layak. Tidak tersedianya sarana Air, Sanitasi, dan Higiene yang layak di fasyankes seringkali dihubungkan dengan penyebaran healthcare associated infections (HAIs).

Ketersediaan sarana air, sanitasi dan kebersihan atau dikenal secara global dengan istilah Water, Sanitation, Hygiene (WASH) merupakan aspek pendukung utama dari pelayanan kesehatan yaitu aspek kualitas, keadilan dan martabat bagi semua orang. Sarana sumber air  dan sanitasi yang layak, sarana cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, pengolahan limbah medis, pengelolaan kebersihan, merupakan sarana-sarana yang penting dan harus tersedia di Puskesmas untuk menghindari berbagai penyakit termasuk Covid-19 yang telah menjadi pandemi saat ini.

Menjawab tantangan ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan dukungan teknis dari UNICEF Indonesia, WHO Indonesia, dan SNV Indonesia telah menyusun buku Profil Ketersediaan Sarana Air, Sanitasi dan Higiene di Puskesmas Tahun 2020. Buku yang telah diluncurkan pada 17 Desember 2020 di Jakarta ini berisi data dan informasi status pencapaian indikator-indikator akses air, sanitasi, dan kebersihan di seluruh Puskesmas di Indonesia.

Joko Irianto, ketua pelaksana penulisan buku mengatakan, buku profil ini ditulis berdasarkan sumber data dari riset fasilitas kesehatan tahun 2019. Dari data tersebut diananalis lebih lanjut untuk menggambarkan situasi fasilitas ketersediaan sarana air, sanitasi, dan higiene Puskesmas di tingkat nasional maupun propinsi.

Adapun beberapa fakta penting diungkapkan dalam buku ini. Secara nasional terdapat 4 dari 5 Puskesmas telah memiliki layanan air dasar, bahkan 1 dari 5 Puskesmas telah memiliki layanan air paripurna. Artinya, Puskemas tersebut telah memenuhi peraturan baku mutu kualitas air bersih secara fisik, kimia, dan mikrobiolog. Namun masih terdapat 1 dari 7 Puskesmas yang tidak memiliki akses sumber air yang layak. 

Selain itu sebesar 74% Puskesmas memiliki akses terhadap sarana sanitasi dasar. Ini menunjukkan masih terdapat 1 dari 4 Puskemas yang tidak memiliki sarana sanitasi yang layak. Bahkan masih ada sekitar 80 Puskesmas yang tidak memiliki sarana sanitasi.

Hampir seluruh Puskesmas atau 99,29% Puskesmas memiliki sarana cuci tangan, namun tidak terdapat data apakah sarana cuci tangan di Puskesmas yang berjarak kurang dari 5 meter dari toilet. Akibatnya tidak dapat diketahui proporsi Puskesmas yang memiliki akses kebersihan tangan dasar.

Ditemukan data sekitar 46% Puskesmas di Indonesia telah memiliki akses terhadap sarana pengelolaan sampah yang aman. Sisanya, 1 dari 2 Puskesmas belum memiliki sarana pengelolaan sampah yang aman. Bahkan masih ada sekitar 285 Puskesmas yang tidak memiliki sarana pengelolaan sampah yang aman.

Terdapat 51% Puskesmas di Indonesia telah memiliki akses terhadap pembersihan lingkungan dengan layanan dasar. Hal ini berarti 1 dari 2 Puskesmas belum memiliki akses pembersihan lingkungan yang layak. Bahkan 1 dari 5 Puskesmas yang tidak memiliki pedoman kebersihan dan tidak melakukan pelatihan kebersihan terhadap petugas. Kondisi ini tentunya memerlukan perhatian kita semua untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat serta layanan paripurna.

Buku ini disusun oleh para peneliti di Badan Litbangkes. Tim penyusun terdiri dari pengarah, yakni Doddy Izwardy, Sri Irianti, Harimat Hendarwan dan Bambang Setiaji. Dengan penulisnya adalah Joko Irianto, Andre Yunianto, Dwi Hapsari Tjandrarini, Ika Dharmayanti, Athena Anwar, Heny Lestary, Totih Ratna Sondari Setiadi, Zahra, Miko Hananto, Sendy Agita. Tak bergerak sendiri, penulisan buku juga mendapat dukungan teknis dari UNICEF Indonesia dengan tim Reza Hendrawan, Mitsunori Odagiri, dan Louise Desrainy Maryonoputri. (Ripsidasiona)