“Agent of Change” Balitbangkes harus menjadi Inisiator Perubahan

146

Bandung – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Siswanto mengatakan berbicara peningkatan kapasitas agent of change dalam kerangka reformasi birokrasi ada empat hal atau empat kata kunci yang harus diperhatikan. ini mengacu pada ilmu manajemen. Kepala Balitbangkes menyampaikan saat memberikan arahan dalam pertemuan Peningkatan Kapasitas Tim Reformasi Birokrasi (RB) dan Agent of Change (AoC) di lingkungan Balitbangkes (12/12/2019).

Menurut Siswanto, Pertama tentunya harus ada organisasinya dulu. Kedua adalah perubahan. Menurut Siswanto peserta sebagai agent of change harus menjadi inisiator perubahan. Ketiga adalah reformasi mental. Reformasi birokrasi diawali dari reformasi mental yang dilakukan individu-individu di dalam organisasi. Organisasi just a name. isinya adalah orang yang menghidupkan organisasi. Kata kunci terakhir adalah perform atau kinerja. Untuk itu Kepala Balitbangkes menekankan peserta untuk meningkatkan kinerja dari organisasi.

Ada 3 sasaran mencapai reformasi birokrasi. Tujuannya untuk memiliki pelayanan publik yang berkualitas melalui cara yaitu proses birokrasi harus bersih dan akuntabel serta birokrasi harus hemat namun tetap efektif dan efisien.  

Siswanto menjelaskan revolusi mental ada di tataran hati. Hati didalamnya terkandung seperangkat tata nilai atau value kemudian norma yang dipakai. Setelah itu adalah cara pandang dalam melihat sesuatu.  

Untuk melakukan pendekatan Innovation Leadership sudah dicontohkan oleh tokoh dari Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara yang mengajarkan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodo yaitu berdiri di depan dengan memberikan contoh. Kemudian prinsip Ing Madyo Mangun Karso (berada ditengah memberikan inspirasi dan motivasi) serta prinsip Tut Wuri Handayani atau berdiri di belakang memberikan dorongan.

Prinsip ini dipertajam dengan model pendekatan dari luar yaitu MICEE. Prinsip ini menurut Siswanto pernah dilakukan oleh Menteri Kabinet Indonesia Kerja Ignasius Jonan ketika melakukan pembenahan di PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Prinsip ini adalah Model the way (memberikan contoh), Inspired a shared vision (memberikan inspirasi untuk pencapaian visi), Challenge the process atau mempertanyakan proses bisnis yang ada dan memperbaikinya, Enable others to act yaitu mendorong pengikut untuk bertindak, serta Encourage the hearts yaitu mampu memberikan motivasi/menciptakan passion kepada pengikut.

Hal lain yang ditekankan Kepala Balitbangkes yaitu makna revolusi mental adalah ingin melahirkan suatu gerakan manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Jadi kata kunci untuk melahirkan revolusi mental adalah membangun integritas dan menurut Siswanto itu adanya di dalam hati. Selain itu membangun manusia yang mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong.

Sekretaris Balitbangkes Nana Mulyana saat memberikan sambutan dalam acara tersebut Rabu (11/12/2019) menyebutkan ada 2 tantangan yang mempengaruhi situasi dan kondisi Balitbangkes. Pertama, yaitu adanya revolusi industri 4.0 yang saat ini juga sudah mulai mengarah ke 5.0. “Ini menjadikan kita harus melek dengan teknologi yang cukup canggih”,  ungkapnya.  Salah satu yang terjadi kemungkinan rapat dan pertemuan tatap muka akan dilakukan terbatas dan digantikan dengan streaming.

Kedua, menyongsong generasi Indonesia Emas tahun 2045. Pemerintah saat ini berusaha agar generasi sumber daya manusia Indonesia unggul dan berkualitas. “Hal itu tidak akan terwujud tanpa adanya birokrasi yang berkualitas”, tegas Nana Mulyana.

Nana Mulyana menekankan kedepannya agar Balitbangkes dapat memberikan contoh dan terdepan dalam mengelola aset tak berwujud (ATB). Karena menurut Sekretaris Balitbangkes  ada dua institusi di Kementerian Kesehatan yang memiliki target mengelola ATB yaitu Balitbangkes dan Politeknik Kesehatan (Poltekkes). Aset tak berwujud inilah yang merupakan produk-produk Balitbangkes.

Acara diikuti seluruh tim Reformasi Birokrasi (RB) dan Agent of Change (AoC) di lingkungan Balitbangkes selama 3 hari dari Rabu hingga Jumat (11-13 Desember 2019). Acara berlangsung di Bandung menghadirkan narasumber Abraham Samad (mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Anhar Gonggong (sejarawan Indonesia). Acara diisi juga dengan diskusi kelompok menyusun rencana kerja tim RB dan rencana aksi AoC tahun 2020. (fachrudin ali ahmad)