10 Kasus Varian Baru COVID-19 B.1.1.7 ditemukan di Indonesia

326

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar Webinar Whole Genome Sequencing Surveilance Upaya mengidentifikasi Mutasi Virus SARS-Cov-2 di Indonesia Sabtu (24/4/2021). Dalam sambutannya, Kepala Badan Litbang Kesehatan Slamet berharap pelaksanaan webinar bisa berkontribusi dalam menangani kasus pandemi COVID-19 yang ada di Indonesia.

Mutasi virus SARS-CoV-2 menyebabkan munculnya varian virus yang terdeteksi sejak bulan Desember 2020. Vivi Setiawaty Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes menerangkan ada tiga varian mutasi yang perlu diperhatikan dan diwaspadai yaitu B.1.1.7 di Inggris, B.1.351 di Afrika Selatan dan P.1 di Brazil. Kewaspadaan terhadap mutasi virus disebabkan virus ini tidak bisa tertangkap dan bersembunyi dari antibodi yang ada di tubuh, penularan yang lebih cepat dan masif, bertambahnya keparahan penyakit dan tidak terdeteksi lagi dengan alat diagnostik (PCR) yang ada. “Ini yang menjadi sangat berbahaya sehingga harus dilakukan surveillance genome’, ungkap Vivi Setiawaty

Pertanggal 1 Maret 2021, dari total 462 kasus yang di sekuensing ditemukan dua kasus B.1.1.7. Dua kasus ini ditemukan dari pelaku perjalanan dari luar negeri yang datang ke Indonesia. Penemuan varian baru B.1.1.7 adalah hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan Badan Litbang Kesehatan. Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes mengungkap saat ini sedang dilakukan penelusuran kasus dan kontaknya untuk penyelidikan epidemiologi sebagai tindak lanjut ditemukannya varian B.1.1.7.

Kegiatan WGS ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan surveilan genom virus SARS-COV-2 yang telah dilakukan sejak virus ini masuk ke Indonesia. Data hasil pemeriksaan genom ini diunggah ke repositori Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Selain Balitbangkes lembaga lain yang melakukan pemeriksaan WGS adalah LBM Eijkman, Labkesda Jabar, LIPI, BPPT, UI, UGM, UNS, UIN Jakarta, UNPAD, ITB, UNAIR, UPN Veteran Jakarta, Universitas Tanjungpura, Universitas Hasanudin, dan Universitas Andalas. Hasil sekuensing sudah dipublikasikan di GISAID.

Hingga 23 April 2021 jumlah laboratorium yang tergabung dalam WGS sebanyak 17 laboratorium dengan hasil sekuensing yang sudah terdaftar sebanyak 1.191 sequences virus. Ada sepuluh kasus B.1.1.7 dan satu kasus B.1.525 yang ditemukan. Empat kasus penemuan varian virus B.1.1.7 berasal dari pekerja migran Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia dan Ghana, 2 kasus di Sumatera Utara, 1 kasus di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan, serta Jawa Barat sebanyak 2 kasus. Varian B.1.5.2.5 ditemukan dari PMI yang masuk ke Indonesia pada tanggal 20 Januari 2021 melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Pinang Batam.

Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengemukakan saat ini Indonesia sudah melaporkan beberapa kasus mutasi baru SARS-CoV-2. Perlu dilakukan penguatan deteksi untuk mencegah terjadinya penularan yang lebih cepat.

Beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu penemuan segera kasus mutasi baru SARS-CoV-2 melalui surveilans genomic, penguatan pelacakan kontak pada kasus mutasi baru SARS-CoV-2, dan keterlibatan aktif berbagai pihak terkait dalam pelaksanaan Genome Sequencing

“Pelacakan kontak merupakan kunci utama memutus rantai transmisi’, ungkap Plt. Dirjen P2P. Pelacakan Kontak merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencari dan memantau kontak erat dari kasus konfirmasi. Hal ini penting karena kasus konfirmasi dapat menularkan ke orang lain sejak 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari sejak timbul gejala.
(Fachrudin Ali Ahmad)

*Materi Webinar dapat diunduh di tautan berikut.